Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 05 Nov 2018 11:20 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Bertualang ke Sunda Kecil, Lihatlah Kekayaannya

Yasuspade
d'travelers
Foto 1 dari 5
Mobil yang menemani kami berkeliling Lombok
Mobil yang menemani kami berkeliling Lombok
detikTravel Community - Bertualang ke Sunda Kecil yang kaya dengan wisatanya. Inilah perjalanan sejauh 652 kilometer.

Siapa yang tidak tahu pulau Lombok? Pulau Lombok adalah salah satu dari dua pulau terbesar di Nusa Tenggara Barat, yang juga merupakan bagian dari kepulaun Sunda Kecil. Pulau Lombok terbagi menjadi 4 kabupaten dan 1 Kota, yaitu kabupaten Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur dan Kota Mataram. Daya tarik utama Pulau Lombok di mata para wisatawan adalah potensi alam dan kebudayaannya, tidak heran banyak sekali wisatawan baik dari dalam maupun dari luar negeri menjadikannya salah satu tujuan wajib ketika traveling.

Salah satu momen terbaik dalam hidup saya adalah pernah mengunjungi pulau Lombok bersama teman-teman untuk traveling selama 4 hari. Satu bulan sebelum menginjakkan kaki di pulau Lombok, kami berkumpul dan sepakat untuk pergi traveling bersama dengan rencana perjanan yang kami susun sendiri, mulai dari rincian biaya, keberangkatan, destinasi yang dikunjungi,  penginapan, transportasi, hingga kepulangan. Pada hari itu juga kami sepakati pulau Lombok menjadi tujuan traveling kami selama total 6 hari termasuk perjalanan pulang-pergi dari Yogyakarta. Memiliki selang waktu satu bulan mengharuskan kami untuk berbagi peran, beruntung saya ditunjuk untuk mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan keberangkatan dan kepulangan, yaitu memilih jenis transportasi yang akan digunakan dengan mempertimbangkan biaya dan estimasi waktu yang paling efisien.

Kami berencana berangkat menggunakan kereta api terlebih dahulu dari Yogyakarta menuju Surabaya, lalu dilanjut dengan pesawat dari Surabaya menuju Lombok. Kenapa tidak langsung naik pesawat dari Yogyakarta menuju Lombok? Alasannya, karena kami ingin menekan biaya seminim mungkin, mengingat waktu menabung untuk segala biaya yang kami keluarkan selama traveling hanya sekitar satu bulan, sehingga transportasi murah menjadi solusi kami untuk menekan biaya yang harus dikeluarkan.

Pada Hari keberangkatan, kami berkumpul di stasiun Lempuyangan Yogyakarta pukul 18.00 WIB untuk bersiap menaiki kereta api yang berangkat pukul 19.00 WIB. Dengan estimasi perjalanan sekitar 6 jam, sampailah kami di stasiun Gubeng Surabaya pukul 01.00 dini hari, selanjutnya adalah menuju Bandara Juanda mengunakan taksi online untuk menaiki pesawat yang lepas landas pukul 07.00 pagi.

Karena masih banyak waktu sampai pukul 07.00 pagi, kami secara bergantian mengistirahatkan badan dengan tidur diruang tunggu yang pada saat itu sudah penuh dengan penumpang lain yang juga menunggu dibukanya penerbangan pagi. Sebisa mungkin kami harus memejamkan mata walaupun hanya sebentar, mengingat begitu sampai di Bandara Internasional Lombok kami harus langsung memulai petualangan hari pertama, yaitu mengunjungi Desa Sade dan dilanjut mengeksplore sisi selatan dengan menaiki mobil yang sudah mengunggu kedatangan kami diparkiran bandara.

Hari Pertama

Perjalanan kami berbeda dengan mobil jenis Land Rover karena harga yang ditawarkan cukup murah. Penderitaannya karena jok mobil ini tidak menggunakan bantalan sehingga sangat keras, bisa dibayangkan selama berjam-jam duduk beralaskan besi.

Hari Pertama kami mulai dengan mengunjungi desa Sade. Desa Sade adalah desa yang masih mempertahankan keaslian adat suku Sasak, bisa dibilang desa Sade adalah cerminan asli suku Sasak Lombok, masyarakat Sade masih memegang teguh adat suku Sasak hingga kini. Walaupun letaknya tepat dipinggir jalan utama dan dikunjungi ratusan wisatawan tiap harinya, masyarakatnya sangat ramah dan masih menyuguhkan suasana asli pribumi

Puas di Desa Sade, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ebuak. Pantai Ebuak memiliki 1 karang menjulang sebagai cirinya, suasana di sini begitu tenang dan segar, cocok untuk istirahat sejenak setelah badan ini dipontang-panting selama perjalanan.

Hari Kedua

Rasanya belum sah ke Lombok kalau belum menginjakkan kaki di Gili Trawangan. Pulau kecil yang sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara.

Hari Ketiga

Usai sarapan, kami menyebrang menuju Pelabuhan Bangsal dimana mobil perang andalan kami terparkir untuk bergegas menuju destinasi selanjutnya yang tidak kalah menarik dan menjadi salah satu wisata unggulan, yaitu air terjun Tiu Kelep. Air terjun Tiu Kelep berada di kaki gunung Rinjani, tepatnya berada di Desa Senaru, Kabupaten Lombok Utara, jaraknya sekitar 60 km dari pelabuhan Bangsal, atau sekitar 90 menit berkendara.

Setelah trekking kurang lebih 45 menit melewati berbagai medan terjal yang membuat kami bermandikan keringat, sampailah kami di area air tejun Tiu Kelep. Tidak bisa dipungkiri, kegagahan air terjun Tiu Kelep menyihir siapapun yang datang dan menyaksikan langsung dari dekat.

Perjalanan pulang menuju penginapan yang berada di Kota Mataram membutuhkan waktu yang cukup lama jika ditempuh dari lokasi air terjun Tiu Kelep yang berada di Kabupaten Lombok Utara. Dari lokasi air terjun menuju parkiran kendaraan kami harus menghadapi kenyataan untuk melewati jalur trekking jahat itu sekali lagi. Benar saja, ketika berangkat kami membutuhkan waktu 45 menit untuk trekking, ketika pulang kami menghabiskan waktu lebih dari 60 menit karena kami beberapa kali berhenti untuk beristirahat di shelter yang sudah tersedia di jalur trekking.

Hari Keempat

Hari keempat kami mengunjungi tempat wisata yang bernama Kebon Irup Adventure, di sini kami akan menjajal serunya river tubbing menyusuri aliran sungai yang penuh dengan jeram menantang. Kebon Irup Adventure berada ditengah area persawahan luas, sehingga untuk mencapai lokasi, pengunjung harus memarkir mobil perang dipinggir jalan lalu dilanjut dengan trekking menyusuri hamparan persawahan di siang yang sangat terik. Jujur saja teriknya matahari di Lombok terasa lebih menyengat daripada di Jogja sehingga ketika trekking di hamparan persawahan rasanya kulit ini seperti ditusuk jarum panas, situasi ini membuat kami ingin segera bertemu air sungai yang dingin dan segar.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA