Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 09 Nov 2018 12:10 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Cable Car, Cara Asyik Liburan di Pulau Langkawi

Ardi Winangun
d'travelers
Foto 1 dari 5
Burung ELang Landmark Pulau Langkawi
Burung ELang Landmark Pulau Langkawi
detikTravel Community - Wisata di Pulau Langkawi di Malaysia sungguh menyenangkan. Terdapat cable car untuk membawa kamu menikmati alamnya dari ketinggian.

Kereta Api Ekspres Peninsular itu akhirnya tiba di Stasiun Arau pukul 09.49 waktu Perlis, Malaysia. Perlis adalah negeri bagian yang geografinya berada di paling utara-barat yang berbatasan dengan Thailand. Puluhan penumpang yang berada di gerbong tujuan Arau segera menghambur keluar. Mereka sudah jenuh setelah duduk manis mulai pukul 00.30 sejak kereta itu meninggalkan Stasiun KL Sentral, Kuala Lumpur.

Saya berada di antara puluhan penumpang yang meninggalkan salah satu gerbong yang ditarik lokomotif berwarna putih itu. Puluhan penumpang segera bergerak menuju pintu keluar. Suasana di stasiun saat itu masih pagi, angin berhembus dengan sejuk dan matahari memancarkan cahayanya yang tidak begitu panas. Hal demikian membuat suasana yang ada menjadi nyaman.

Tiba di luar stasiun sudah ada puluhan pria yang terbilang sudah sepuh. Mereka itu adalah sopir taksi yang menawarkan jasanya ke berbagai tujuan di Perlis. Saya tidak langsung berhubungan dengan mereka. Menahan nafas lebih dahulu untuk berpikir berapa ringgit yang saya harus tawarkan untuk menuju ke Pelabuhan Kuala Perlis. Pelabuhan utama di negeri itu bila hendak menuju Pulau Langkawi, Kedah, Malaysia.

Setelah merasa tenang, saya bertanya berapa ringgit naik taksi tujuan Kuala Perlis. Salah satu orang di antara mereka, mungkin koordinator sopir, mengatakan bahwa tarif ke Kuala Perlis sekian ringgit Malaysia. Saya mencoba untuk menawar tarif di bawah harga yang diajukan. Tawaran saya rupanya mentah. Sebab tak ada pilihan maka saya akhirnya menyerah dengan tarif yang sudah dipatok.

Setelah deal, orang itu menunjuk salah satu sopir yang hendak mengantar. Sopir itu mengajak saya untuk menuju taksi yang dikendarainya. Taksi berwarna merah bata itu terselip di antara mobil-mobil yang terparkir di medan car (tempat parkir) Stasiun Arau. Begitu sopir itu masuk ke dalam mobil, saya selanjutnya ikut masuk juga. Ia menyarankan saya untuk duduk depan.

Taksi itu akhirnya bergerak meninggalkan medan car. Melintasi jalan di Kota Perlis, terlihat ada kedamaian di sana. Jumlah orang yang lalu lalang di sana tidak banyak sehingga jalan terlihat sepi. Di tengah kota ada bangunan-bangunan diperuntukkan untuk kedai (tempat jualan) meski demikian keadaannya juga sepi, jauh dengan Jakarta yang selalu disesaki orang.

Ketika berada di luar kota, Perlis yang kita rasakan adalah sebuah negeri yang masih sedikit penduduknya. Hamparan sawah, ladang, dan tanah kosong masing terbentang di kanan-kiri jalan. Jalan besar yang ada juga masih lengang. Kendaraan yang melintasi sesekali terlihat. Di tengah perjalanan dari Stasiun Arau ke pelabuhan Kuala Perlis yang cukup jauh, saya dengan sopir itu terjadi perbincangan. Ia meminta dipanggil pak cik saja. Diungkapkan oleh pria yang umurnya sekitar 50 atau 60 tahun itu, ayahnya berasal dari Indonesia dan ibunya berasal dari Malaysia.

Pak Cik itu banyak cerita tentang Perlis dan Malaysia serta bangunan yang ada di sekitar laluan yang kami lintasi. Tak terasa perjalanan dari stasiun tadi akhirnya berhemti persis di depan pelabuhan. Persaudaraan saya dengan Pak Cik tadi rupanya terjalin sehingga tarif taxi yang ada diturunkan hingga 1 ringgit, lumayan bisa buat membeli minuman. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih padanya dan turun dari taksi berwarna merah bata itu.

Di pelabuhan terlihat ramai. Selain penjual jasa, pedagang makanan, pelaku usaha jasa penyeberangan, mereka adalah para calon penumpang jetti (ferry) yang hendak menyeberang ke Pulau Langkawi. Ketika saya berada di depan loket, terlihat di depan penjual tiket bahwa penyeberangan selanjutnya adalah pukul 10.45. Masih ada waktu untuk menghela nafas untuk menikmati pelabuhan itu. Meski demikian saya lebih dahulu bergegas untuk membeli tiket.Â

Selepas membeli tiket, saya lebih dahulu membeli minuman dan sepotong roti. Usai itu berjalan menuju ruang tunggu. Meski jam belum menunjukkan pukul 10.45 namun sekitar pukul 10.30, pintu untuk masuk ke jetti sudah dibuka. Barisan antrian pun terjadi. Satu persatu penumpang masuk ke dalam alat angkut itu. Penyeberangan dari Kuala Perlis ke Pulau Langkawi terbilang sibuk terbukti saat itu kursi yang tersedia terbilang penuh.

Setelah menunggu beberapa saat, suara deru mesin jetti menderu. Hal demikian menunjukkan bahwa alat angkut laut itu akan bergerak. Dikatakan oleh seseorang di samping saya bahwa perjalanan yang akan ditempuh sekitar 1 jam. Dalam sela perjalanan, lelah yang menghinggapi membuat saya tertidur namun beberapa saat menjelang tiba, saya tersadarkan diri. Selain benturan antara ombak dengan punggung jetti yang terasa keras, juga saya lihat bahwa Pulau Langkawi adalah pulau yang dilindungi oleh batu-batu cadas yang kokoh. Pulau itu di kanan-kirinya tersebar banyak pulau kecil bahkan ada yang berupa karang atau batu besar saja.

Akhirnya jetti itu merapat di Jetti Point, nama pelabuhan besar di Pulau Langkawi. Pulau Langkawi meski lebih dekat dengan negeri Perlis namun pulau itu masuk bagian negeri Kedah. Setelah ditambatkan dengan aman, penumpang yang ada dalam perut jetti pada keluar. Mereka berhambur menuju balai ketibaan dan selanjutnya pergi dengan tujuan masing-masing, entah ke mana. Di Jetti Point terlihat seperti mall kecil, aneka barang dari pakaian, makanan, minuman, dan souvenir dijual.

Di salah satu bangunan di tempat itu ada semacam pusat informasi buat pelancong. Saya menuju ke sana dan mengambil brosur yang ada untuk menjadi panduan dalam berwisata di Pulau Langkawi.

Keadaan di Jetti Point lebih ramai daripada Kuala Perlis. Di sini ribuan orang hilir mudik dan ratusan kendaraan roda empat lalu lalang. Keramaian terjadi sebab Jetti Point merupakan gerbang utama menuju Langkawi dari perjalanan laut. Dari sinilah orang akan menyebar ke berbagai tempat wisata di pulau itu.

Saya dari tempat ini ingin melanjutkan perjalanan ke Pantai Cenang, sebuah tempat wisata kalau di Bali, Indonesia, adalah kawasan wisata Legian dan Pantai Kuta-nya. Selanjutnya naik taksi dari Jetti Point ke Pantai Cenang.  Taksi yang ada di Pulau Langkawi ini, bentuknya ada yang berupa sedan, ada pula yang berbentuk mirip van dengan tempat duduk mencapai 8 orang.

Taksi yang naiki segera melaju ke arah Pantai Cenang. Selepas melintasi tengah kota, taksi menyusuri jalan naik dan berkelok. Dari jalan ini arah pandangan ke kiri kita bisa melihat pantai yang airnya berwarna biru dan bila mengalihkan pandangan ke arah kanan, akan kita dapati tebing atau hutan. Di kanan-kiri jalan terkadang ada bangunan milik pemerintah, tempat usaha, dan asrama besar. Dari sini kita mengetahui bahwa di pulau ini ada nadi kehidupan dan pemerintahan.

Sesampai di kawasan Pantai Cenang, suasana panas masih menyelimuti, jalan utama di pantai yang kesohor itu lengang. Jalan lengang sebab para wisatawan kalau tidak berjemur di pantai itu atau mereka menuju tempat-tempat wisata lain. Saya berhenti di sebuah tempat penyewaan sepeda motor sebab disarankan bila keliling pulau itu untuk melihat objek wisata hanya ada sewa kendaraan dengan dua pilihan, sewa sepeda motor atau mobil. Sebagai seorang pelancong seorang, saya memilih menyewa sepeda motor.

Begitu di depan pengelola jasa sewa sepeda motor, saya menanyakan tarif untuk sewa. Dijawab bahwa selama 24 jam tarifnya sekian ringgit. Saat itu jam menunjukkan pukul 13.00 maka saya mengembalikannya esok harinya pada pukul yang sama. Meski saya tak keberatan dengan tarif itu namun pengelola jasa sewa sepeda motor masih mengenakan deposit.

Alamaak, sebab tak ada pilihan maka apa yang diminta itu terpaksa saya turuti. Pengelola pun meminta beberapa dokumen yang saya miliki untuk dicatat, seperti pasport dan surat ijin mengemudi (SIM) Indonesia. SIM Indonesia di Langkawi bisa digunakan.

Setelah saya mendapat kunci, saya segera bergegas mengambil sepeda motor yang ditunjuk. Disarankan agar saya memakai helm sebab bila tidak menggunakan alat pengaman kepala itu apabila diketahui polisi akan dikenai denda. Saran tersebut pastinya saya iyakan.

Cable Car

Tujuan saya pertama berwisata di daerah itu adalah menuju sky cab, cable car, atau sky bridge. Sebuah wisata kereta gantung yang menjadi daya tarik orang dari berbagai belahan dunia pergi ke Langkawi. Dari Pantai Cenang menuju ke sky cab sekitar 17 km.

Jalan menuju ke sana menjauh dari Pantai Cenang. Selepas Pantai Kok, jalan mulai menanjak dan berkelok-kelok hal demikian menunjukkan bahwa tempat yang hendak saya tuju berada di sebuah pegunungan. Di kanan kiri perjalanan masih berupa hutan lebat.

Sampai di area itu terlihat puluhan mobil terpakir. Hal demikian menunjukkan bahwa wahana wisata itu banyak pengunjung. Setelah meletakkan sepeda motor pada tempatnya, saya mencari di mana tempat tiket untuk menikmati sky cab. Masuk ke dalam gerbang wahana itu, kita akan melintasi kedai-kedai yang menjual souvenir, makanan, minuman, dan menjual kaos-kaos kas Langkawi.

Di area itu tak hanya sky cab sebagai wahana rekreasi tunggal, namun juga ada wahana pertunjukkan 3 Dimensi, sea world, hotel, national geopark, pertunjukkan animasi lainnya serta hotel. Kalau di Jakarta, ia mirip Dufan, Ancol.

Dari aneka wahana permainan itu membuat harga tiket yang dijual beragam, sebab pengelola menjual tiket terusan, ada yang hanya naik sky cab saja, ada pula tiket terusan melihat film 3 D dan national geopark. Harga tiket antara wisatawan dalam negeri dan luar negeri pun tak sama. Wisatawan dari luar negeri dibandrol lebih mahal. Dari harga tiket yang ada, saya memilih harga tiket yang paling dasar dengan fasilitas hanya naik sky cab.

Setelah tiket di tangan, saya menuju ke jalur masuk. Tiket yang berupa lembaran kecil memanjang oleh penjaga dilingkarkan di tangan sebelah kanan. Sebelum naik kereta gantung, seluruh pengunjung wahana itu lebih dahulu dimasukkan dalam sebuah studio. Di tempat itu diputarkan film 3 D yang memvisualkan rollcoaster. Rollcoaster yang ada terlihat tinggi, meliuk-liuk, dan berada di pegunungan. Film itu diputar bisa jadi melatih mental pengunjung yang sebentar lagi akan naik kereta gantung dengan kondisi seperti yang ada di film itu.

Betul rupanya, naik kereta gantung itu bagi saya termasuk yang mendebarkan. Kereta gantung itu menuju puncak pegunungan Mat Cincang yang berada pada ketinggian 713 meter di atas permukaan air laut. Untuk mencapai puncak, di tengah perjalanan angin yang berhembus kencang sangat terasa.

Memandang keluar dari kereta gantung, pulau-pulau kecil di pantai yang ada di Pulau Langkawi terlihat. Pemandangan ini membuat kita merasa berdebar sebab kita pada ketinggian yang sangat jauh dari daratan. Dengan naik kereta gantung inilah kita mengetahui bahwa Mat Cincang merupakan pegunungan yang tersusun atas batu-batu keras dan padas. Itu terlihat dari tebing yang ada yang menjulang dari tanah.

Sesampai di etape pertama, pengunjung diperkenankan berhenti untuk melihat Langkawi dari ketinggian. Setelah melewati etape pertama, pengunjung melanjutkan pada etape kedua. Di etape kedua inilah kita akan bisa menuju ke sky bridge, jembatan yang dibangun di bawah puncak Mat Cincang yang menghubungkan antar dua pegunungan. Sky Bridge inilah landmark Pulau Langkawi.

Dari apa yang kita alami di puncak Mat Cincang, bangunan-bangunan tempat pemberhentian sky cab baik di etape pertama atau kedua semua didirikan di tebing-tebing pegunungan itu. Beton dan besi baja ditancapkan pada tebing-tebing yang curam. Dari sini muncul kekhawatiran saya kembali, bagaimana kalau tebing-tebing yang jauh dari permukaan tanah itu roboh.

 Mungkin saya sedikit mengalami hyperphobia, bagi pengunjung yang lain bisa jadi tidak mengalami masalah itu, sehingga perasaan takut selalu mengiringi saya. Dari kengerian di puncak Mat Cincang inilah membuat saya bersyukur ketika kereta gantung saya kembali ke tempat awal.

Menurut Muhammad Hanif, salah satu pedagang di area itu, selama ini belum ada kecelakaan di sky cab. Hari-hari ramai kunjungan disebut pada hari libur sekolah. Dikatakan lagi bahwa pembangunan sky cab dilakukan pada masa Malaysia di bawah Perdana Menteri Mahathir Muhammad. Mahathir Muhammad lahir di Alor Setar, Kedah.

Kedah sebagai daerah asal Mahathir maka perdana menteri yang paling populis di Malaysia itu membangun Pulau Langkawi, yang menjadi bagian dari Kedah, agar maju dan sejahtera. Mahathir Muhammad menunjukkan bahwa dirinya tidak lupa asal usulnya dari negeri Kedah. Pembangunan Pulau Langkawi sebagai tempat wisata membuat daerah itu kesohor ke seluruh jagad.

Sebab perjalanan yang panjang maka saya 'sangu' atau membawa bekal Tolak Angin. Produk Sido Muncul sejak 1951 ini saya bawa karena selain untuk mengatasi masuk angin juga untuk menjaga kebugaran dalam backpacking.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED