Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 09 Nov 2018 14:20 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Berburu Golden Sunrise di Puncak Bromo

Khaerudin
d'travelers
Foto 1 dari 5
Golden sunrise di puncak Gunung Bromo
Golden sunrise di puncak Gunung Bromo
detikTravel Community - Gunung Bromo merupakan spot cantik untuk melihat golden sunrise. Maka jangan heran jika ramai traveler yang rela jauh-jauh datang ke sini.

Pegunungan Bromo terletak di provinsi Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Malang, Probolinggo, Lumajang dan kabupaten Pasuruan. Pegunungan ini didiami oleh Suku Tengger. Menurut legenda Suku Tengger merupakan keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger. Ada banyak lokasi menarik di kawasan Bromo yang siap untuk dijelajahi.

Saya dan teman-teman berangkat melalui jalur Malang. Dari kota malang kami menuju ke kawasan Bromo menggunakan mobil elf yang kami carter dari rumah. Dari informasi yang kami dapat, elf yang kami naiki hanya bisa sampai di kawasan strowberry. Entah kenapa disebut kawasan stroberry, kami juga tidak tahu. Mungkin di sekitar tempat parkir kami ada kebun Stroberrynya.

Dari kawasan Stroberry kami harus melanjutkan perjalanan ke puncak Bromo menggunakan jeep yang memang disediakan khusus untuk itu. Kami sudah membooking jeep via telepon sebelum kami berangkat. Biayanya Rp 600 ribu per jeep. Karena rombongan kami ada 10 orang, kami menyewa 2 jeep. Dari Malang kami berangkat sekitar pukul 11 malam dan sampai di kawasan strowberry sekitar pukul dua pagi.

Dinginnya udara di kawasan Strowberry sangat menusuk tulang. Untunglah kami sudah memakai jaket tebal dan membawa persediaan tolak angin. Kami mengisi waktu menunggu kedatangan jeep dengan membuat api unggun. Tidak lupa kami meminum Tolak angin untuk mengatasi masuk angin yang sewaktu-waktu bisa menyerang. Kami meminumnya dengan mencampurkannya pada teh yang kami buat. Rasanya hangat dan segar.

Setelah jeep yang sudah kami booking datang, kami melanjutkan perjalanan menuju ke penanjakan 1. Penanjakan adalah lokasi dimana kita bisa melihat golden sunrise di puncak Bromo. Kami mengira bahwa perjalanannya cukup dekat, ternyata jaraknya cukup jauh. Perjalanan memakan waktu satu jam lebih. Karena gelapnya malam kami tidak bisa melihat pemandangan yang kami lalui. Sorot lampu jeep yang kami naiki juga sangat terbatas. Sepintas kami bisa melihat bahwa yang kami lewati adalah hamparan pasir yang sangat luas.

Golden sunrise di penanjakan 1

Hari masih gelap saat kami tiba di penanjakan 1. Mungkin sekitar jam 4 pagi. Untuk mencapai lokasi tempat melihat golden sunrise, kami harus berjalan kaki sekitar 20 menit dari lokasi parkir jeep. Saat menuju lokasi dan menjumpai toilet, kami berinisiatif untuk mengambil wudlu terlebih dahulu sebab khawatir jika kami kesulitan untuk mengambil air wudlu shalat subuh.

Karena udara yang sangat dingin, ditambah dengan tipisnya oksigen. Salah satu dari teman kami sesak nafas sebelum mencapai lokasi golden sunrise. Dengan ditemani salah satu teman kami yang lain, dia berhenti di pos di dekat pintu masuk. Tubuhnya menggigil menahan dinginnya udara dini hari, ditambah perutnya sakit karena masuk angin. Untunglah kami membawa tolak angin. Tolak angin ini memang terbukti efektif untuk mengatasi masuk angin.

Lokasi untuk menunggu matahari terbit merupakan tanah berundak-undak yang diberi batu pengeras. Ketika kami tiba suasana masih cukup sepi. Akan tetapi semakin pagi para wisatawan semakin ramai. Bahkan kami harus berdesak-desakan untuk sekedar mendapatkan tempat duduk. Ternyata tidak hanya wisatawan lokal yang ada di situ, turis asing juga cukup banyak.

Saat matahari terbit, kami harus berdesak-desakan lagi agar mendapatkan lokasi terbaik melihat indahnya matahari terbit di puncak bromo. Akhirnya perjuangan berhasil, kami berhasil mendapatkan lokasi yang tepat. Dari lokasi yang kami tempati nampak matahari muncul dengan semburat kuning yang indah. Puncak-puncak gunung dikelilingi dengan awan putih seperti kapas nampak serasi di bawah tempat kami berdiri. Menciptakan sensasi seperti memandang lukisan nan indah. Kami merasa seolah-olah berdiri di atas awan. Betul-betul momen golden sunrise.

Naik ke kawah bromo

Setelah matahari cukup tinggi dan kabut mulai menghilang, para wisatawan pelan-pelan mulai meninggalkan kawasan penanjakan 1. Suara jeep terdengar menderu memecah kesunyian pagi, membawa wisatawan meninggalkan lokasi ini. Kepadatan pengunjung mulai berkurang. Kondisi tersebut kami manfaatkan untuk mencari spot-spot yang menarik untuk berfoto. Tidak lupa kami mencari sarapan pagi sebagai bekal perjalanan selanjutnya.

Sekitar pukul setengah delapan kami meninggalkan kawasan penanjakan 1 menuju kawasan kawah Bromo. Jeep yang kami tumpangi meluncur turun dengan lincah hingga sampai di kawasan dengan padang pasir nan luas. Jeep berhenti di lokasi parkir yang masih cukup jauh dari kawah Bromo.

Turun dari jeep banyak pemilik kuda yang menawarkan jasanya kepada kami. Akan tetapi karena jarak antara lokasi parkir hingga kawah hanya sekitar 2 km kami memutuskan untuk berjalan kaki. Ternyata perjalanannya tidak semudah yang kami bayangkan. Padang pasir yang panas, debu beterbangan, jalan yang menanjak ditambah dengan bau kotoran kuda membuat kami harus berjuang keras agar bisa sampai ke kawah Bromo.

Setelah melalui perjalanan yang penuh perjuangan akirnya kami sampai di kawasan kawah bromo. Kami mengira bahwa kawahnya sudah dekat, ternyata masih jauh dan ada di puncak gunung. Kami harus naik melalui tangga yang menanjak sangat tinggi. Ternyata perjalanan ini lebih berat dari perjalanan sebelumnya. Kami berkali-kali berhenti untuk istirahat sambil menenggak sedikit air mineral yang kami bawa.

Perjuangan yang kami lakukan akhirnya membuahkan hasil. Kami sampai di kawah bromo. Di atas kawah, medan lebih menantang lagi. di depan kami adalah tebing yang curam dengan kawah gemuruh dan bergolak panas di bawahnya. Di belakang kami juga tebing curam yang langsung menuju kaki bukit. Depan belakang merupakan tebing curam. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika kami salah langkah dan tergelincir. Karena gemetar kami hanya berani duduk sambil berpegangan pada pagar besi yang mengelilingi kawah bromo.

Setelah puas melihat pemandangan dari puncak kawah bromo kami turun. Perjalanan turun juga bukan perjalanan yang mudah. Kami harus melalui beratnya medan yang sudah kami lalui sebelumnya. Bedanya kini perjalanan kami menurun dan matahari semakin menyengat kulit. Untunglah ada salah satu teman kami yang menyewa kuda, sehingga kami bisa bergantian menaikinya.

Ke pasir berbisik dan bukit teletubbies

Sekitar jam setengah sepuluh kami mulai meninggalkan kawasan kawah Bromo. Tujuan selanjutnya adalah Pasir Berbisik dan Bukit Teletubies.

Sampai di Pasir Berbisik kami turun dari jeep. Melihat pemandangan padang pasir dan padang rumput yang sangat luas. Beberapa teman mencari-cari dimanakah suara pasir yang katanya bisa berbisik. Tetapi mereka tidak menemukannya. Karena cuaca sangat panas dan kami masih kelelahan sesudah berjuang menuju kawah Bromo, kami memutuskan untuk langsung menuju lokasi wisata berikutnya.

Perjalanan dari kawasan Pasir Berbisik menuju Bukit Teletubies tidak terlalu jauh. Sekitar seperempat jam perjalanan. Bukit Teletubies memang memiliki bentuk seperti bukit yang ada di serial kartun Teletubies. Pemandangan yang ada sangat indah. Kami mengambil beberapa foto di tempat-tempat dengan spot menarik, termasuk foto dengan latar belakang jeep yang kami sewa.

Setelah puas di kawasan bukit Teletubies kami memutuskan untuk pulang. Disamping itu, jatah sewa jeep hanya sampai jam 11. Jeep menderu meninggalkan kepulan pasir dan debu di udara. Kami tiba di kawasan Strowberry menjelang tengah hari.

Setelah membersihkan diri di kamar mandi umum, kamipun naik elf yang kami sewa dan melakukan perjalanan pulang menuju Kudus, kampung halaman kami. Sepanjang perjalanan kami tertidur kelelahan. Kami lelah akan tapi kami sangat puas.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED