Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 03 Apr 2018 14:49 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Masjid Peninggalan Kesultanan Serdang yang Sarat Sejarah

Rudi Chandra
d'travelers
Foto 4 dari 5
Bagian dalam masjid
Bagian dalam masjid
detikTravel Community -

Masjid Raya Sultan Basyaruddin adalah masjid peninggalan Kesultanan Serdang. Masjid berusia 100 tahun lebih ini sarat akan sejarah.

Masjid Raya Sultan Basyaruddin atau dikenal juga dengan nama Masjid Raya Rantau Panjang adalah salah satu masjid tua dan bersejarah peninggalan dari Kesultanan Serdang. Masjid ini dibangun pada tahun 1845 oleh Sultan Serdang ke IV, yaitu Sultan Basyaruddin Saiful Alamsyah.

Masjid ini dibangun dengan memadukan arstitektur Eropa dan arsitektur tradisional Indonesia. Arsitektur Eropanya terlihat dari kontruksi dindingnya yang dari batu bata dan beton. Sedangkan atapnya bergaya tumpang tiga yang merupakan gaya khas dari masjid-masjid tradisional di Indonesia.

Bangunannya sendiri berdenah persegi panjang dan memiliki serambi di setiap sisinya. Di sekeliling serambi tersebut dibatasi tembok rendah yang juga berfungsi sebagai pagar. Masjid yang telah berusia lebih dari 170 tahun ini pun sudah mengalami beberapa renovasi namun masih tetap mempertahankan bentuk asli dari arsitektur masjidnya. Bahkan daun pintu, mimbar dan beduk yang ada di masjid ini masih asli sejak dari pembangunannya.

Di dinding masjidnya terdapat pula beberapa foto hitam putih yang menggambarkan tentang masjid, istana dan keadaan di masa lalu di Kesultanan Serdang. Di halamannya terdapat pula beberapa pemakaman tua dari keluarga kesultanan dan nazir masjidnya. Dahulu, tidak jauh dari masjid ini juga terdapat Istana Darul Arif, istana dari Kesultanan Serdang. Sayangnya saat ini istana tersebut sudah tidak tersisa lagi.

Masjid yang berada di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang ini juga memiliki sejarah yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Karena ketika Belanda menyerang Kesultanan Serdang pada tahun 1865, masjid ini juga digunakan sebagai markas perlawanan dari pihak Kesultanan Serdang.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA