Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 21 Okt 2018 19:25 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menikmati Indahnya Pantai-pantai di Mentawai

Rina Kusumayanti
d'travelers
Foto 5 dari 5
Seorang anak sedang berselancar di Pantai Mapaddaget
Seorang anak sedang berselancar di Pantai Mapaddaget
detikTravel Community -

Perjalanan ke Kepulauan Mentawai untuk pertama kali memberi kesan istimewa. Ada banyak pantai indah yang tersebar di beberapa pulau yang ada.

Perjalanan ke Pulau Mentawai menjadi idaman saya. Ketika tahu bahwa kantor kami akan menyelenggarakan pelatihan untuk guru sekolah dasar di Kab Kepulauan Mentawai, saya langsung berharap agar terpilih menjadi salah satu panitia yang terlibat dalam menangani pelatihan tersebut.

Benar saja, harapan saya terkabul, langsung browsing spot-spot menarik yang ada di Mentawai yang kira-kira bisa saya kunjungi nanti di sela waktu luang. Menjelang keberangkatan, akhirnya saya baru tahu bahwa pulau yang kami tuju adalah Pulau Sipora yang menjadi pusat pemerintahan daerah Kab Kepulauan Mentawai, tepatnya di Tuapejat.

Kami bertujuh berangkat menuju Mentawai dengan rute terbang dari Yogyakarta-Padang. Dari Yogyakarta kami berangkat sekitar pukul 12.10 WIB dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Transit di Cengkareng dan melanjutkan terbang ke Padang pukul 14.40 WIB. Setelah hampir dua jam, akhirnya kami tiba di Bandara Internasional Minangkabau.

Dari bandara kami langsung menuju hotel untuk menginap di salah satu hotel yang dekat dengan Pelabuhan Muara. Tiket kapal ke Tuapejat sebelumnya telah kami booking lewat salah satu kenalan dari Dinas Pendidikan Kab Kepulauan Mentawai dan langsung kami bayar di loket setelah kami tiba di Padang. Sebagai informasi, tiket kapal ke Mentawai tidak bisa dibeli secara online, umumnya beli langsung di loket di Pelabuhan Muara. Harga tiket kapal VIP yang kami beli per orang Rp. 300.000, menggunakan Mentawai Fast.

Esok pagi sekitar pukul 05.00 WIB kami berangkat menuju pelabuhan dengan menggunakan taksi online. Kapal ke Tuapejat berangkat pukul 06.00 WIB, dengan perjalanan sekitar 3 jam lebih sampai ke pelabuhan di Tuapejat. Kapal Mentawai Fast yang kami tumpangi cukup nyaman bagi saya. Untuk kelas VIP terletak di lantai paling atas dan setiap penumpang diberi air minum dan snack.

Selama perjalanan kemarin cuaca sedang tidak bersahabat. Dari awal hingga akhir perjalanan kami terbanting-banting di dalam kapal. Mau tahu rasanya seperti apa? Pernah naik banana boat? Kalau sudah, bayangkan saja naik banana boat tetapi dengan versi 3 jam!

Tiba di Tuapejat, mobil jemputan dari hotel sudah menunggu. Kami kemudian mampir makan di dekat pelabuhan kemudian menuju hotel untuk menaruh barang dan sekaligus istirahat sejenak. Hotel yang kami gunakan berjarak sekitar 5 km dari pelabuhan. Di Tuapejat tidak terlihat transportasi umum, jadi disarankan jika ke sini backpackeran coba cari informasi dulu kendaraan yang bisa disewa selama berada di Tuapejat. Berhubung saya kesini dalam rangka kerja, maka urusan transportasi dan hotel sudah disediakan dari awal.

Sore sekitar jam 3 kami dijemput oleh salah satu pejabat Dinas Pendidikan Kab Kepulauan Mentawai. Hari ini kami diajak jalan-jalan menyeberang ke Pulau Awera dengan menggunakan kapal kayu kecil. Harga sewanya? Gratis.

Sampai di Pulau Awera, kami disambut dengan hamparan pantai pasir putih dengan air lautnya yang berwarna biru toska. Indah sekali. Dari tempat kami menyandarkan kapal, kami melihat ada semacam resor yang kelihatannya menarik. Reflek kaki kami melangkah kesana. Terlihat beberapa turis asing sedang berjemur di depan halaman resort yang memiliki kolam renang. Sejenak saya sempat ragu, apakah kami diperbolehkan masuk kesana? Mengingat sempat ada berita mengenai anggota DPR yang ditolak masuk ke salah satu pulau di Mentawai.

Benar saja, begitu melihat kedatangan kami, seorang laki-laki asing (bule) langsung menyongsong kedatangan kami dan berdiri di depan resort tersebut sambil melipat tangan di depan dadanya dengan gestur menantang dan kurang bersahabat. Menyusul di belakang bule congkak tersebut, dua orang perempuan yang merupakan karyawan di resort itu tergesa-gesa menghampiri kami dan mengatakan bahwa resort tersebut adalah termasuk wilayah pribadi yang tidak boleh dimasuki sembarang orang.

Kami mengerti dengan penjelasan karyawan resort tersebut. Cuma saya terganggu dengan cara tidak bersahabat bule congkak tersebut. Dia pikir mentang-mentang resort itu wilayah pribadi maka dia bisa bersikap tidak sopan kepada orang lain? Kami kemudian menjauhi resort tersebut dan hanya menikmati keindahan pantai dan pasir putihnya disisi lain dari resort tersebut.

Pantai dan pasir putih di Pulau Awera sungguh menghipnosis saya. Saya menikmati keindahan pantai tersebut. Air laut berwarna biru kehijauan dengan ombak yang tenang ditambah dengan suasana pantai yang sepi, sangat menenangkan. Banyak kerang-kerang cantik bertebaran di pantai dan umang-umang berkeliaran dengan bebasnya.

Ingin rasanya saya tinggal lebih lama lagi di pulau ini. Bayangkan, dengan segala keindahan pantainya, suasananya yang tenang, udara yang segar, dan alam yang masih alami, siapa yang tidak tergoda untuk berlama-lama disini. Ah, saya berandai-andai akan menyewa resort itu suatu hari nanti dan menikmati keindahan alam milik Indonesia ini.

Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama berada di Pulau Awera. Kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Tuapejat. Di Tuapejat sebelum kembali ke hotel, kami mampir sebentar ke Pantai Jati. Pantai ini lebih banyak dikunjungi oleh turis lokal. Hari itu kami habiskan waktu menikmati sunset di Pantai Jati.

Lokasi pantai ini tidak begitu jauh dari pelabuhan. Untuk menuju Pantai Jati, kami melewati perkampungan nelayan yang lokasinya benar-benar berada di bibir pantai. Sempat terlintas dalam pikiran saya, apakah perkampungan nelayan yang berada tepat dibibir pantai ini tidak berbahaya?

Tempat lain yang kami kunjungi disela-sela padatnya kegiatan pelatihan adalah Pantai Mapaddegat yang juga terletak di Pulau Sipora. Saat kami kunjungi sore hari pantai ini lumayan sepi. Terlihat beberapa anak kecil bermain selancar. Sepertinya sore hari ombak di pantai ini cukup mendukung untuk kegiatan bermain selancar. Saya dan teman-teman hanya duduk menonton anak-anak bermain selancar dan menikmati Pantai Mapaddegat.

Selama di Tuapejat kami hanya bisa mampir ke dua pantai itu saja ditambah menyeberang ke satu pulau saja. Untuk di Tuapejat sendiri pantai yang ada menurut saya belum dikelola secara maksimal oleh pemerintah setempat. Saya berharap pemerintah daerah Kab Kepulauan Mentawai segera menggarap secara maksimal potensi wisata disini yang pada akhirnya bisa memiliki dampak ekonomi yang baik kepada masyarakat lokal.

Sangat terasa bedanya ketika saya mengunjungi Pulau Awera yang saya kira pengelolaannya diserahkan ke pihak swasta. Entahlah, saya hanya merasa ada perbedaan saja. Saya lebih menikmati pantai di Pulau Awera. Mungkin karena di sana lebih tenang dan jauh dari keramaian atau juga mungkin lokasi pantai yang mereka miliki memang pantai-pantai yang lebih indah daripada yang kami nikmati di Tuapejat. Namun saya berjanji di dalam hati, suatu hari nanti saya akan kembali lagi ke Mentawai.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA