Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 21 Mei 2018 15:22 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Ngabuburit di Surabaya, Merajut Lagi Toleransi Antarumat Beragama

Nurul Rahmawati
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Suasana ngabuburit di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro
Suasana ngabuburit di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro
detikTravel Community - Ngabuburit bisa dimana saja. Ngabuburit di Surabaya juga bisa jadi ajang untuk merajut kembali toleransi antar umat beragama pasca ledakan bom.

Di Surabaya, Jumat (18/5) kemarin, sekitar 1.700 orang dari lintas agama berkumpul di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jl Diponegoro. Ya, bisa dibilang ini adalah ngabuburit antimainstream. Selain sama-sama menanti bedug maghrib plus menikmati sajian yang tersedia, tentu saja acara ini menjadi momentum yang paling pas untuk menunjukkan bahwa warga Surabaya amat cinta damai dan mengusung tinggi semangat toleransi.

Beberapa hari belakangan, Surabaya kota kami tercinta, yang selama ini aman, nyaman, tentram, damai, dengan masyarakat dan komunitas yang demikian toleran dan penuh kasih, mendadak berubah menjadi 'kota mati'. Sunyi. Tidak banyak masyarakat yang berani beredar, semuanya memilih untuk tetap tinggal di rumah.

Sopir taksi online sempat curhat ke saya, "Suasana Surabaya benar-benar kayak Lebaran, Mbak. Sepi, mal-mal juga sepi."

Sahabat saya juga melaporkan hal senada. "Aku bisa latihanÂdrifting di parkiran mal Tunjungan Plaza. Ya itu tadi, saking sepinya!"

Bisnis restoran, mal dan sebagainya dilaporkan mengalami penurunan omzet drastis. Kalau tidak urgent-urgent amat, orang-orang sama sekali tidak berani untuk keluar rumah. Ini semua lantaran terorisme yang mengepung kota kami. Bermula dari ledakan bom di 3 gereja di Surabaya pada Minggu, 13 Mei. Lalu ledakan susulan di depan kantor Polrestabes Surabaya, plus di sebuah rumah susun Sidoarjo.

Beberapa penggerebakan dan baku tembak antara petugas plus terduga teroris juga terjadi di beberapa lokasi. Terang saja, ini membawa dampak rasa khawatir pada kami, warga Surabaya yang selama ini biasa hidup dalam suasana kondusif dan menyenangkan. Lantas, apakah kami harus terus-menerus berkubang dalam rasa takut? Apakah kami kudu menyerah dengan ancaman teror yang boleh jadi masih bergentayangan di kota tercinta? Bukankah ketika kami tunduk dan ngelangut serta terus-menerus dikepung takut, itu artinya kami telah mewujudkan visi dan misi para teroris?

Saatnya untuk menunjukkan bahwa #KamiTidakTakut #SuroboyoGakWedi. Justru, bulan Ramadan ini bisa menjadi momentum yang amat berharga, untuk menunjukkan Surabayaku adalah kota yang indah, aman, tentram, sebagaimana kondisi normal sebelumnya. Selama ini, ngabuburit bisa kita lakukan di berbagai sudut kota. Mulai dari Masjil Al Akbar, Masjid Ampel, termasuk di aneka taman indah yang bersebaran di seluruh penjuru Surabaya. Taman Bungkul, Taman Prestasi, dan seabrek taman lain, yang dipersembahkan oleh para punggawa kota di bawah komando Ibu Tri Risma Harini, 'emak alias walikota kesayangan kita semua.

Komunitas Gusdurian, yang selama ini memang identik dengan penganut falsafah toleransi tinggi, menginisiasi acara 'Suroboyo Guyub' ini. Undangan ditujukan pada masyarakat lintas agama. Ini sekaligus untuk memupuk silaturahmi dan semangat untuk saling menebarkan kasih sayang antar sesama.

'Suroboyo Guyub' digelar di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro pada hari kedua puasa. Anda ingat, di areal parkiran gereja ini, ada seorang Ibu yang mengajak dua putrinya untuk meledakkan bom bunuh diri. Sebuah kejadian yang amat paradoksal. Ibu, sosok yang selama ini lekat dengan kelembutan hati dan kasih sayang, ternyata bisa seperti itu. Menghilangkan nyawa diri sendiri, buah hati, sekaligus orang-orang lain yang sama sekali tidak ia kenal.

Undangan Jagongan dan Doa bersama Lintas Iman. Begitulah yang menjadi semangat dan tagline dari acara ini. Bahwa kita melangitkan doa, sesuai dengan agama masing-masing. Untuk menunjukkan kita sama-sama melambungkan asa, ingin Surabaya yang damai, Indonesia yang damai, aman, tentram, jauh dari terorisme dalam bentuk apapun.

Dalam kesempatan ngabuburit antimainstream ini, sejumlah pihak memberikan keterangan terkait tragedi bom di GKI Diponegoro. Ada Yosua Poli, salah seorang yang melihat kejadian bom pada Minggu (13/5). Ia mengatakan kejadian ini betul-betul di luar nalar. Bom yang melibatkan seorang ibu dan dua anak putrinya. Padahal, ibu itu normalnya melahirkan, merawat dan mengasihi anaknya. Ini malah ada ibu yang dengan tega mengajak 2 putrinya untuk melakukan bom bunuh diri.

Adapun Aan Anshori, selaku penggiat Gusdurian Jombang menyatakan forum ini menjadi upaya untuk melawan terorisme sekaligus mengklarifikasi kesalahpahaman antara umat Kristen dan Islam. Ketua Majelis Jemaat GKI Diponegoro, Daniel Theopilus Hage berterima kasih atas kepedulian semua warga kota Surabaya. Ia juga mengucapkan selamat menunaikan ibadah di bulan suci Ramadan dan memberikan apresiasi kepada masyarakat muslim yang menunjukkan toleransi.

Ngabuburit bukan sekedar acara kongkow-kongkow sembari menunggu azan Maghrib. Ngabuburit juga sangat bisa menjadi momentum sarat manfaat, untuk menunjukkan cinta kasih yang begitu kuat antar umat. Apalah artinya kita bisa menahan lapar dahaga ketika puasa, namun perilaku kita justru tidak mencerminkan semangat 'Islam rahmatan lil alamin.' Justru, di bulan suci ini, alangkah indahnya bila kaum muslim menunjukkan bahwa ajaran Islam yang benar itu seperti ini.

Kami berpuasa, tapi tetap menyayangi dan menghormati umat lain. Pada ujungnya ngabuburit bersama ini sangat bisa mengobati luka yang menganga pasca serangan bom di tiga gereja di Surabaya.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED