Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 19 Sep 2018 13:53 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kawah Ijen, Si Api Biru yang Jadi Bucket List

Neny Setiyowati
d'travelers
Foto 1 dari 5
Kawah Ijen dengan kepulan asap belerang terletak di puncak Gunung Ijen
Kawah Ijen dengan kepulan asap belerang terletak di puncak Gunung Ijen
detikTravel Community - Wisata Kawah Ijen memang menjadi buruan para wisatawan. Langka dan fenomenal, destinasi ini wajib jadi bucket list traveler!

Kawah Ijen berada di puncak Gunung Ijen di ketinggian 2443 mdpl. Gunung Ijen adalah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi. Lokasinya yang strategis di antara 2 kota membuat Kawah Ijen mudah diakses. Perjalanan kami mulai dari Kota Banyuwangi.

Pemilik persewaan  motor menawarkan untuk istirahat sejenak sebelum melaju ke kaki Gunung Ijen. Karena masih terlalu dini untuk melakukan pendakian dan jalur pendakian baru dibuka jam 12 malam.

Waktu 3 jam kami manfaatkan untuk mandi dan tidur. Tepat jam 10 malam kami mulai melaju menuju Paltuding yang merupakan pintu gerbang utama Kawah Ijen.

Baru 7 menit jalan, salah satu motor kami terasa kempes atau mungkin bocor bannya. Kami pun kembali ke rumah pemilik motor. Ternyata cuma kempes setelah diisi angin kami melaju kembali dengan panduan google maps.

Lalu lintas kota terbilang lancar meski long weekend. Tibalah saatnya meninggalkan kota melalui jalan yang semakin lama sunyi dan gelap tidak ada lampu jalan sama sekali. Dengan jalanan yang semakin lama menanjak dan berliku, hanya beberapa kendaraan yang melintas.

Tiba-tiba motor yang kempes bannya tadi seperti tidak bisa menunjukan kekuatannya. Sudah di gas maksimal tetap tidak bisa melaju di tanjakan. Kami sedikit panik karena hanya kami bertiga di jalanan sepi dan gelap, kanan kiri adalah hutan.

Terasa agak spooky. Dan Pos Paltuding masih lumayan jauh sangat tidak mungkin untuk jalan kaki. Kami berharap ada pengendara melintas dan menolong kami. Menit-menit berlalu, terdengar deru motor dari kejauhan, kamipun bersiap menghadang.

Seorang bapak yang seperti orang gunung berhenti lalu mencoba motor kami dan tetap tidak bisa naik di tanjakan. Bapak itu menyuruh kami mengendarai motor lagi dan mendorongnya dari belakang melewati tanjakan terjal . Setelah melewati tanjakan terjal motor melaju dengan normal.

Bapak itu memandu kami beriringan takut motornya bermasalah lagi dan memang setelahnya tidak ada tanjakan yang seterjal tadi. Dan kami tiba di Paltuding dengan selamat. Rupanya si bapak bekerja di Kawah Ijen dan malam ini berjualan atribut gunung seperti kupluk dll.

Dia menunjukkan warung ibunya, kami pun mampir buat santai sejenak melepas ketegangan dan isi perut dulu sebelum mendaki. Pos Paltuding merupakan titik awal pendakian Kawah Ijen.

Di sini tersedia warung-warung,toilet,tempat mandi dengan area yang luas untuk mendirikan tenda-tenda. Antrian seperti semut tampak di depan loket tiket masuk. Bakalan ramai banget jalur pendakian malam ini.

Harga tiket masuknya Rp. 7500 di weekend dan Rp. 5000 di hari biasa. Sedangkan pendaki asing Rp.100.000 dan Rp.150.000 di weekend. Tepat jam 1 dini hari kami mulai mendaki.

Hanya ada 1 jalur pendakian,jadi sangat mudah,tidak akan tersesat. Dengan struktur tanah lembab kadang-kadang sedikit berpasir dengan kemiringan hampir 40 derajat. Lumayan agak berat untuk mencapai puncak yang jauhnya 3 km.

Sebelum sampai puncak tersedia beberapa pos untuk rehat sejenak. Tapi kami terus melaju karena takut kehilangan blue fire yang munculnya sekitar jam 2-4 dini hari.

Gemerlapan cahaya bintang menjadi penyemangat kami. Untuk pendaki yang tidak kuat tersedia angkutan manual seperti gerobak yang di tarik atau di dorong oleh penduduk lokal.

Tepat jam 3 kami sudah berada di puncak yang tak terlihat keindahannya karena gelap. Ketika hendak turun ke kawah beberapa penduduk local memaksa kami untuk menyewa masker cerobong, harganya Rp. 50.000.

Kami berdalih kalau sudah punya. Sebenarnya masker ini penting untuk menghindari bau belerang yang berbahaya. Tapi masker kain yang kami punya sudah cukup membantu.

Berjalan menuruni kawah sejauh 1 km dengan medan berbatu,terjal dan sempit dengan gerak pelan karena terlalu banyak orang. Kami juga harus berbagi jalan dengan pendaki yang balik dari kawah dan dengan penambang belerang yang melintas.

Mereka lebih utama karena membawa beban belerang puluhan sampai ratusan kg di pundak kanan kiri. Tepat jam 4 kami tiba di mulut kawah. Kawah yang luasnya 5466 Hektar ini merupakan kawah atau danau air sangat asam terbesar di dunia.

Terlihat aktifitas penambang belerang yang bisa dikatakan pekerjaan paling berbahaya di dunia. Setiap hari menghirup gas beracun dan cairan belerang itu sangat panas, salah-salah nyawa taruhannya.

Peralatan yang dipakai pun sangat sederhana. Belum lagi mereka harus memikul hasil tambangnya sampai ke Paltuding. Dengan pendapatan sekitar Rp. 50.000-RP. 75.000 per hari.

Hal ini membuat kami lebih bersyukur dengan kehidupan kami dengan apa yang kami peroleh. Blue fire yang diburu pendaki tampak timbul tenggelam tertutup asap belerang. Memang indah sekali dan unik.

Termasuk fenomena alam langka karena cuma terjadi di 2 tempat. Satunya lagi di bumi Islandia. Kita layak berbangga memiliki keindahan alam dengan fenomena ajaib ini.

Buat kamu yang belum ke Kawah Ijen sudah saatnya untuk datang. Fenomena langka ini patut disaksikan setidaknya sekali seumur hidup. Jangan kalah dengan turis asing.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED