Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 09 Agu 2018 09:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Rangkasbitung Punya Museum, Sudah Tahu Belum?

Dodi Bayu Wijoseno
d'travelers
Foto 1 dari 5
Monumen di halaman Museum Multatuli
Monumen di halaman Museum Multatuli
detikTravel Community - Tak jauh dari Jakarta, tepatnya di Rangkasbitung, ada satu museum keren yang bisa traveler kunjungi. Namanya Museum Multatuli. Kalian sudah tahu belum?

Rangkasbitung, kota yang relatif tidak terlalu jauh dari Jakarta, memiliki sebuah destinasi bagi para penyuka sejarah. Sebuah museum yang menyimpan kisah dari masa penjajahan kolonial Belanda di masa lalu.

Kisah tentang ketidakadilan yang dialami oleh rakyat Rangkasbitung pada masa sistem tanam paksa yang diberlakukan oleh pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda dan juga kisah tentang seorang Asisten Residen Lebak, seorang Belanda yang dengan berani menyuarakan hati nuraninya terhadap penindasan dan ketidakadilan terhadap rakyat yang terjadi di wilayah Rangkasbitung.

Museum Multatuli berusaha merangkum dan membingkai itu semua dalam sebuah kerangka ruang dan waktu. Sebagai seorang penyuka sejarah, saya berkesempatan berkunjung ke sana tanggal 5 Agustus 2018 lalu ketika sedang berlibur di kota Rangkasbitung.

Dari Kota Jakarta tempat saya tinggal, Museum Multatuli ini relatif mudah untuk dijangkau. Dengan transportasi publik dapat dijangkau dengan KRL Commuter Line relasi Tanah Abang-Rangkasbitung dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Jarak Museum Multatuli dari stasiun pun tidak terlalu jauh, kurang lebih sekitar 1,5 km dan bisa ditempuh dengan menggunakan angkot yang mengarah ke Alun-Alun kota Rangkasbitung atau bisa dengan berjalan kaki bila ingin sejenak menikmati suasana kota.

Lokasi Museum Multatuli ini ada di seputaran Alun-Alun Rangkasbitung dan berada satu lokasi dengan Perpustakaan Saidjah-Adinda, perpustakaan daerah terbesar milik Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Lebak. Menurut beberapa sumber, Museum Multatuli ini berdiri di bangunan bekas Kawedanan Rangkasbitung.

Untuk memasuki Museum Multatuli ini, kita cukup menuliskan nama, alamat dan alamat e-mail di buku registrasi di depan pintu masuk museum. Untuk saat ini tidak dikenakan biaya untuk masuk ke dalam museum ini.

Museum Multatuli ini terbagi atas beberapa ruangan dan tema. Setelah melalui Pendopo di bagian depan museum, kita akan memasuki ruang pertama berisi maket museum dan gambar besar Eduard Douwes Dekker, Asisten Residen Lebak yang menjabat sekitaran tahun 1856 dalam bentuk mosaik. Di ruangan ini terdapat tulisan besar: 'Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia'

Ruangan kedua adalah ruangan interaktif yang dilengkapi dengan fasilitas audio visual yang menjelaskan awal mula kolonialisme di bumi Nusantara. Ada Layar visual yang menjelaskan bahwa sejak awal abad ke-16 bumi Nusantara yang kaya akan rempah-rempah sudah menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa, seperti Bangsa Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda.

Bangsa-bangsa tersebut saling bersaing untuk menguasai rempah-rempah di Nusantara hingga menyisakan Belanda yang memegang monopoli perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Nusantara.

Di ruangan kedua ini terdapat diorama yang menjelaskan komoditas rempah-rempah yang tinggi nilai ekonominya di pasaran dunia seperti: pala, lada, cengkeh dan kayu manis.

Di sudut ruangan berikutnya terdapat diorama yang menampilkan koleksi Novel Max Havelaar edisi pertama. Kebetulan saya pernah membaca novel terjemahannya yang saya beli di salah satu toko buku, jadi paling tidak bisa memberikan gambaran mengenai apa yang dituliskan dalam Novel ini.

Max Havelaar adalah Novel satire yang ditulis oleh Eduard Douwes Dekker dengan nama pena Multatuli untuk menceritakan pengalamannya semasa menjadi Asisten Residen Lebak yang berkedudukan di Rangkasbitung.

Menurut beberapa sumber, dalam bahasa latin Multatuli berarti 'aku yang menderita'. Dalam novelnya dia menuliskan kesengsaraan rakyat Rangkasbitung yang dieksploitasi dalam sistem tanam paksa demi keuntungan bisnis semata oleh pemerintahan kolonial Belanda dan penguasa lokal tanpa bisa membela diri.

Multatuli juga menuliskan bagaimana rakyat begitu menderita karena sistem tanam paksa yang keuntungannya tidak pernah bisa mereka nikmati ataupun bentuk penindasan lain, seperti ternak peliharaan mereka yang dirampas atau dipaksa dibeli dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga pasar oleh penguasa.

Asisten Residen Lebak tersebut dengan hati nuraninya berani menyuarakan ketidakadilan terhadap rakyat sampai kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang berkuasa waktu itu meskipun tidak digubris dan mengakibatkan sang Asisten Residen mengundurkan diri dari jabatannya.

Seorang yang seharusnya membela kepentingan pemerintah dan negaranya terhadap bumi jajahan tetapi justru berbalik membela para rakyat yang tertindas karena memilih suara hati nuraninya sebagai seorang manusia.

Bahasa tulisan selalu mempunyai kekuatannya sendiri, tulisan satire Multatuli dalam novel Max Havelaar ternyata berdampak besar setelahnya. Setelah terjual di Eropa, buku ini membuka mata banyak orang Eropa tentang kenyataan kelam yang terjadi di Hindia Belanda.

Di Indonesia sendiri, banyak tokoh-tokoh perjuangan Indonesia yang terinspirasi oleh tulisan Multatuli yang terus dibaca dari masa ke masa untuk terus menyuarakan keadilan dan pembebasan dari penindasan.

Diskusi-diskusi tentang tulisannya pun masih terus dilakukan hingga saat ini. Mengutip pengantar yang saya ambil dari Novel terjemahan Max Havelaar: 'Max Havelaar abadi, bukan karena seni atau bakat kesastraannya melainkan karena tujuan yang diperjuangkannya'.

Ruangan-ruangan berikutnya berisikan artefak-artefak dan foto-foto sejarah Rangkasbitung, foto-foto dan kutipan tokoh-tokoh nasional dan sastrawan terkemuka terhadap novel Max Havelaar, duplikasi komunikasi Asisten Residen Lebak dengan para petinggi Pemerintah Hindia Belanda serta diorama sejarah perlawanan masyarakat Banten terhadap pemerintahan kolonial hingga tokoh-tokoh yang lahir di Rangkas Bitung.

Meski tidak terlalu besar, bagi saya museum ini sudah bisa bercerita tentang fakta dinamika sejarah yang pernah terjadi di Rangkasbitung. Menjadi sebuah warisan yang berharga untuk generasi yang akan datang agar tidak melupakan sejarah.

Sebagai informasi tambahan, museum ini juga sudah dilengkapi dengan toilet dan kantin yang akan semakin menambah kenyamanan para pengunjung.

Tulisan ringan ini tentu saja masih melewatkan banyak hal tentang museum ini dan hanya melihat dari sisi seorang penyuka sejarah, tetapi semoga inspirasi dari kehadiran museum ini bisa mengingatkan kita betapa berharganya sebuah kemerdekaan.

Kisah-kisah sejarah dan perjuangan para pahlawan di masa lalu untuk membebaskan negeri ini dari penindasan penjajahan sudah seharusnya bisa menguatkan kita sebagai sebuah bangsa. Untuk semakin menjaga dan menguatkan semangat Bhinneka Tunggal Ika demi utuhnya persatuan dan kesatuan serta masa depan Bangsa Indonesia yang kita cintai ini.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED