Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 10 Apr 2018 15:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Meneladani Kearifan Lokal Suku Baduy

arief kas
d'travelers
Foto 1 dari 5
NES Peduli dan para relawan yang siap membersihkan kampung suku baduy luar
NES Peduli dan para relawan yang siap membersihkan kampung suku baduy luar
detikTravel Community -

Hidup mengikuti aturan adat, adalah jalan yang dipilih oleh para orang Baduy di Banten. Dari mereka, traveler bisa belajar banyak soal kearifan lokal.

Hari rabu tanggal 14 Maret 2018 yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi Desa Kanekes, Baduy, Lebak, Banten. Tepat pukul 06.30 WIB, bus membawa kami menuju perkampungan suku Baduy yang berjarak tempuh selama 5,5 jam perjalanan dari Jakarta Selatan.

Selepas kota Lebak, jalanan semakin menyempit dan kondisi jalan yang kurang baik. Aspal yang mulai mengelupas serta kontur tanah pegunungan membuat bus yang kami tumpangi harus berjalan pelan. 

Hutan sekunder mengelilingi sisi kanan dan kiri jalan, sehingga membuat kami terhibur dengan pemandangan yang cantik. Akhirnya tibalah kami di Terminal Ciboleger yang merupakan titik temu menuju ke perkampungan suku Baduy.
Patung selamat datang menyambut kami, tidak jauh ada tangga berundak yang harus kami lalui menuju keperkampungan Baduy luar. Kami disambut oleh Dinas Pariwisata Provinsi Banten dan Jero Baduy Luar, rumah-rumah panggung sederhana berdinding anyaman bambu menyambut kami.

Bau kayu bakar yang harum menyeruak di sela-sela perkampungan adat. Setelah diterima oleh para tetua adat, kami dipersilahkan menuju ke gazebo. Tujuan kedatangan kami yaitu untuk melakukan kerja bakti bersih Baduy yang dimotori oleh Ibu Helen dari NES Peduli.

Populasi suku Baduy sekitar 26.000 orang dan salah satu suku yang mengisolasi diri mereka dari dunia luar serta memiliki keyakinan tabu untuk di foto, khususnya untuk penduduk Baduy dalam.

Perkampungan suku ini dibagi dua, yaitu Baduy dalam yang tetap teguh memegang budaya leluhur dan tertutup untuk pengunjung luar kecuali dengan seizin jero atau tetua adat dan Baduy luar yang terbuka menerima kunjungan tamu dari luar tetapi masih memegang adat leluhur.

Mereka lebih suka disebut sebagai Urang Kanekes, dan adat mereka melarang pendidikan formal di dalam desa tersebut. Ciri-ciri orang Baduy dalam menggunakan pakaian berwarna putih alami atau biru tua serta memakai ikat kepala warna putih.

Salah satu peraturan keras suku Baduy alam yaitu dilarang menggunakan alas kaki, dilarang menggunakan alat transportasi, dilarang menggunakan alat elektronik, menggunakan kain warna putih/hitam yang ditenun/dijahit sendiri dan pintu setiap rumah harus mengarah ke utara/selatan.

Bagi yang melanggar akan dikenakan sangsi dan salah satunya dikeluarkan dari desa adat sehingga menetap di Baduy luar. Pendudukan Baduy luar salah satunya mereka yang telah melanggar peraturan adat, secara pribadi berkeinginan untuk keluar dari desa adat Baduy dalam dan menikah dengan warga Baduy luar.

Masyarakat Baduy luar yang saya kunjungi ada yang masih menggunakan pakaian adat warna hitam atau biru tua dan kaos oblong. Menggunakan peralatan makan dari plastik dan peralatan modern lainnya serta sebagian besar sudah beralih agama menjadi Islam.

Ketika memasuki Desa Kanekes, seperti dibawa ke lorong waktu. Ketika dulu masih kecil, saya masih ingat berkunjung ke rumah nenek di kaki Gunung Wilis, Tulungagung setiap mudik lebaran. Rumah kayu dengan dinding anyaman bambu, jalan tanah yang berdebu, bau harum kayu bakar, serta wangi kopi yang disangrai.

Kain tenun yang cantik hasil karya para perempuan Baduy digantung di depan rumah, sepintas menyerupai etalase bagi wisatawan yang berkunjung.

Benar saja, para wisawatan yang sebagian besar perempuan langsung memilah kain-kain cantik hasil tenunan suku Baduy luar. Kain kecil dihargai Rp 50 ribu dan yang besar seharga Rp 250 ribu.

Selepas makan siang selesai yang diadakan di gazebo Baduy luar, kami dihibur oleh sekelompok pemusik tradisional Baduy luar. Dengan iringan kecapi dan gendang khas suku Baduy, membuat kami terbuai selepas makan siang.
Acara dilanjutkan dengan kerja bakti bersih perkampungan. Peralatan kebersihan segera dibagikan dan setiap peserta diwajibkan mengumpulkan sampah yang tercecer di sepanjang jalan kampung.

Jalan perkampungan suku Baduy masih terbuat dari tanah liat yang dipadatkan sebagian dengan batu-batu kerikil. Tidak ada tempat sampah, sehingga wisatawan begitu saja membuang sampah plastik di mana saja sehingga menambah kesan kotor.

Sehingga para donatur seperti NES dan CAS Group tergerak untuk memberikan bantuan peralatan kebersihan serta tempat penampungan sampah.

NES dan para donatur mengumpulkan donasi untuk membeli sebidang tanah agar bisa dijadikan tempat pembuangan sampah akhir (TPSA).

Disediakan juga moda transportasi untuk membawa sampah dari Baduy luar menuju ke TPSA dan para pemuda desa diajarkan untuk mengelola sampah oleh mapala UI & ITB.

Tidak mudah mengumpulkan sampah yang tersebar di sepanjang jalan karena jalur trekkingnya yang menantang dan udara yang cukup panas siang hari itu.

Tanpa mengenal lelah, para relawan akhirnya berhasil mengumpulkan karung sampah dari jalur trekking perkampungan suku Baduy Luar. Kami tidak bisa masuk ke kampung Baduy Dalam karena sedang ada upacara Kawali yang dimulai dari bulan Januari - akhir Maret ini dengan puncaknya yaitu tanggal 26 April 2018 nanti.

Masyarakat Baduy dalam berbondong-bondong jalan kaki menuju ke kantor Bupati Lebak untuk memberikan upeti sebagai salah satu tradisi lama para leluhur yaitu Seba.

Kaum pria Desa Kanekes pada umumnya sebagai petani atau peladang, sementara kaum perempuan menenun. Kain tenun yang mereka buat membutuhkan waktu kurang lebih 2 minggu. Hasil kain tenun tersebut sangat halus dan cantik. Tidak banyak motif yang mereka buat sesuai tradisi.

Gula aren dan madu hutan menjadi panganan khas suku Baduy luar yang wajib dibeli dan dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Kain batik warna hitam dan biru menjadi incaran saya, karena paduan warna yang cantik.

Bahkan kini wisatawan bisa menginap atau homestay di rumah penduduk Baduy luar, tetapi pada malam hari tetap tidak ada aliran listrik di dalam perkampungan ini.

Tentu saja akan memberikan sensasi tersendiri bagi masyarakat urban saat ini yang sangat tergantung pada listrik. Dan yang paling penting stop buang sampah! 

Masyarakat Baduy dilarang membuang sampah sembarangan. Justru mereka para pendatang yang berkunjung selama ini yang membuang sampah sembarangan di desa adat ini.


Bawalah sampah keluar dari desa adat ini, kearifan lokal mereka membuat alam sekitarnya tetap lestari. Air jernih tetap mengalir walau di saat kemarau sekali pun.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED