Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 22 Jan 2018 11:23 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Favorit Turis Jerman, Desa Berumur Ratusan Tahun di Samosir

Ivonesuryani
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Beberapa rumah adat di Desa Meat.
Beberapa rumah adat di Desa Meat.
detikTravel Community - Danau Toba sudah memang sudah terkenal. Selain danau, Samosir ternyata juga punya desa wisata yang berumur ratusan tahun yang sering dikunjungi turis Jerman.

Jika traveler sedang ke Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara, sempatkanlah mampir ke Desa Wisata Meat yang berada di salah satu teluk Danau Toba. Desa ini ditetapkan sebagai desa wisata pada tanggal 11 Februari 2017. Mata pencaharian penduduk Desa Meat adalah bertani, beternak, nelayan dan menenun ulos.

Ada dua akses untuk menuju ke desa ini. Pertama melalui jalan beraspal, satu-satunya akses jalan darat dari Balige, Ibu Kota Kabupaten Tobasa. Jaraknya sekitar 10 km dari Balige, dengan waktu tempuh 30 menit.

Saya menggunakan google map sebagai penunjuk arah. Namun, sering terjadi longsor di beberapa titik sehingga jalan yang berada di punggung Bukit Barisan ini benar-benar tidak dapat dilalui.

Ketika berkunjung ke Desa Meat beberapa waktu yang lalu, saya beruntung karena batu-batu besar sisa longsor baru saja disingkirkan. Jalur darat memang lebih beresiko, tetapi pemandangan sepanjang perjalanan sangat indah. Akses kedua, melalui jalur danau.

Traveler bisa menyewa perahu dari beberapa dermaga yang ada di Balige menuju dermaga Desa Meat, dengan waktu tempuh 30 menit. Jika tidak ingin berspekulasi, jalur danau bisa menjadi pilihan utama.

Lalu, apa yang spesial dari desa ini? Selain padang sawah yang berundak-undak seperti di Bali, keberadaan beberapa buah Rumah Adat Batak sangat menarik perhatian.

Pada salah satu rumah, selain terdapat Gorga Batak Toba atau ukiran khas Batak yang biasa terdapat pada dinding rumah, alat kesenian dan lain-lain, juga nampak lukisan orang-orang dengan pakaian seperti seragam Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) zaman kolonial Belanda. Lukisan inilah yang membuat rumah ini unik karena berbeda dari Rumah Adat Batak pada umumnya.

Saya berjumpa dengan beberapa warga desa yang menjelaskan kalau rumah tersebut adalah milik Radja Padua Mangaradja Israel, seorang raja Desa Meat pada zaman dahulu. Nama raja tersebut pun terukir jelas di dinding depan rumahnya. Di atas nama raja juga terdapat tulisan 'ari...april 1915'.

Saya menjumpai Opung Rima, pria paruh baya yang menghuni rumah tersebut. Ia bercerita pada saya.

"Tahun 1915 adalah waktu pembuatan ukiran di dinding rumah, sedangkan rumahnya sendiri dibangun sebelum itu. Butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Coba diperhatikan, tidak ada satu pun paku yang menyatukan dinding rumah ini. Semua kayu dirakit saling mengait dan butuh waktu lama untuk merakitnya, bisa berpuluh tahun".

Opung Rima juga menjelaskan arti lukisan yang terdapat pada dinding rumah, "Lukisan itu menceritakan tentang perang dan perlawanan masyarakat Toba. Menurut cerita, perang terjadi sepuluh tahun sebelum lukisan dibuat".

Usia rumah tersebut diperkirakan hampir 200 tahun. Sedangkan usia Desa Meat sendiri lebih dari 300 tahun. Opung Rima adalah generasi ke-13 penduduk asli yang menghuni desa ini.

Dengan lancar Opung Rima menyebutkan generasi-generasi di atasnya. Ia pun menambahkan bahwa wisatawan asal Jerman sering datang dan menginap di Desa Meat.

Mengasikkan sekali pergi ke Desa Wisata Meat, selain kita bisa menikmati keindahan Danau Toba dari sisi yang berbeda, kita juga bisa mengobrol dengan warganya yang ramah tentang rumah adat yang ada di sana. Sayangnya, saya tak bisa menyaksikan perempuan-perempuan Desa Meat menenun ulos karena ketika saya ke sana, mereka sedang merayakan Natal.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED