Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 11 Sep 2018 18:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menjelajahi Kuburan Suku Toraja di Gua Londa

Neny Setiyowati
d'travelers
Foto 1 dari 5
Sepasang Romeo dan Juliet di dalam Gua Londa dengan bunga,rokok,permen dan uang koin sebagai sesaji
Sepasang Romeo dan Juliet di dalam Gua Londa dengan bunga,rokok,permen dan uang koin sebagai sesaji
detikTravel Community - Berbeda dengan kebanyakan tempat wisata yang pada umumnya cantik. Di sini isinya tengkorak, tulang dan peti mati. Inilah kuburan suku Toraja, Gua Londa.

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan. Populasinya diperkirakan ada sekitar 1 juta jiwa. Terkenal akan adat dan budayanya yang unik dan masih terjaga dengan baik. Yang paling unik dan terkenal adalah upacara pemakamannya yang merupakan ritual paling penting dan berbiaya mahal.

Semakin kaya dan berkuasa seseorang, semakin mahal pula biaya upacara pemakamannya. Namun begitu seseorang meninggal dunia, jasadnya tidak langsung dimakamkan melainkan disemayamkan terlebih dahulu selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sementara itu pihak keluarga merawat jenazahnya. Memperlakukannya seperti orang yang tengah sakit. Dibawakan makanan, minuman dan rokok. Bahkan dimandikan dan dipakaikan baju secara teratur.

Ada 3 cara pemakaman yaitu peti mati bisa disimpan di dalam gua, di makam batu berukir dan di gantung di tebing. Salah satu tempat makam yang paling banyak makam dan paling terkenal adalah Gua Londa. Sebuah gua alam tinggi terletak di dinding perbukitan dan tebing, berada di Desa Sandan Uai, Kecamatan Sanggalangi Kabupaten Toraja Utara, sekitar 7 KM dari selatan Kota Rantepao.

Gua ini telah berumur ratusan tahun dan masih digunakan sampai sekarang. Untuk masuk ke Gua Londa, tarif tiket masuknya 15 ribu rupiah untuk turis lokal dan 30 ribu rupiah untuk turis asing. Gua ini memiliki panjang 1KM dan di dalamnya tidak ada penerangan sama sekali alias gelap gulita.

Tapi lampu di HP cukup membantu pencahayaan. Meski sangat disarankan untuk menyewa lampu petromaks warga seharga 50 ribu alasannya agar tidak tersesat. Dari kejauhan, sisi tebing terlihat subur dengan hijaunya pepohonan hutan dan udara sejuk. Namun jika dilihat lebih seksama, terdapat peti mati berwarna-warni yang terselip di celah-celah dinding tebing. Sedangkan gua berada di kaki tebing.

Di dinding tebing sekitar gua, sederetan patung kayu lengkap dengan pakaiannya berdiri rapi di celah-celah yang dilubangi di tebing bagaikan jendela dan balkon rumah seolah-olah menyambut para pengunjung. Patung-patung ini disebut dengan Tau-tau. Tau-tau mewakili orang mati yang dikuburkan,diukir sangat mirip dengan orangnya dari kerutan wajah atau kulit leher yang mengendur. Biasanya kayu yang dipakai adalah kayu nangka yang cenderung menguning lambat laun.

Di dekat Tau-tau terdapat makam gantung yaitu sejumlah peti mati kayu yang digantung tertutup rapat oleh balok kayu. Peti mati yang disebut dengan erong ini menunjukkan tingkat derajat seseorang. Semakin tinggi letak peti, semakin tinggi derajatnya. Orang mati juga dapat membawa kekayaan mereka ke alam baka. Inilah salah satu alasan kenapa peti mati diletakkan di tempat tinggi, untuk melindungi harta karunnya dari pencuri.

Semakin tinggi erong ditempatkan, semakin singkat pula perjalanannya masuk ke Nirwana. Sebelum masuk ke gua terlihat tulang-tulang berserakan yang jatuh dari erong yang sudah termakan usia. Memasuki gua,aura mistis mulai terasa ditambah keadaan gua yang gelap gulita. Terdapat banyak tengkorak,tulang yang sudah diatur di celah-celah gua. Konon kabarnya tulang-tulang tersebut sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Tengkorak dan tulang-tulang yang berserakan di tanah tidak bisa asal dipindahkan. Harus melalui upacara layaknya upacara pemakaman yang pertama. Oleh karena itu banyak tengkorak dan tulang yang tergeletak di dasar gua.

Yang aneh meskipun terdapat banyak erong beserta tengkorak dan tulang dimana-mana, tidak tercium bau amis ataupun bau mayat. Terlihat beberapa pakaian,air minum, rokok, permen, bunga, pinang, uang koin yang merupakan bagian dari sesaji yang di tempatkan oleh para kerabat dan peziarah.

Kontur gua dipenuhi stalagmite dan stalaktit membuat beberapa bagian gua hanya setinggi 1 meter saja dan harus berjalan membungkuk. Yang menarik, di Gua Londa juga terdapat sepasang Romeo dan Juliet. Sepasang kekasih yang bunuh diri karena jalinan cintanya tidak direstui oleh orang tuanya karena masih ada hubungan saudara. Hal ini terlihat dari kedua tengkorak,tulang yang didekatkan. Ketika menjelajahi gua dilarang memindahkan tengkorak,tulang atau artefak lainnya apalagi membawanya pulang. Hal ini adalah etika yang harus dipatuhi para pengunjung.

Perjalanan menjelajahi Gua Londa adalah pengalaman luar biasa yang belum kami temukan di tempat lain. Apa kamu juga tertarik mengunjunginya? Jika iya, pertama-tama kamu harus ke Makasar dulu. Sesampainya di Makasar kamu bisa naik bus ke Toraja dengan durasi 8 jam. Tersedia juga bus malam supaya hemat waktu dan biaya, dengan beragam fasilitas dari harga 150-300 ribu rupiah. Setibanya di Toraja, kamu bisa sewa motor untuk mempermudah eksplorasi.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED