Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 08 Nov 2018 13:40 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Jalan-jalan Nyaman ke Pulau Kembang di Barito Kuala Tanpa Masuk Angin

Foto 2 dari 5
Mengambil Tolak Angin.
Mengambil Tolak Angin.
detikTravel Community - Barito Kuala di Kalimantan Selatan punya destinasi wisata Pulau Kembang yang menarik. Wisatawan bisa liburan nyaman ke sana, asal tahu tipsnya.

Benua Asia boleh jadi merupakan benua terindah yang pernah diciptakan oleh Sang Pencipta. Jangankan benuanya, salah satu kota kecil yang ada Indonesia pun membuat seorang budayawan bule M.A.W Brouwer terpesona, sampai-sampai ia mengkultuskan bahwa Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.

Tak hanya menyabet gelar benua terluas di muka bumi, Benua Asia memang lah benua yang kaya, kaya akan keanakaragamannya. Benua Asia terdiri dari berbagai macam ras, suku, agama, kepercayaan, budaya dan keindahan alam juga flora dan faunanya yang kalau dipetakan rasanya butuh segudang kopi untuk menemaninya.

Keberagamannya itulah yang akhirnya menjadi daya tarik pesona asia, belum lagi alasan-alasan lain seperti sebagain besar 7 keajabain dunia berada di Benua Asia misalnya. Pesona asia memang membuat produksi air liur berlipat ganda, tak hanya bagi penduduknya, juga tetangga-tetangganya.

Sejatinya sebagian besar orang memang senang travelling, bahkan boleh jadi sekarang travelling memang sudah menjadi kebutuhan setelah trend 'kurang piknik' menyeruak. Kebanyakan dari kami sekarang mulai rela menyisihkan sisa-sisa pendapatan bulanan kami atau mungkin ada yang bahkan sampai membuat tabungan sendiri untuk sebatas memenuhi kebutuhan dunia maya juga kabur sejenak dari dunia nyata.

Sebagai sesama traveler, tak ada salahnya kalau kita saling berbagi tips dan trik untuk menjalankan kegiatan travelling agar khusyu, syahdu, aman dan nyaman. Dalam tulisan ini pun saya akan mencoba berbagi tips dan trik travelling versi saya yang saya beri tajuk 'Kiat Pintar Jalan-Jalan Tanpa Gusar.

Empat tahun menekuni jurusan manajemen semasa kuliah merubah pola pikir saya, sekarang setiap apa-apa yang akan saya lakukan selalui saya awali dengan tahap perancanaan yang terstruktur dan sematang mungkin. Tak terkecuali untuk urusan travelling, perencanaan yang matang dan strukutur juga saya terapkan agar semua wish list dan to do list selama travelling bisa saya gores dengan keterangan accomplished.

Perencanaan tersebut meliput segala aspek-aspek umum travelling, dimulai dari scope yang makro seperti destinasi, penginapan, transportasi hingga ke hal-hal yang mungil seperti konsep foto apa yang akan di-post di Social Media kelak.

Seusai perencanaan rangkum dan segala transaksi sudah terbayar lunas, saatnya packing. Sesi packing bagi saya adalah hal yang tak kalah krusial dengan sesi-sesi yang lainnya, karena terkadang biang keladinya bermuara disini. Ketika hendak travelling seringkali barang bawaan yang akan kita tidak sepadaan dengan storage yang tersedia, umumnya pakaian lah yang selalu menjadi pemborong tempat. Untuk itu saya akan mencoba berbagi tips versi saya untuk mengorganisir storage agar tidak overweight bahkan sebelum bepergian.

1. Bawalah pakaian secukupnya, tidak berlebihan, mudah dipadu-padankan dan tentunya seseuai dengan tema destinasi yang akan dituju. Jangan sampai mendaki gunung tapi menggunakan pakaian renang ya!

Oh iya, tak lupa, tonton juga video tutorial melipat pakaian minimalis guna menghemat space storage.Â

2. Bawalah perlengkapan toiletries yang sekiranya dibutuhkan saja, yang sekiranya akan tersedia di tempat bermalam sebaiknya ditinggal saja dan sebisa mungkin selalu membawa produk-produk tersebut dalam ukuran travel size.

3. Bawalah obat-obatan pribadi. Ini lah sebetulnya hal yang teramat sangat penting yang seringkali kita sepelekan padahal dampaknya dapat berakibat buruk. Mengingat topik ini penting, saya akan ulas lebih panjang di paragraf setelah ini.

Pergi traveling tanpa membawa obat-obatan pribadi adalah hal yang fatal, mengapa? Karena, Meman apa mau travelling-nya mendadak ditunda atau bahkan batal karena kondisi badan yang sedang tidak fit? tentu tidak bukan? Menyebalkan rasanya jika sampai kejadian, terlebih bila segala bentuk transaksi  yang sudah dibayar lunas taunya tidak bisa di-refund dengan 1001 alasan.

Selama menekuni jurusan manajemen, saya pernah mengikuti satu kelas mata kuliah yang bernama manajemen risiko. Manajemen risiko ini adalah salah satu mata kuliah yang dimana isinya membahas cara untuk meminimalisir segala bentuk risiko semini-mininya. Tentunya mata kuliah ini bisa diterapkan di segala kasus, tak terkecuali untuk kasus travelling. Pernah mendengar petuah sedia payung sebelum hujan kan? Nah, itu adalah salah satu contoh manajemen risiko.Â

Dalam kasus travelling umumnya yang seringkali menjadi musuh utama para travelers adalah cuaca. Ingat, meski ada ramalan cuaca, tapi ramalan hanyalah sebatas ramalan, tak selalu 100% mutlak akurat, terlebih untuk Indonesia yang dijuluki punya musim pancaroba.

Untuk itu kita harus pintar-pintar bersiasat agar bisa tetap jalan-jalan tanpa gusar. Bagi saya sendiri selalu sedia Tolak Angin, sebelum traveling.

Kenapa Tolak Angin?

Notabene orang Indonesia agaknya memang selalu mengaitkan masuk angin hampir di setiap kejadian kondisi badan yang sedang kurang fit. Bisa saja memang sudah menjadi budaya, tapi bagi saya sendiri yang tentunya orang Indonesia juga, rasanya tidak ada salahnya jika mengaitkan itu.

Karena memang pada prakteknya, saya sendiri dan mungkin sebagian banyak orang ketika sedang dilanda penyakit selalu menjadikan Tolak Angin sebagai pertolongan pertama mengingat mutunya yang sudah terjamin untuk mengatasi masuk angin.

Selain itu sebagai penambah, Tolak Angin merupakan salah satu produk kesehatan kenamaan Indonesia yang terpercaya, halal, juga bisa dipastikan tingkat kemanjurannya mengatasi masuk angin. Kemasannya pun sederhana, mudah dibawa kemana-mana dan tidak makan tempat, sangat travel friendly deh.

Terus yang paling penting sih, Tolak Angin ini mudah untuk dikonsumsi, terlebih yang untuk versi yang cair mengingat saya agak kesulitan mengkonsumsi obat-obatan dalam format tablet juga kapsul.

Seperti di foto yang saya bubuhkan diatas, saya memang selalu membawa Tolak Angin acap kali saya bepergian travelling, selain sebagai pengamalan ilmu manajemen risiko yang saya tekuni tentunya memang menjadi salah satu tindakan preventif agar tidak terjadi hal yang tidak-tidak.

Terlebih,di foto tersebut adalah momen ketika saya travelling ke Hutan Wisata Pulau Kembang Banjarmasin, sebuah perjalanan yang mengharuskan berlayar menggunakan klotok. Maka dengan itu tentunya otomatis saya akan berjumpa dengan angina-angin laut yang menyegarkan tapi tanpa disadari bisa melemahkan imun.

Satu sachet Tolak Angin adalah solusi pintar untuk mengatasi masuk angin yang bisa saja terjadi saat saya traveling tempo hari itu.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED