Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 07 Nov 2018 15:59 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menapaki Jejak Budaya Portugis di Ibukota

Dodi Wijoseno
d'travelers
Foto 1 dari 5
Bagian dalam Gereja Tugu. Gereja ini telah berusia 270 tahun dan menjadi cagar budaya
Bagian dalam Gereja Tugu. Gereja ini telah berusia 270 tahun dan menjadi cagar budaya
detikTravel Community -

Jejak portugis masih tersisa di Jakarta. Salah satu yang paling terkenal adalah Kampung Tugu.

Kota Jakarta, yang telah berusia ratusan tahun tentunya menyimpan banyak cerita sejarah dalam perjalanannya sebagai sebuah kota. Sumber-sumber sejarah menceritakan, selama ratusan tahun begitu banyak interaksi dari berbagai macam bangsa di tempat ini karena Jakarta -- yang pada masa lampau bernama Jayakarta ketika didirikan oleh Fatahillah kemudian diubah menjadi Batavia oleh Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen setelah dia dan pasukannya berhasil merebut Jayakarta dari kekuasaan Kesultanan Banten pada tahun 1619 -- merupakan sebuah kota Pelabuhan yang ramai pada masanya. Pedagang-pedagang dari Cina, Arab, India dan Eropa serta seluruh dunia melakukan transaksi perdagangan di tempat ini. Nama Batavia mulai diubah menjadi Jakarta pada masa penjajahan Jepang di tahun 1942.

Setelah dijadikan pusat pemerintahan dan tempat kedudukan Gubernur Jenderal VOC, tentu saja menjadikan Batavia di masa lalu semakin ramai sebagai tempat bertemunya berbagai macam orang dengan berbagai macam latar belakang, yang saling berinteraksi baik melalui transaksi perdagangan maupun kebudayaan lintas bangsa yang memberikan corak tersendiri terhadap kebudayaan lokal masyarakat sekitar yang beberapa diantaranya masih bisa dilihat hingga saat ini.

Salah satu kisah dari masa lalu Jakarta ada di Kampung Tugu, sebuah wilayah di pesisir Jakarta Utara, berjarak tidak begitu jauh dari wilayah Pelabuhan Tanjung Priuk. Keunikan dari Kampung Tugu ini adalah komunitas warganya yang masih memiliki darah Portugis, Gereja Tugu, Musik Keroncong Tugu, dan makanan khas masyarakatnya. Saya berkesempatan mengunjunginya pada hari Minggu  tanggal 4 November 2018 yang lalu ketika mengikuti tour sejarah Jakarta bersama salah satu komunitas tour wisatakreatif Jakarta yang mengkhususkan diri untuk tour sejarah dan kuliner dengan guide yang berpengalaman.

Menurut buku Tempat-tempat bersejarah di Jakarta karya A. Heuken, Sj, nama Tugu dicatat dalam Sejarah dalam kaitannya dengan orang Portugis yang merupakan bekas tawanan perang atau budak belian yang dibawa Belanda dari daerah Portugis di sekitar Malaka, India, dan Sri Lanka. Pada tahun 1661 sebagian wilayah Tugu dijatahkan kepada 23 keluarga Kristen. Para bekas tawanan perang atau budak belian dibebaskan (dimerdekakan) dengan syarat bersedia pindah dari Gereja Katolik masuk ke Protestan. Oleh karena itu mereka dikenal sebagai kaum Mardijker. Beberapa lagu serta tarian dari Tugu serupa dengan apa yang terdapat pada masyarakat Kampung Portugis di Malaka/Malaysia (A. Heuken, SJ, 1997, p:134).

Menurut informasi pemandu, karena kampung Tugu terletak cukup jauh dari Tembok Batavia, mereka bisa menjaga identitas dan kekhasannya, salah satunya dalam bermusik. Untuk hiburan mereka membuat sebuah alat musik yang diberi nama Macina yang berbentuk seperti ukulele. Karena bunyi alat tersebut ecrang-crong maka masyarakat sekitar pada masa itu menyebutnya sebagai keroncong. Selain itu ada tradisi mereka yang disebut tradisi Rabo-Rabo dan Mandi-Mandi. Pada tradisi Mandi-Mandi warga Kampung Tugu akan saling mencoreng wajah dengan bedak. Dalam tradisi ini bedak merupakan simbol untuk membersihkan diri dari kesalahan.

Penelusuran kami dimulai dari Halaman Gereja Tugu menuju ke rumah penduduk yang memiliki usaha membuat makanan khas kampung Tugu. Ada beberapa makanan khas kampung Tugu yang merupakan perpaduan budaya Portugis dan pribumi, diantaranya yang kami temui di tempat ini: apem kinca, kue apem yang dimakan dengan kinca (kuah gula merah yang dicairkan), ketan unti dan kue pisang udang. Bagi saya, bentuk kue pisang udang mengingatkan pada kue Nagasari karena sama-sama terbuat dari tepung beras dan dibungkus menggunakan daun pisang, hanya saja kue pisang udang berisi udang dengan bumbu yang dihaluskan sehingga menghasilkan cita rasa yang unik.

Di rumah ini ada sebuah gazebo kayu yang bertuliskan Keroncong Tugu Cafrinho, gazebo ini memajang alat-alat musik tradisional untuk musik keroncong Tugu seperti Macina yang bentuknya menyerupai ukulele dan alat musik lainnya yang lebih besar, serta di temboknya terdapat gambar-gambar yang menggambarkan sejarah Kampung Tugu dan musik keroncong khasnya. Menurut informasi tempat ini paling tersohor bagi penikmat musik Keroncong Cafrinho Tugu.

Penelusuran dilanjutkan menuju ke salah satu rumah tua milik keluarga Michels di kawasan Tugu. Rumah tua ini yang telah ada selama beberapa generasi. Menurut salah satu penuturan keturunan keluarga Michels rumah ini telah berusia sekitar 250 tahun. Bagian dalam rumah tua ini berisi foto keluarga dan asesoris khas Portugis. Semoga rumah ini terus dilestarikan oleh pemerintah setempat sebagai cagar budaya, agar masih bisa dilihat generasi mendatang.

Di rumah tua bersejarah ini salah satu anggota keluarga Michels menjelaskan mengenai sejarah kampung Tugu beserta komunitas masyarakatnya dan nama-nama marga Portugis yang ada di tempat ini seperti: Michiels, Quiko, Cornelis dan lain-lain. Menurut informasi, nama-nama marga tersebut sudah tidak murni Portugis karena sudah dicampur nama marga Protestan Belanda pada masa lalu. Hal yang sangat menarik di tempat ini adalah anak-anak kampung Tugu sedang berlatih musik keroncong di halaman depannya. Anak-anak tersebut berasal dari berbagai marga, seperti: Michiels, Quiko dan lain-lain yang menandakan mereka masih memiliki darah Portugis. Sejak kecil anak-anak yang berlatih musik keroncong ini telah memiliki darah seni yang tinggi, dan kelak mereka akan menjadi generasi penerus dari kelompok Keroncong Tugu ini.

Lalu perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Tugu yang ada di seputaran Gereja Tugu. Di kawasan ini terdapat sungai dengan lebar sekitar 5 meter sebelum memasuki pemukiman penduduk. Kami berinteraksi dengan seorang warga asli yang sudah cukup lama tinggal di sana, perjalanan kami berakhir di ujung Jalan Tugu Indah II.

Perjalanan tour diakhiri dengan mengunjungi Gereja Tugu.Gereja Tugu merupakan salah satu Gereja tertua di Jakarta. Didirikan pada tahun 1748 atau sudah berusia 270 tahun pada tahun 2018 ini . Gereja ini memiliki arsitektur khas Eropa dengan corak bangunan yang tinggi dan kokoh. Karena nilai sejarahnya Gereja ini telah dijadikan sebagai cagar budaya.

Perjalanan Kampung Tugu ini ditutup dengan melihat acara di Panggung Festival Tugu 2018 karena bertepatan dengan Festival Tugu 2018, di mana dalam acara tersebut terdapat nyanyian dan musik keroncong khas Kampung Tugu dan pentas seni lainnya , serta ada sesi penjelasan mengenai asal muasal serta Sejarah Gereja Tugu dan Kampung Tugu oleh salah satu keturunan penduduk asli Kampung Tugu. Tidak lupa saya juga menyantap gado-gado khas Kampung Tugu yang nikmat.Pesatnya laju pembangunan dan modernitas banyak kota besar seperti Jakarta bisa memunculkan kekhawatiran akan tergusurnya cagar budaya yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Kekhawatiran ini bukanlah tanpa alasan karena beberapa situs bersejarah telah beralih fungsi atau disewakan dengan alasan ekonomi.

Sebagai salah satu contoh, lokasi-lokasi penyimpanan peti kemas terlihat telah mengepung kawasan Kampung Tugu ini. Semoga dengan kegiatan tour sejarah kota Jakarta ini, kisah-kisah sejarah itu bisa terus dikisahkan dan dituliskan karena bahasa tulisan memiliki kekuatannya sendiri untuk menyampaikan pesan dari generasi ke generasi sehingga generasi penerus bisa terus menjaga dan melestarikan warisan sejarah dan budaya Indonesia yang begitu kaya dan mengagumkan. 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA