Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 16 Jan 2019 05:00 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kupang, Seafood dan Alam NTT yang Luar Biasa

nurul hanifah
d'travelers
Foto 1 dari 4
Pilihan ikan segar di Pasar Malam Kampung Solor, Kupang.
Pilihan ikan segar di Pasar Malam Kampung Solor, Kupang.
detikTravel Community - Indonesia Timur selalu memiliki pesona. Salah satunya Kupang di NTT dengan seafood dan alam yang luar biasa.

Kedatangan saya ke Kupang disambut dengan udara hangat dan angin yang berhembus pelan, sangat berbeda dengan udara di ibu kota. Walaupun mentari cukup terik memancarkan sinarnya, namun udara di sini masih sangat jauh dari polusi. Tak berapa lama saya kembali disambut oleh kehangatan dan keramahan oleh seorang driver yang akan menemani saya selama di Kupang, yang kemudian saya sadari bahwa seluruh warga di sini yang saya temui sangat ramah.

Perjalanan dari bandara menuju penginapan memberikan nuansa yang berbeda dan baru bagi saya. Selain perjalanan yang tidak terlahang oleh kemacetan, sepanjang jalan di bandara di kiri dan kanan terpampang hamparan ilalang berwarna kuning kecoklatan yang begitu luas. Didukung dengan cuaca yang cerah dan langit yang begitu biru membuat hati siapa saja yang melihat pemandangan ini menjadi hangat, sehangat mentari yang bersinar. Kupang menyambut kedatangan saya dengan sangat baik.

Hari pertama saya habiskan dengan beristirahat di penginapan. Saya baru menikmati Kota Kupang pada saat malam hari untuk makan malam. Tentunya hal yang ingin saya santap saat berada di kota yang terletak di pinggir pantai adalah sea food. Kupang merupakan kota yang paling tepat untuk menikmati segala jenis hidangan laut. Berbagai jenis ikan, udang, cumi, kepiting dan kerang tersedia dengan jumlah banyak dan masih sangat segar.

Pasar Malam Kampung Solor, Kupang, menjadi pilihan utama untuk menikmati santap malam. Pasar ini tidak begitu besar, dari tempat makan yang pertama hingga yang terakhir berjarak sekitar 200 meter. Terdapat jalan di tengah yang menjadi pemisah tempat makan bagian kanan dan kiri. Tersedia berbagai tempat makan dengan pilihan makanan yang serupa. Tinggal pilih sesuai dengan keinginan pengunjung. Driver yang mengantarkan kami mengajak kami makan ke tempat makan rekomendasinya. Cukup luas dan nyaman, bahkan tersedia colokan bagi yang ini men-charge handphone. Penjualnya pun melayani semua pengunjung dengan ramah.

Pengunjung dapat memilih langsung ikan yang akan dimasak, harga yang ditawarkan sebanding dengan kualitas dan ukurannya. Biasanya pedagang akan menanyakan bagaimana cara ikan disajikan, dibakar, digoreng atau dengan kuah asam. Bagi yang baru pertama ke Kupang disarankan untuk mencoba Ikan Kuah Asam.

Ikan Kuah Asam merupakan makanan khas NNT, seperti gulai pada umumnya, tetapi tidak ada santan. Ikan dimasak dengan bumbu kuning terasa sangat segar dan agak pedas karena campuran cabe rawit, jeruk dan tomat. Bumbu rempahnya menyerap dengan baik pada potongan ikan yang cukup besar, terasa sangat pas di lidah. Dihidangkan dengan nasi putih hangat akan membuat hidangan ini nikmat sekali.

Bagi yang ingin menyantap hidangan laut seperti biasa, dapat memesan ikan dengan dibakar atau digoreng, tak kalah nikmat. Jangan lupa untuk memesan sayur bunga pepaya, makanan ini juga merupakan khas Kupang. Rasanya enak dan sangat cocok jika dimakan bersama sea food lainnya, baik dibakar, digoreng maupun dengan kuah asam. Perpaduan rasa yang sangat pas. Tentunya tidak hanya bunga pepaya saja yang tersedia, tumis kangkung yang menjadi salah satu menu favorit juga dapat semakin melengkapi makan malam. Hari pertama saya diakhiri dengan perut kenyang dan hati yang senang.

Hari selanjutnya saya habiskan dengan menyelesaikan tugas saya, kerena perjalanan ini memang perjalanan dinas. Saya baru memiliki kesempatan untuk menikmati kembali Kupang pada hari ketiga. Sebagai kota yang memiliki banyak pantai, saya tidak melewatkan kesempatan ini untuk berkunjung ke salah satu pantai terkenal di sini yaitu Pantai Kolbano.

Perjalanan menuju Pantai Kolbano cukup lama karena kami harus menempuh perjalanan selama 4 jam. Kami berangkat cukup pagi agar bisa kembali sebelum malam ke Kota Kupang. Menghabiskan waktu pada awal perjalanan dengan tidur, saya terbangun setelah setengah perjalanan. Jalan yang kami lewati tidak begitu lebar, namun cukup untuk dilewati oleh dua mobil berpapasan.

Sepanjang perjalanan di sebelah kiri dan kanan jalan tak henti terlihat pohon-pohon pepaya berjejeran, wajar jika sayur bunga pepaya atau daun pepaya sangat mudah ditemui di mana-mana. Selain itu rumah-rumah tradisional NTT juga terlihat di sepanjang jalan. Memberikan perasaaan yang berbeda. Tak jarang mobil kami harus berhenti sejenak, bukan karena lampu merah, tetapi karena kami harus menunggu babi-babi kecil bersama induknya yang sedang menyeberang jalan.

Setelah cukup lama, akhirnya kami sampai di Pantai Kolbano. Tidak banyak orang. Sepi. Bunyi ombaknya yang besar terdengar dari kejauhan. Sangat cocok bagi yang ingin menyendiri. Berbeda dengan pantai pada umumnya, pasir Pantai Kolbano ditutupi oleh kerikil yang cukup besar dengan warna-warna pink, cream, abu, putih dan baby blue. Air laut yang berwarna biru gradasi, deburan ombak yang menghasilkan buih-buih putih, berpadu dengan kerikil beraneka warna menciptakan pemandangan yang sangat menyejukkan mata.

Selain itu, angin yang berhembus cukup kencang karena pantai ini berbatasan langsung dengan Australia menghasilkan ombak-ombak besar dengan suara deburan yang menenangkan. Tempat terbaik bagi yang ingin melarikan diri dari keramaian dan bagi yang ingin melepas penat dari kesibukan. Setelah puas menyaksikan laut dan bermain air di Pantai Kolbano, saya segera kembali ke Kota Kupang karena ada hal yang yang tak kalah mempesona.

Setelah melewati perjalanan panjang lagi, saya kembali ke Kota Kupang tepat sesaat sebelum matahari terbenam. Menyaksikan pemandangan yang luar biasa, langit senja di Kota Kupang akan membuat siapapun terpesona. Memang senja selalu memesona di mana pun, bahkan di langit ibu kota yang terhalang oleh gedung tinggi dan polusi. Namun langit senja di Kupang benar-benar memukau tiada tanding, membuat siapa saja terpana.

Saya meminta driver untuk berhenti sejenak dan meminta izin untuk turun agar dapat menatap langit senja dengan lebih khusyuk. Gradasi warna hitam, biru tua, kuning dan jingga benar-benar merupakan sebuah maha karya Sang Kuasa. Ditambah dengan bayangan pohon-pohon yang tumbuh tak beraturan di tanah Kupang semakin memperindah langit senja. Senja yang begitu indah, begitu jingga.

Perjalanan panjang yang cukup melelahkan, tetapi semua itu tidak dapat menghentikan semangat saya karena ada Tolak Angin yang selalu menemani di manapun dan kapanpun. Perjalanan saya diakhiri dengan menyaksikan terbenamnya matahari yang sekaligus mengakhiri pertunjukan langit senja. Tentunya tak lupa minum Tolak Angin yang dapat mengatasi masuk angin serta menghangatkan tubuh, sehangat udara di Kota Kupang. Sampai jumpa lagi, NTT!
BERITA TERKAIT
BACA JUGA