Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 10 Apr 2019 14:35 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Berkunjung ke Kota Para Raja di Negeri Jiran

Diaz Rossano
d'travelers
Foto 2 dari 5
Gerbang Masuk ke dalam Kompleks Istana Kerajaan Perak yang bertajuk Kuala Kangsar The Royal Town
Gerbang Masuk ke dalam Kompleks Istana Kerajaan Perak yang bertajuk Kuala Kangsar The Royal Town
detikTravel Community -

Cerita kali ini merupakan lanjutan dari kisah sebelumnya ketika saya mengunjungi Kota Tua Ipoh. Tak jauh dari Ipoh terdapat Kota Kuala Kangsar yang ternyata merupakan tempat tinggal raja Perak.

Seperti Presiden Jokowi yang memilih tinggal di Bogor walau berkantor di Jakarta, demikian pula Raja Kesultanan Perak yang tinggal di Kuala Kangsar walau pusat pemerintahannya berada di Ipoh. Dari Ipoh saya naik bus di Teminal Medan Kidd yang berlokasi tak jauh dari Stasiun Ipoh. Bus di sana cukup disiplin waktu sehingga saya yang datang terlambat lima menit saja sudah ditinggal dan harus menunggu 35 menit kemudian karena intervalnya setiap 40 menit.

Sambil menanti bus datang saya berbincang dengan seorang kakek tua yang juga menunggu bus yang sama. Kebanyakan orang Malaysia selalu menanggap kita yang berasal dari Indonesia bekerja untuk mereka. Saya sampai ngotot mengatakan kalau cuma melancong, bukan bekerja dan kakek tersebut seperti tidak percaya sehingga harus bertanya berulang-ulang, bahkan sampai memastikan kalau saya paham Bahasa Melayu, bukan Bahasa Indonesia.

Mungkin cukup aneh kalau ada turis dari Indonesia mengingat Ipoh dan sekitarnya bukanlah daerah tujuan wisata seperti KL atau Penang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.35 dan bus tujuan Kuala Kangsar pun tiba. Saya pun bergegas naik ke dalam bus yang ternyata tidak terlalu banyak penumpangnya. Setelah ngetem selama lima menit, bus pun berangkat menuju Kuala Kangsar yang berjarak sekitar 45 km dan ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam.

Cuaca mendung diakhiri dengan hujan lebat membuat saya was-was karena tidak membawa payung atau mantel hujan. Untunglah tiba di Kuala Kangsar, hujan reda, cuaca kembali cerah membuat saya lega karena biasa berjalan kaki ke mana-mana. Kotanya sendiri tidaklah terlalu besar, bahkan boleh dibilang hampir seukuran Lembang. Namun ternyata di tempat inilah sang raja tinggal di dalam istana yang luas di tepi Sungai Perak.

Karena cukup jauh berjalan kaki dan tidak ada ojek, sayapun menyewa taksi yang mangkal di sekitar terminal. Setelah nego panjang dengan supir taksi keturunan India dengan Bahasa Inggris, akhirnya disepakati harga 30 RM. Saya hanya menunjukkan komplek istana raja saja dan setelahnya kembali ke terminal. Gerbang kompleksnya sendiri tak telalu jauh dari terminal, hanya sekitar 500 meter saja, namun ke dalamnya ternyata cukup luas.

Di dalam komplek terdapat beberapa bangunan yang letaknya berjauhan satu sama lain. Sekitar satu setengah kilometer dari gerbang terdapat Galery Sultan Azlan Shah yang merupakan bekas istana raja. Bentuk bangunannya sangat klasik dan merupakan perpaduan dari arsitektur barat, Aceh dan India. Bangunan ini dibangun tahun 1898 dan selesai lima tahun kemudian untuk dihuni Sultan Idris Shah yang berkuasa dari 1887 hingga 1916.

Istana ini kemudian menjadi sekolah selama puluhan tahun sebelum akhirnya dipakai sebagai galeri pada tahun 2001 oleh Sultan Azlan Shah. Galeri ini menyimpan aneka jenis benda peninggalan para Sultan Perak beserta sejarah yang menyertainya. Sayangnya kita tak boleh mengambil gambar di dalam galeri, hanya bagian luarnya saja yang boleh difoto. Tak jauh dari galeri terdapat Masjid Ubudiyah yang merupakan perwujudan nazar dari Sultan Idris Shah apabila sembuh dari sakitnya.

Masjid ini merupakan salah satu bangunan tercantik di Malaysia dengan mengambil arsitektur Bangsa Moor yang dirancang oleh Arthur B. Hubback, arsitek yang juga turut merancang Stasiun Keretaapi Ipoh dan KL. Sayangnya Sultan Idris keburu wafat sebelum sempat meresmikan masjid tersebut karena baru selesai tahun 1917, setahun setelah meninggalnya beliau. Masjidnya sendiri tak terlalu besar, namun seni arsitekturnya tampak indah seperti mutiara di tengah gurun pasir. Warna bangunan didominasi putih yang mengkilap terkena sinar matahari, lalu kubahnya mengingatkan kita pada cerita Abunawas di Baghdad.

Walau cuaca panas, di dalamnya terasa sejuk karena tidak seluruh cahaya dapat menembus bagian dalam bangunan sehingga tampak agak gelap di dalam. Di sebelah masjid terdapat bangunan tua yang merupakan tempat tinggal istri putra mahkota saat itu, Raja Kecil Harun AL Rashid tahun 1912 dan disebut Baitul Anor. Sayang bangunan ini kurang terawat dengan baik dan tak terlalu diperhatikan oleh para wisatawan yang lebih tertarik mengunjungi masjid.

Setelah selesai melihat-lihat masjid, perjalanan dilanjutkan ke dalam kompleks istana. Tak jauh dari masjid tampak gerbang utama istana yang tertutup rapat dan di sisi kiri kanan gerbang terdapat jalan yang mengelilingi istana, sementara raja dan keluarganya masuk dari pintu belakang istana. Istananya sendiri diberi nama Istana Iskandariah, diambil dari nama sultan yang membangun istana tersebut yaitu Sultan Iskandar Shah yang berkuasa antara 1918-1938.

Saya sendiri tak boleh masuk ke dalam istana walau dari pintu belakang dan hanya bisa mengambil foto dari gerbang belakang saja. Sementara bangunan utamanya terhalang bukit dan pepohonan sehingga tidak bisa diambil gambarnya. Uniknya tidak tampak tentara atau polisi berkeliaran, hanya ada dua orang petugas jaga saja yang tampak di pos jaga, padahal ini istana kerajaan lho. Bandingkan dengan rumah dinas gubernur atau bupati yang dijaga ketat oleh Satpol PP.

Agak sedikit ke belakang terdapat Musium Diraja Perak yang dahulunya disebut sebagai Istana Kenangan. Uniknya bangunan museum yang dibangun tahun 1926 ini seluruhnya terbuat dari kayu oleh seorang tukang kayu bernama Haji Sopian dan dibangun sebagai hunian sementara Raja Iskandar karena saat itu sedang membangun istana yang sekarang ditempati oleh Raja Perak.

Sayangnya saat saya berkunjung sedang direnovasi karena kayu-kayunya sudah mulai lapuk, padahal bentuk aslinya bagus sekali saat mengintip di internet dengan dominasi warna kuning dan coklat khas kayu. Setelah satu jam lebih berpusing-pusing ria di kompleks istana, saya kembali ke arah terminal bis agar argo taksinya tidak bertambah. Karena kotanya kecil, saya selesaikan dengan berjalan kaki saja sambil menunggu bis yang akan mengantar saya kembali ke KL.

Tak banyak obyek menarik lain, hanya ada gereja tua di sudut perempatan dekat terminal, Masjid Raya Ridzwaniah Kuala Kangsar, serta bangunan sekolah serta rumah sakit tua yang pertama kali didirikan di kota tersebut. Pilihan raja untuk tinggal di kota tersebut memang tepat karena kotanya tidak terlalu besar dan cukup sunyi. Suasana kotanya cukup nyaman walau terasa panas karena terletak di lembah pegunungan Titiwangsa yang menjulur di sepanjang semenanjung Malaya.

Tepatlah bila Kuala Kangsar dijuluki The Royal Town atau kota para raja.



BERITA TERKAIT
BACA JUGA