Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 14 Okt 2018 11:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menyusuri Pantai di Malang dan Kemping Ceria di Sana

Derry N
d'travelers
Foto 1 dari 5
Kemping di Pantai Ngliyep.
Kemping di Pantai Ngliyep.
detikTravel Community - Ke Malang hanya mengunjungi tempat-tempat yang mainstream saja? Cobain deh ke selatan, ada banyak barisan pantai-pantai kece yang akan melengkapi liburanmu.

Sehabis dari Probolinggo, saya dan Yen menuju Kota Malang dengan menggunakan bus yang harus di tempuh selama 2.5 jam perjalanan. Sesampainya di Terminal Arjosari sekitar pukul 7 malam, saya dan Yen langsung menuju ke penginapan Kampoeng Tourist di wilayah Klojen dengan menggunakan ojek online. Penginapan ini berada di lantai 3 yang satu bangunan dengan Hotel Helios.

Setelah mendapatkan kasur di kamar dormitory dan berbilas diri, lantas saya mengajak Yen berjalan-jalan di sekitar wilayah Klojen sambil mencari makan malam. Usai itu, saya mengatur rencana untuk kemping di Pantai Ngliyep yang berada di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang.

Pada pagi hari berikutnya, saya dan Yen bergegas menuju Pantai Ngliyep dengan menggunakan sepeda motor yang berjarak 64 kilometer dan harus di tempuh selama kurang lebih 2 jam perjalanan dengan melewati rute Kepanjen, Pagak lalu Donomulyo. Setelah itu, kami tiba di pintu gerbang dan harus membayar retribusi sebesar Rp 16 ribu per orang. Lalu perjalanan dilanjutkan kembali beberapa meter ke depan dengan suguhan perbukitan dan rimbunnya pepohonan hingga sampai di parkiran sepeda motor.

Setelah itu, saya dan Yen turun dari sepeda motor lalu bertemu dengan Pak Iwan, salah satu pengawas jaga pantai. Lantas saya bertanya soal keberadaan Pantai Ngledakan Ciut yang saya dapatkan informasinya melalui internet. Pak Iwan mengatakan lokasi pantai tersebut sangat jauh dan harus di tempuh dengan trekking memutari tiga bukit selama 1.5 jam. Dia juga menyarankan untuk tidak kemping di area tersebut karena jauh dari pengawasan.

Dan saya pun mengatakan hanya untuk mengunjunginya saja tapi akan kemping di area Pantai Ngliyep. Kemudian Pak Iwan menggambarkan rute pada secarik kertas sekaligus menjelaskan keberadaan Pantai Ngledakan Ciut. Semantara saya dan Yen hanya mendengarkan apa yang dia katakan.

Tanpa membuang-buang waktu lagi karena sudah terlalu siang, saya dan Yen langsung berjalan di hamparan pasir putih menuju Pantai Pasir Panjang dengan melewati jembatan kayu yang menghubungkan dua pantai hanya dengan membawa matras dan 3 botol air mineral yang terbungkus plastik sementara ransel saya titipkan di dalam pos.

Sangat banyak pengunjung yang datang, beberapa orang sedang bermain di bibir pantai dengan air laut yang surut sehingga bebatuan karang muncul ke permukaan, beberapa orang hanya duduk-duduk di tepi pantai dan beberapa orang lainnya berlalu-lalang di sekitar pantai. Fasilitas di lokasi ini cukup lengkap seperti toilet umum, warung makan, musala, wahana bermain anak serta penginapan dengan biaya menginap mulai dari Rp 50-100 ribu.

Saya dan Yen terus berjalan menjauhi keramaian hingga menaiki bukit lalu trekking di jalan setapak memutari bukit kemudian menuruninya dan sudah berada di Pantai Pantai Teluk Putri dan terus berjalan melewati barisan warung-warung yang sudah tutup, menyusuri Pantai Goa Pathuk Ilang dan Gunung Kombang yang bersebelahan dengan Pantai Watu Lawang.

Setelah itu, saya mengajak Yen untuk memasuki Gunung Kombang dengan melewati jembatan kayu dan gapura lalu berdiri sejenak di salah satu tebing karang sehingga terlihat keindahan panorama pemandangan alam yang masih alami berpadu dengan tebing-tebing karang lainnya yang terselimuti rimbunnya pepohonan. Namun di balik keindahannya banyak cerita yang beredar jika di pantai ini sangat angker.

Hal itu terlihat karena ada sebuah pesarehan (rumah kecil) di atas Gunung Kombang yang konon dipercayai oleh penduduk setempat sebagai salah satu favorit Nyai Roro Kidul. Waktu pun terus berlalu, dan saya mengajak Yen untuk melanjutkan perjalanan lagi melewati warung-warung yang sudah tutup di Pantai Watu Lawang hingga berada di ujung jalan.

Kami trekking ke atas bukit lalu berjalan dengan mengikuti jalan setapak dalam hening yang menggeliat dan aroma mistis pun mulai kurasakan saat melewati semak belukar dan pohon-pohon dengan akar yang muncul di permukaan tanah. Tidak ada seorangpun selain kami berdua yang terus berjalan dan mencoba menepis segala hal yang ada di luar nalar.

Hingga akhirnya, saya mendengar alunan debur ombak yang menghempas bukit karang seiring dengan langkah kaki yang terus berjalan. Dan dari balik semak belukar saya melihat hamparan pasir putih dengan air laut yang surut dan sangat jernih terapit oleh dua bukit. Kemudian kami sudah berada di tepi pantai Pantai Njulek, lantas saya mengajak Yen untuk beristirahat sejenak di pantai yang sepi tersebut.

Lalu saya duduk beralas matras di dekat batang pohon yang daunnya sedikit gugur, sementara Yen berjalan ke sana-sini di tepi pantai seakan sedang menikmati kesunyian yang mengungkungi Pantai Njulek. Waktu pun seakan berputar dengan cepat, sehabis bermain di tepi pantai, Yen berjalan menghampiri saya dan mengajak untuk melanjutkan ke pantai Ngledakan Ciut yang berada di balik satu bukit lagi.

Sejenak saya memandang ke langit lalu melihat jam di ponsel yang sudah menunjukkan pukul 4 sore, karena waktu yang mepet dan tidak membawa peralatan, saya memutuskan untuk segera kembali ke Pantai Ngliyep sebelum gelap malam mengikis terang. Dan kami berjalan dengan melewati rute yang kami lalui sebelumnya, memutari bukit hingga sampai di ujung jalan Pantai Watu Lawang.

Saya pun mengajaknya untuk terus jalan menuju Pantai Ngliyep seiring dengan matahari yang mulai merangkak turun perlahan-lahan ke ujung barat. Sesampainya di pos jaga, kami mengambil ransel masing-masing yang saya titipkan di dalam pos kemudian berjalan menuju area kemping di Pantai Ngliyep.

Dengan melewati warung-warung yang akan tutup lalu melewati gundukan tanah dan sesaat kemudian terlihat hamparan pasir putih yang membentang luas. Lantas kami segera membuka tenda kemping di dekat batang pohon yang tanpa daun dan tidak jauh dari sungai yang terbendung.

Setelah itu, kami mencari ranting-ranting pohon yang berserakan di atas pasir lalu mengumpulkanya pada satu tempat untuk membuat api unggun sebagai penerang malam. Sementara itu, di ujung barat rona senja yang kemerah-merahan mulai menggores langit yang lambat laun matahari mulai menghilang dari pandangan seiring dengan gelap malam yang sudah mengikis terang.

Lalu saya mulai menyalakan api di tumpukan ranting-ranting kering yang perlahan-lahan mulai membesar dan menerangi gelap malam. Usai itu, kami memasak ala kadarnya kemudian makan malam bersama dalam alunan gemuruh debur ombak yang datang menerjang gundukan pasir putih. Selesai makan, kami mengisi kesunyian dengan mengobrol panjang lebar sambil sesekali tertawa hingga nyala api unggun meredup dengan sendirinya, menyisakan bara-bara api. Setelah itu, kami masuk ke dalam tenda untuk beristirahat.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED