Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 09 Nov 2018 22:17 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pesona Kawah Ijen Tak Lekang Oleh Waktu

Brigida Emi Lilia
d'travelers
Foto 1 dari 5
Penambang belerang sedang mengumpulkan belerang untuk dibawa ke atas , saat tidak menambang mereka biasanya menjadi penarik taksi Ijen.
Penambang belerang sedang mengumpulkan belerang untuk dibawa ke atas , saat tidak menambang mereka biasanya menjadi penarik taksi Ijen.
detikTravel Community - Keindahan Gunung Ijen sudah menjadi rahasia umum. Apalagi kawahnya yang memiliki api abadi, menarik kaki semua pendaki untuk berkunjung.

Nama Gunung Ijen di Banyuwangi sudah terkenal dimana-mana. Selain keindahan pemandangan gunung ada satu fenomena yang membuatnya semakin terkenal, yaitu blue fire yang hanya terdapat di 2 tempat di dunia, yaitu di Islandia dan di Ijen.

Untuk melihat blue fire dan menikmati keindahan Gunung Ijen bukanlah hal mudah, pengunjung harus mendaki sekitar 3 km dengan medan yang terus menanjak.

Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan antara kabupaten Banyuwangi dan kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia.Gunung yang terakhir meletus pada tahun 1999 ini memiliki ketinggian 2.779 mdpl dan terletak berdampingan dengan gunung Merapi.

Di Gunung Ijen terdapat kawah paling asam dan terkenal dengan blue fire yang merupakan hasil reaksi dari gas bumi yang bertemu dengan oksigen pada suhu tertentu. Waktu yang pas untuk melihat blue fire adalah jam 2-4 pagi, sehingga pengunjung biasanya mulai naik pada pukul 1 dinihari.

Jarak ke puncak sekitar 3 km, bagi orang yang sudah biasa mendaki jarak tersebut dapat ditempuh sekitar 1.5-2 jam. Tapi bagi yang tidak biasa naik gunung seperti saya membutuhkan waktu 3 jam atau lebih.

Udara sekitar Gunung Ijen mulai tengah malam sangat dingin, di depan warung dekat tempat parkir tersedia beberapa api unggun untuk menghangatkan badan. Biasanya para pendaki berkumpul di sini, mengobrol sambil menunggu loket pendakian dibuka.

Beberapa pendaki mengisi perut dengan makan mie instan atau menikmati segelas minuman panas sekedar mengusir rasa dingin. Di sini para pendaki yang belum pernah ke Gunung Ijen juga mulai didekati oleh pemandu yang menawarkan jasanya.

Bagi yang belum pernah ada baiknya menggunakan jasa pemandu karena selain menemani, para pemandu juga sangat membantu baik dalam hal informasi yang ingin kita ketahui juga membantu pendaki terutama pendaki wanita saat menyusuri jalur pendakian.

Loket pendakian biasanya mulai dibuka sekitar pukul 00.30 dengan tarif pengunjung :

Nusantara hari biasa Rp 5.000

Nusantara hari libur Rp 7.500

Berkemah Rp 5.000

Kendaraan roda 2 Rp 5.000

Kendaraan roda 4 Rp10.000

Sedang untuk wisatawan mancanegara berlaku tarif berbeda, Para pendaki antri dengan teratur di loket. Setelah mendapat tiket, biasanya langsung mulai mendaki. Di pintu gerbang petugas akan memeriksa tiket.  Di gerbang ini juga para penarik taksi ijen mulai menawarkan jasa bagi pendaki yang ingin menikmati kawah dan Gunung Ijen tapi terlalu lelah untuk berjalan kaki.

Tarif yang ditawarkan berkisar antara Rp 600.000 - Rp 800.000 pp, taksi ijen sendiri berbentuk gerobak beroda 2 dengan tempat duduk yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga penumpang merasa nyaman. Biasanya dibutuhkan 3 orang untuk mengoperasikan taksi ini, 2 orang menarik di depan dan 1 orang mendorong dari belakang.

Trek awal di gunung Ijen lumayan mendaki, di beberapa tempat tingkat kemiringan pendakian sampai 45 derajat. Pada pendakian saya yang pertama belum banyak terdapat tempat istirahat sehingga saat lelah pendaki beristirahat di pinggir jalan. Tetapi saat pendakian yang ke 2 ini sudah dibangun tempat istirahat di beberapa titik sehingga pendaki dapat beristirahat tanpa mengganggu jalan pendaki lain. Di beberapa tempat istirahat itu pun akan dilengkapi dengan kamar kecil dan warung.

Udara dingin, suasana gelap hanya diterangi senter yang dibawa pendaki serta langkah kaki dan obrolan ringan dengan pemandu akan menemani pendaki selama berjalan. Banyaknya pendaki pada akhir pekan membuat suasana ramai cenderung padat, belum lagi penarik taksi baik yang sudah membawa penumpang maupun yang masih menawarkan jasa memenuhi jalan yang tidak terlalu lebar sehingga membuat perjalanan dini hari itu sedikit tak nyaman.

Kegelapan saat mendaki tidak memberi kesempatan bagi pendaki untuk melihat pemandangan sekitar, yang dirasa hanya jalan yang terus mendaki. Saat pertama ke Gunung Ijen saya mendaki kala hujan turun dengan deras, sehingga udara lebih dingin.

Kali ini cuaca cerah meski udara masih tetap dingin dan trek yang dilalui menjadi berdebu. Sehingga pendaki diharapkan memakai masker untuk menghindari debu masuk melalui pernapasan.

Setelah beberapa kali beristirahat dan tujuan yang dirasa tidak makin dekat akhirnya kami sampai di pondok bunder dengan ketinggian 2214 mdpl. Tempat ini sering juga disebut kantin karena  di sini terdapat warung dan toilet. Jika sudah sampai di sini artinya puncak sudah tidak jauh lagi, hanya tinggal satu tanjakan lagi, sisanya jalan yang tidak terlalu terjal.

Para pendaki biasanya beristirahat di sini, mengumpulkan tenaga, mengisi perut atau hanya ke toilet dan beristirahat. Karena kami tidak mengejar blue fire, kami memutuskan untuk beristirahat di sini sambil menunggu agak terang karena jika menunggu di puncak udara masih sangat dingin sehingga kami tidak dapat menikmati panorama dengan maksimal.

Pukul 4 kurang  kami mulai jalan ke puncak, hari sudah mulai terang. Jalanan dan pemandangan sekitar mulai nampak. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan pemandangan indah yang tidak kami temui setiap hari. Beberapa kali berhenti setiap melihat view yang super keren.

Akhirnya kami tiba di kawah Ijen (2386 mdpl) dan hari benar-benar sudah terang. Pemandangan bibir kawah dan sekitarnya memang sungguh indah, pemandangan seperti ini tidak saya dapatkan pada pendakian yang pertama karena kala itu hujan masih terus turun saat kami tiba di puncak dan karena udara sangat dingin kami putuskan untuk turun.

Kali ini seolah balas dendam, kami nikmati suasana kawah ijen sepuasnya, arah angin yang pas membuat udara sekitar kawah tidak berbau belerang sama sekali. Duduk di pinggir kawah, menikmati pemandangan luar biasa sambil memakan roti yang kami bawa dan tidak lupa meminum tolak angin karena badan sudah sangat lelah dan kedinginan. Sehingga untuk mengatasi masuk angin kami meminumnya.

Sekitar pukul 7.30 WIB kami bersiap untuk turun, matahari sudah bersinar dan udara mulai hangat. Kawah ijen yang pagi tadi dipenuhi pendaki  kini mulai sepi. Pemandangan turunpun kami nikmati, meski jalur berdebu membuat kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Kami pun sampai di bawah dengan selamat, sungguh suatu pengalaman yang sangat berkesan baik saat pendakian pertama maupun pendakian yang kedua ini. Entah mungkinkah ada pendakian ketiga ke Gunung Ijen dan melihat blue fire? Semoga ya!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED

Azerbaijan Menggoda Turis

Rabu, 14 Nov 2018 12:10 WIB

Azerbaijan jadi salah satu negara dengan perkembangan pariwisata tercepat dunia. Terus genjot pariwisata, Azerbaijan rilis video tentang keindahan alamnya.