Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 14 Jan 2018 13:43 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Air Terjun Tersembunyi di Probolinggo

Derry N
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Air terjun triban yang bertingkat
Air terjun triban yang bertingkat
detikTravel Community - Minggu ini, traveler yang butuh petualangan, langsung saja meluncur ke Air Terjun Triban di Probolinggo. Air terjun tersembunyi ini sepi, bak milik pribadi!

Gumpalan-gumpalan awan putih yang menggantung di langit biru pada pagi hari yang cerah cukup membakar antusiasku untuk menjelajahi Kota Probolinggo. Dengan menggunakan sepeda motor dan mengandalkan Google Map, aku dan Yen berangkat dari homestay dengan tujuan Air Terjun Watu Lawang yang berjarak 23 kilometer dari kota.

Sesampainya di Jalan Raya Ngepung yang menjadi titik akhir kordinat yang tertera di Google Map cukup membuatku bingung untuk mencari keberadaan air terjun tersebut. Lalu ku hentikan sepeda motor tepat di depan salah satu warga yang sedang berdiri di tepi jalan sambil membawa cangkul, aku mencoba bertanya kepadanya tapi bapak tua itu tidak mengetahuinya, namun beliau mengarahkanku untuk ke air terjun Madakaripura.

Tidak mendapatkan jawaban yang kuinginkan, aku berlalu dari hadapannya dan kembali melajukan sepeda motor perlahan-lahan menanjak keatas sambil menoleh ke kanan-kiri mencari jalan masuk. Dikungkungi oleh keraguan yang menggeliat, dari belakang Yen menepuk-nepuk pundak lalu ku hentikan laju sepeda motor di tepi jalan.

Diam-diam, Yen browsing untuk mencari info keberadaan air terjun tersebut dan mendapatkan salah satu artikel yang berisikan tentang Air Terjun Watu Lawang. Lalu kubaca dari atas sampai ke bawah. Di dalam artikel tersebut disebutkan sebelum SMKN 1 Probolinggo terdapat gang kecil yang menjadi pintu masuk.

Lalu kulajukan kembali sepeda motor perlahan-lahan mengikuti petunjuk yang tertulis. Dan beberapa meter di depan, kulihat salah satu sekolah dan gang kecil yang berhiaskan gapura dari bambu seperti yang tertulis, Ku belokkan sepeda motor masuk ke dalam gang sampai di ujung di salah satu rumah warga, dan ku parkirkan sepeda motor di tempat tersebut.

Tidak ada seorang pun di area rumah-rumah warga, tapi aku melihat plang bertuliskan 'Parkir Motor Ke Air Terjun'. Sejenak kami sangat senang karena sudah menemukan jalan masuk.

Setelah turun dari sepeda motor, kami berjalan memasuki perkebunan yang di pagari bambu namun terdapat celah untuk masuk ke dalamnya, kami berjalan mengikuti jalan setapak perkebunan hingga di ujung.

Sampai di sini, kami kembali kebingungan mencari jalan untuk turun ke bawah. Lalu aku menyuruh Yen untuk menunggu, sementara aku turun ke bawah beberapa langkah untuk melihat situasi.

Jalurnya terlihat begitu curam dan sangat menyeramkan karena tekstur jalan tanah kering bercampur pasir. Kemudian aku kembali menghampiri Yen yang berdiri menunggu, setelah itu melihat-lihat sekitar.

Kemudian ku lihat jalan setapak yang lain, lalu mengajak Yen untuk berjalan menyusuri jalan setapak yang memutari perkebunan sampai pada satu titik jalan yang sedang dalam perbaikan dengan tumpukkan pasir yang menghalangi jalan.

Kami terus menyusuri jalan itu sampai di ujung terdapat saung yang bersandingkan batu besar dengan jalan yang bercabang, jika ke kiri mengarah ke perkebunan yang lain, sementara ke kanan mengarah turun ke bawah.

Sejenak kami berhenti lalu menoleh ke arah kanan dan melihat dari kejauhan sebuah aliran sungai yang memanjang. Dan beberapa saat kemudian, aku memutuskan mengambil jalur kanan dengan jalan setapak yang menurun ke bawah tapi tidak terlalu curam. Aku berjalan di depan, Sementara Yen berjalan di belakang. Kami berjalan memutari bukit yang ditumbuhi oleh ilalang.

Teriknya matahari yang menghujam tidak menyurutkan langkahku, namun dalam jarak tertentu sesekali aku berhenti dan menoleh ke belakang melihat Yen yang berjalan melambat penuh dengan kehati-hatian. Saat Yen sudah mulai mendekat, aku melanjutkan jalan kembali, Sementara gemericik alunan aliran air sudah terdengar di antara kesunyian yang menyibak.

Sesampainya di bawah, diliputi rasa gembira yang tak terbendung, aku berdiri diatas bebatuan tepi kolam sambil menunggu Yen yang masih jalan turun ke bawah. Air yang jernih nan segar mengalir deras di antara kolam-kolam alami. Dan sejurus kemudian, Yen tiba dibawah lalu berdiri di sampingku. Sementara saat itu tidak ada seorangpun selain aku dan Yen.

Kemudian Yen melepas pakaiannya lalu berenang masuk ke dalam kolam, aku pun tergoda oleh kesegaran airnya lalu ku lepas pakaian dan masuk ke dalam kolam, berenang bersamanya. Belum cukup puas, beberapa menit kemudian, Aku dan Yen beranjak dari dalam kolam lalu berjalan di atas bebatuan tepi kolam melawan aliran air sungai.

Melewati tanah bekas longsor, melompat dari satu batu ke batu yang lain, menyebrangi aliran air sungai yang dangkal sampai akhirnya kami melihat 3 air terjun yang bertingkat dari jarak yang masih jauh.

Aku dan Yen sangat terkesima melihatnya, dan terus berjalan menyusuri tempat tersebut hingga tiba di salah satu air terjun dengan debit air yang deras menghujam kolam alaminya yang tidak begitu besar.

Tapi aku masih penasaran dengan air terjun yang berada di atasnya. Lalu ku cari cara mencari jalan untuk keatas dengan melihat-lihat sekitar. Dan di sebelah kanan air terjun terdapat tebing yang tidak terlalu tinggi dengan banyak celah. Aku mengajak Yen untuk memanjatnya, dengan cara merayap dan hanya mengandalkan celah-celah tebing untuk berpijak

Sampai di atas, debit air terjun yang kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama, hanya saja kolam alaminya begitu luas dan panoramanya cukup membius mata. Aku dan Yen merehatkan diri sejenak di atas bebatuan sambil memandang air terjun yang jatuh menghujam yang diiringi dengan alunan air yang mengalir.

Tidak sampai di situ, aku semakin penasaran dengan air terjun yang berada di atasnya lagi, lalu ku lihat-lihat sekitar mencari cara untuk menggapai air terjun yang ketiga. Namun sangat disayangkan, aku tidak menemukan jalan untuk naik keatas dan juga tidak mau memaksakan diri lagi untuk merayap di tebing tanpa pengamanan karena jalurnya cukup sulit.

Waktu yang terus bergulir dan cuaca yang berubah, aku dan Yen memutuskan untuk kembali ke parkiran sepeda motor dengan  melewati jalur yang kami lalui sebelumnya kemudian trekking ke atas memutari bukit hingga tiba di saung yang bersandingkan batu besar. Sejenak aku merehatkan diri duduk di atas ilalang dengan peluh yang membanjiri tubuh. Usai itu, kembali berjalan mengikuti jalan setapak hingga tiba di parkiran sepeda motor.

Terlihat bapak tua yang berdiri di pintu rumahnya yang terbuka, lalu ku sapa yang dibalas dengan senyum ramahnya kemudian berbincang sejenak bercerita kepadanya tentang air terjun yang ku gapai. Dan menurut bapak tua itu, aku telah salah jalur, air terjun bertingkat yang kutemui adalah Air Terjun Triban 1 dan 2.

Sementara untuk Air Terjun Watu Lawang jalurnya ke kanan dengan rute saat masuk ke dalam perkebunan mengikuti jalan setapak lalu sampai di ujung turun ke bawah yang menurutku jalurnya sangat curam.

Lalu bapak tua menawari jasa untuk mengantarkanku ke Air Terjun Watu Lawang, sementara karena sudah terlalu lelah, aku dan Yen memutuskan untuk kembali ke homestay. Lokasi ini memang belum dikelola dan tidak ada tiket masuk, sehingga belum begitu banyak yang tahu ditambah lagi dengan minimnya petunjuk dan jalurnya yang sangat curam.

Hanya orang-orang yang berjiwa petualang yang mengetahui keberadaan air terjun yang berada di Desa Ngepung, Kecamatan Sukapura, Probolinggo. Sementara di dalam lokasi tersebut terdapat beberapa air terjun seperti Air Terjun Watu Lawang, Air Terjun Triban 1 dan 2, Air Terjun Kedung Amis dan Air Terjun Sumber Pakis.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED

Potret Desa Sihir di Spanyol

Senin, 21 Mei 2018 03:56 WIB

Sebuah desa di Spanyol memiliki kenangan mistis bertema sihir. Sempat jadi pemukiman pemuja setan, desa sihir ini diabadikan dalam sebuah museum.