Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 12 Jul 2018 11:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menangis Menapaki Pasir Mahameru

Foto 1 dari 5
Sunrise dan Salat Subuh di lereng Mahameru
Sunrise dan Salat Subuh di lereng Mahameru
detikTravel Community - Ini bagian akhir dari ceritaku menapaki pasir menuju puncak Mahameru. Begini perjuangannya.

12 Mei 2013 pukul 01.00 WIB setelah istirahat dari selepas maghrib, saya dan teman-teman bangun untuk siap-siap summit attack. Target kami ketika sunrise nanti sudah sampai di puncak. Kami menghangatkan tubuh dan mengisi perut dengan segelas bubur kacang hijau. Kami beres-beres membawa barang-barang yang perlu saja, yaitu air minum dan madu sachet untuk penambah energi di tengah jalan.

Barang-barang lainnya ditinggal di tenda. Tidak lupa perlengkapan seperti masker untuk pelindung dari abu dan debu, sarung tangan, jaket dan celana anti dingin dan angin, headlamp masing-masing, tracking pole, dan kupluk. Sekitar pukul 02.00 WIB perjalanan pun dimulai. Doa kami semoga selamat sampai nanti turun dari puncak, semoga energi yang kami miliki juga masih cukup.

Setelah Kalimati, jalur pendakian dilanjutkan ke Arcopodo. Arcopodo merupakan kawasan terakhir yang ada vegetasinya, yaitu vegetasi pohon pinus. Setelah itu dilanjutkan dengan kawasan bukit pasir hingga puncak. Perjalanan melewati Arcopodo membutuhkan waktu sekitar lebih kurang hampir 2 jam. Karena kondisi yang gelap, harus sangat berhati-hati menjejakkan kaki karena jalanan setapak mendaki yang sempit, sementara di samping kiri dan kanannya sesekali terdapat jurang.

Di kawasan ini terdapat kawasan yang dikenal dengan Blank 75 yang merupakan jurang di mana seringkali pendaki hilang di kawasan ini. Entah itu hilang karena terjatuh atau hilang karena nyasar. Perjalanan semakin terasa berat ketika saya menjumpai bukit pasir. Ibaratnya, jalan dua langkah mundur selangkah. Tipsnya tidak disarankan memperbanyak istirahat apalagi sampai duduk selonjoran. Kalau mau istirahat sebentar cukup berdiri saja.

Kebanyakan istirahat membuat sistem tubuh harus memulai lagi ritme yang baru untuk mendaki lagi dan cepat membuat tubuh kedinginan. Matahari sudah mulai muncul tetapi saya dan teman-teman belum juga sampai puncak. Kami Salat Subuh di lereng Mahameru dan menikmati sunrise di sana. Matahari semakin meninggi, saya semakin putus asa untuk bisa sampai ke puncak. Energi saya sudah habis. Saya sudah tidak bisa lagi melangkah, hanya bisa merangkak sedikit demi sedikit. Bekal madu sachet yang ada di kantong tidak juga bisa memulihkan energi saya.

Saya memutuskan menyerah pada saat itu. Menyerah dengan rasa tidak rela dan menyesali tidak bisa sampai puncak. Saya berusaha bersandar ke lereng mengantuk luar biasa dan badan sudah lemas juga was-was terhadap reruntuhan batu dari atas karena pendaki lain sudah banyak yang turun dari puncak. Waktu itu sekitar pukul delapan pagi. Teman-teman yang lain sudah saya minta ke puncak duluan, tinggallah saya sendiri di lereng. Saya yakin mereka berhasil.

Pada saat itu saya tidak tahan untuk tidak menangis. Merasa mental saya cemen sekali. Saya masih saja berusaha sedikit demi sedikit mendaki dengan merangkak. Ah payah, baru merangkak dua kali saja, saya kembali lemah kemudian beristirahat lama, mencoba merangkak lagi. Begitu seterusnya meski saya sudah bilang pada teman saya kalau saya menyerah, saya tetap berusaha untuk mendaki.

Puncak terlihat dekat tapi rasanya sudah berulang kali saya merangkak dan merangkak kenapa belum sampai-sampai juga. Lagi-lagi saya menangis atas ketidakberdayaan saya. Rasanya mau mati karena saya tidak punya tenaga banyak lagi. Saya bertemu dengan teman dari rombongan lain yang sedang turun. Wajahnya berbinar. Mungkin begitulah perasaannya setelah berhasil memburu puncak Mahameru. Melihat saya yang lemas, akhirnya dia memberikan saya madu dan beberapa potong coklat dan tentu saja meninggalkan saya untuk melanjutkan perjalanannya.

Meski enggan ku makan, akhirnya saya paksakan juga madu dan coklat itu masuk ke mulut saya. Mulut rasanya sudah pahit. Cuma bisa berdoa-doa dalam hati supaya diberikan kekuatan. Beberapa saat kemudian, saya tetap berusaha untuk mendaki. Pada saat itu sudah hampir pukul sembilan pagi. Sudah banyak pendaki yang turun. Saya berusaha merangkak lagi. Lama kelamaan saya berusaha berdiri, berusaha melangkah lagi dan ternyata berhasil.

Saya semakin bersemangat, tampaknya tenaga saya sudah mulai pulih lagi. Hingga akhirnya saya pun sampai puncak. Saya menagis lagi tidak menyangka sama sekali kalau ternyata bisa juga sampai puncak. Teman-teman saya yang mulai turun juga merasa heran. Mereka bilang, "Wah, bukannya tadi kamu sudah nyerah?"

Saya hanya bisa senyum mendapat pertanyaan seperti itu. Naik gunung memberikan pelajaran banyak buat saya. Yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri, itu yang saya rasakan. Selain itu, naik gunung juga bisa membuat kita membaca karakter orang lain. Apakah dia egois, apakah dia pandai memimpin teman-temannya, dan sebagainya.

Perjalanan tidak berhenti di 3676 mdpl. Karena harus buru-buru turun kembali menuju Kalimati, alhamdulillah Allah meberikan kami keselamatan hingga akhir perjalanan dan banyak sekali membawa oleh-oleh berupa pesan yang bermanfaat untuk kehidupan.

Terima kasih Mahameru, kamu membuat kami merasa sangat kecil sekali. Selesai.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED