Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 30 Okt 2018 10:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Ini Simbol Biaya Pembuatan Gedung Sate Bandung

Nfadils
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pada umumnya wisatawan hanya berforo di bagian depannya saja
Pada umumnya wisatawan hanya berforo di bagian depannya saja
detikTravel Community - Wisatawan kini tidak hanya bisa berfoto dari luar Gedung Sate. Pada hari libur dan akhir pekan, wisatawan diperkenankan untuk memasuki dan berfoto di halamannya.

Sebagai salah satu bangunan kuno yang menjadi landmark kota Bandung, Gedung Sate tentu menjadi objek yang tidak akan dilewatkan wisatawan saat berkunjung ke Kota Bandung. Tidak heran, pada saat musim liburan atau akhir pekan, banyak wisatawan yang memarkirkan sejenak kendaraannya di depan Gedung Sate untuk sekedar berfoto dari luar pagar.

Mungkin ada wisatawan mungkin yang sungkan masuk ke dalam kawasan Gedung Sate. Hal ini dikarenakan peruntukannya sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat.

Saat akhir pekan, area Gedung Sate dibuka untuk umum dan pengunjung bisa menjelajahi area Gedung Sate walaupun dalam skala yang terbatas. Terlebih saat ini di dalam Gedung Sate juga sudah dilengkapi dengan adanya Museum Gedung Sate yang menceritakan sejarah pembangunan Gedung Sate dan Kota Bandung.

Sementara menjelajahi bagian luar Gedung Sate pun menurut saya sangat menarik. Terlebih bangunan Gedung Sate sangat megah dan merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Eropa dan Indonesia.

Gedung Sate mulai dibangun pada tahun 1920 dan arsitek dari gedung megah ini adalah arsitek muda Belanda, J. Gerber dan melibatkan tidak kurang dari dua ribu pekerja. Konon seratus lima puluh orang diantaranya adalah pengukir batu dan kayu berkebangsaan China yang berasal dari Canton.

Di halaman gedung sate, kita bisa menjumpai monumen yang didirikan untuk mengenang keberanian tujuh orang pemuda yang gugur. Mereka mempertahankan Gedung Sate dari para tentara sekutu yang menyerbu kota Bandung saat agresi militer Belanda pada tanggal 3 Desember 1945.

Jika ditarik garis lurus akan membentang satu garis lurus imajiner yang menghubungkan antara Gunung Tangkuban Parahu, Lapangan Gazibu dan Gedung Sate. Posisi ini mewakili citra masyarakat Jawa Barat yang biasa bergaul dengan alam.

Di puncak menara Gedung Sate terdapat tusuk sate dengan enam buah ornamen sate. Konon melambangkan bahwa jumlah biaya yang dihabiskan untuk membangun gedung sate adalah sebesar enam juta gulden.

Kalau traveler penasaran, datang saja saat weekend ke Gedung Sate yang beralamat di Jl. Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Jawa Barat.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED