Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 12 Feb 2019 11:25 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Eksotisme Maluku Utara dan Halmahera, Tidak Ada Duanya

Budi Setiawan
d'travelers
Foto 3 dari 5
maitara  tidore
maitara tidore
detikTravel Community - Kecantikan alam Maluku Utara dan juga Halmahera sungguh membius traveler. Eksotisnya daerah ini tidak ada duanya.

Jumat 31 Mei, #semuaadatiketnya.

Meski hari kerja terakhir, tapi saya tidak bisa pulang lebih awal karena pekerjaan yang cukup banyak dan beberapa meeting divisi. Selepas maghrib barulah saya bisa pulang.

Tidak berlama-lama di rumah, setelah pamit sama anak-anak dan mamanya, saya pun segera menuju terminal damri bandara di Pasar Minggu. Tapi karena saya tiba pukul delapan malam, terminal damri pun sudah sepi. Tidak ada lagi alternatif selain menggunakan taksi.

Saya pun terpaksa menggunakan jasa taksi bandara yang harganya hampir empat kali lipat dari bis damri. Tiba di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul sepuluh malam, dan bertemu dengan Pak Dadi sebagai rekan seperjalanan nantinya.

Seharusnya malam itu kami berangkat bertiga. Tetapi karena satu rekan lain (Eka) masih di Bandung dan gagal mendapatkan travel bandara, maka akhirnya beliau pun batal untuk bergabung. Padahal semua persiapan sudah selesai. Ah sayang sekali, tapi itulah yang terjadi.

Setelah itu, kami menunggu di lobi keberangkatan terminal 2F Bandara Soekarno Hatta. Hampir tengah malam barulah kami menuju konter check-in untuk mengurus re-route perjalanan, karena pesawat kami GA 600 dibatalkan keberangkatannya.

Selesai re-reoute di kasir, kami pun check-in kembali dengan GA 640 tujuan Makassar untuk transit dan melanjutkan penerbangan dengan GA 660 tujuan Ternate.

Beruntung, semua tiket pesawat saya issued dari Jakarta sebulan sebelumnya dengan memesan secara online di tiket.com, sehingga di Makassar tidak perlu repot lagi mengurus check-in (karena ada insiden kecil jelang keberangkatan kami dari Makassar ke Ternate).

Seperti biasa, pesawat jenis Boeing 737-800 Next Generation sebagai pesawat andalan Garuda Indonesia untuk rute menengah sudah siap dini hari itu. Karena penerbangan malam, saya tidak terlalu memaksa hunting hot seat. Meski demikian, saya pastikan untuk tidak mendapat center seat (gagal window seat, minimal aisle).

Pukul setengah satu pagi pesawat pun take off dengan mulus menuju Makassar. Satu jam pesawat mengudara, pramugari bernama Melati membangunkan saya, menyajikan makan malam sebagai paket standar perjalanan Garuda Indonesia. Sebenarnya saya sedikit terganggu karena jam dua dini hari adalah bukan waktu makan, tapi ya sudah saya paksakan makan nasgi goreng ayam dini hari itu.


Sektiar pukul tiga dini hari, pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanudin Makassar untuk transit, karena GA 640 adalah pesawat dengan rute Ambon. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencocokan jam karena perbedaan wilayah Jawa-Makassar terpaut satu jam lebih cepat dari waktu di Jawa.

Setelah itu saya dan Pak Dadi keluar bandara untuk mencari kedai kopi sambil menunggu pesawat menuju Ternate yang akan berangkat pukul enam pagi WITA. Bandara ini cukup bersih dan hiasan kolam besar plus air mancur di depannya sangat indah berpadu dengan lampu malam bandara.

Sekitar jam lima pagi ketika saya sedang menikmati bangunan megah bandara terbesar di Indonesia Timur ini, tiba-tiba ada panggilan telepon dari customer service Garuda dan menanyakan keberadaan saya. Saya pun menJawab dengan santai sedang di depan bandara. seketika petugas CS Garuda meminta saya agar segera menuju ruang tunggu gate 2 dan masuk ke pesawat karena pesawat sudah akan berangkat.

Kepanikan bertambah dengan panggilan di pengeras suara yang memanggil kami berdua untuk segera masuk pesawat. Tidak lagi lewat gate dua, kami berdua langsung naik mobil avanza internal milik AP-2 dan langsung di drop ke pesawat yang sudah siap berangkat.

Itulah bagian dari pelayanan sempurna maskapai terbaik ke-7 di dunia ini. Meski jelas ini kesalahan kami, tetapi Garuda dengan setia menunggu.

Sabtu 1 Juni (day 2), #semuaadatiketnya.

Setengah enam pagi waktu Indonesia bagian tengah, pesawat pun take off. Kali ini saya sangat excited karena untuk pertama kalinya saya naik pesawat jenis Bombardier CRJ-1000 Next Generation yang merupakan pesawat yang baru dibeli Garuda.

Di samping keamanan penerbangan, menggunakan pesawat jenis baru tentu lebih nyaman karena semua itemnya baru. Sejak issued di Jakarta, saya sudah diberitahu bahwa GA 660 adalah CRJ-1000, itu sebab di kasir konter Jakarta saya sudah request hot seat 17E dan 17F untuk kami berdua. Sukses mendapatkan hot seat dan hasilnya adalah kenyamanan selama penerbangan dua jam Makassar-Ternate.

Jam delapan lewat kami tiba di Bandara Sultan Babullah Ternate. Kembali saya harus menyesuaikan waktu karena waktu Ternate lebih cepat satu jam dari Makassar dan dua jam lebih cepat dari Jakarta.

Ada yang unik dari bandara Ternate ini, yaitu runwaynya yang pendek. Bahkan ketika pesawat selesai melakukan pengereman, posisi pesawat tepat di ujung landasan (sisi laut). Keluar bandara tim penjemput pun sudah siap dan kami langsung diajak menuju kota Ternate.

Hari Sabtu ini, acara kami adalah wisata kota dan wisata kuliner seharian. Setelah dari bandara, rekan penjemput (reza dan ical) membawa kami keliling kota Ternate sambil bercerita tentang sejarah tiap tempat yang kami lewati.

Cukup menarik melihat sejarah kota Ternate yang masuk dalam kota tertua di Indonesia. Ternate sudah berumur lebih dari 900 tahun. Bayangkan dengan Jakarta yang belum sampai 700 tahun usianya.

Persinggahan pertama kami adalah di RM Noni yang merupakan salah satu kedai makan terbaik di Ternate untuk menu bubur tinutuan (bubur manado). Bubur ini mirip dengan bubur di manado, tapi karena suasananya Ternate jadi saya lbh senang menyebutnya bubur Ternate.

Rasanya kuat, rempah terbaik di dunia berkumpul di kuahnya. Daun kemanginya banyak dan buah labunya lebih empuk dan cepat larut di mulut. Sambalnya juga pas dengan lidah saya yang berasal dari Jawa.

Selesai wisata kuliner pertama, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Swering dan menikmati suasana pantai sambil melihat kerajinan batu bacan yang cukup banyak tersebar di sini. Setelah cukup puas berfoto, mobil yang kami gunakan berangkat kembali menuju daerah pusat kuliner lain (papeda). Setelah masuk gang kecil kami pun tiba di kedai papeda khas Ternate.

Kedainya tidak terlalu besar tapi cukup ramai pengunjung. Menu utama siang ini adalah papeda, dkk. Rasa papeda adalah netral, tapi akan menjadi juara jika kuah ikan disajikan bersamaan dengan papeda. Ikan tenggiri, bobara, cakalang merupakan jenis ikan saya kira ada di meja makan kedai ini. Semua saya cicipi bersama papeda dan saya cukup puas menikmatinya. Hmm, rasanya ingin kembali ke sana.

Lewat tengah hari kami berempat menuju Benteng Tolukko yang berada di sisi lain kota Ternate. Benteng Portugis ini cukup megah menjulang dominan di sisi kota Ternate dan cukup strategis sebagai tempat untuk mengintai kapal yang lalu lalang dari dan menuju Ternate.

Selesai berfoto, kami berangkat kembali ke lokasi wisata lain kota Ternate yaitu Batu Angus (stone magma). Meski saya sudah tau bagaimana mekanisme terjadinya lava field di sini dan bagaimana komposisi lavanya, tapi tetap membuat penasaran karena luas wilayahnya yang cukup menarik.

Dari sisi tebing lautnya saya bisa melihat bagaimana sedimentasi Ternate nyaris sebagian besar karena aktivitas vulkanik Gunung Gamalama. Material piroklastik khas letusan eksplosif banyak pula saya temukan di lokasi wisata ini. Tidak lama-lama, karena masih banyak tempat yang harus saya kunjungi. Kami pun bergegas.

Mobil hitam kami kembali mengitari Pulau Ternate untuk menuju Pantai Sulamadaha yang menjadi ikon pantai terbaik Ternate. Tiba di pantai saya sedikit ragu melihat pasir pantainya yang hitam dan kotor dan tidak yakin kalau ini adalah pantai terbaik Ternate. dan benar saya ternyata bukan pantainya yang menjadi jagoan wisata di sini, tetapi teluk yang berada tersembunyi di belakang tebingnya.

Untuk mencapai ke teluknya kami pun berjalan kaki mengitari tebing lebih kurang dua puluh menit dengan jalanan menanjak. Tiba di teluknya, saya pun tertegun melihat kejernihan airnya. Terumbu karang yang indah terlihat dari atas tebing dan saya tidak lagi berpikir lama dan segera melepas pakaian dan byyyurrr

Setelah berenang di sisi teluk, saya kembali ke pantai dan mengajak Pak Dadi dan Reza untuk snorkeling sedikit ke tengah teluknya. Selanjutnya kami bertiga sudah ber-snorkeling ria di tengah teluk dengan sangat antusias.

Puas bermain air dan menyantap hidangan pantai dan kelapa muda, kami pun berangkat kembali meninggalkan Pantai Sulamadaha dan menyempatkan singgah sekitar sepuluh menit di lokasi wisata Benteng Kastela yang merupakan benteng sekaligus tempat lokasi pembunuhan petinggi Ternate pada masa lalu.

Reza dengan gamblang menjelaskan bagaimana sejarah Benteng Kastela dan bagaimana trik orang Ternate mengambil jasad pemimpinnya di sana untuk dibawa kembali ke daerah asalnya dan dimakamkan. Tidak seperti membaca buku, dengan mengunjungi lokasi sejarah secara langsung, saya jadi lebih mudah memahami dan merasakan suasananya. Sayang lokasi bersejarah ini tidak terurus dengan baik sehingga nyaris tidak terlihat dari jalan raya jika kita kurang jeli.

Selepas Benteng Kastela, perjalanan wisata kami lanjutkan ke Danau Tolire. Danau vulkanik ini berada di sisi lain kota Ternate dan lokasinya sudah cukup mudah terjangkau. Tiba di Danau Tolire saya sempatkan melihat morfologi danau dan jenis batuan di sisi tebingnya. Tidak banyak sejarah geologi Tolire yang saya ketahui sehingga saya pun ragu bagaimana mekanisme terbentuknya danau ini apakah karena letusan ataukah deformasi.

Karena saya dalam rangka wisata, maka saya tidak ingin berpusing ria memikirkan teknis danaunya. saya malah menikmati mitos dan keangkeran danau ini karena dihuni oleh buaya putih. Oh ya, jika cuaca cerah maka dari danau ini kita bisa melihat kubah baru Gunung Gamalama produk letusan September 2012.

Selesai dari Danau Tolire sebenarnya badan sudah cukup lelah karena sudah sejak semalam perjalanan dari Jakarta saya tidak isitirahat, tapi karena lokasi wisata belum habis maka menjelang maghrib saya putuskan memilih Danau Ngade sebagai destinasi terakhir hari ini.

Bukit di atas Danau Ngade adalah spot terbaik untuk meng-capture Danau Ngade-Pulau Maitara-Pulau Tidore dengan Gunung Kie Matubu yang megah. Menjelang sunset kami tiba di Ngade dan berfoto hingga hari gelap. Akhirnya penutup acara hari pertama ini adalah makan malam nasi bambu dan ikan cakalang bakar di seputaran Pantai Swering Ternate dan kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Minggu 2 juni (day 3), #semuaadatiketnya.

Minggu pagi kami berdua bangun dan langsung cek out dari penginapan dan dijemput kembali oleh Reza dan Ical dengan mobil yang sudah kami carter untuk keperluan kami selama di Ternate. Setelah regroup dengan tim guide dan tim backup ekspedisi, hari ini tim Kie Matubu berjumlah tujuh orang (saya, Pak Dadi, Abied, Faiz, Babon, Salim, Reza) berangkat menyeberang ke Pulau Tidore.

Rencana awal adalah dengan menggunakan kapal fery, tapi karena jadwalnya masih lama, saya putuskan untuk naik kapal kecil yang lebih cepat di dermaga lain (khusus speedboat), meskipun biayanya lebih mahal.

Tiba di Pelabuhan Tidore, tim Kie Matubu langsung berangkat menuju basecamp Gurabunga. Dengan mencarter Toyota Terios putih, kami pun melibas trek pesisir utara Kepulauan Tidore. Karena hari sudah siang, saya putuskan makan siang di kota Tidore dengan menu standar ayam penyet di salah satu kedai makan di pusat kota.

Selesai makan siang perjalanan dilanjutkan menuju basecamp Gurabunga. Tiba di Desa Gurabunga, saya sangat surprise dengan kebersihan dan kerapihan penataan desanya. Ternyata Desa Gurabunga adalah pemenang lomba desa terbersih tingkat nasional beberapa tahun lalu.

Dengan fakta ini saya menjadi lebih mencintai kawasan ini (Maluku Utara) di samping keramahan penduduknya juga karena kesadaran masyarakatnya dalam pola hidup bersih dan pelestarian lingkungannya.

Tidak ada perijinan khusus ataupun persyaratan administrasi untuk mendaki Gunung Kie Matubu ini. Tim guide hanya memberitahukan kepada pengurus desa perihal maksud kedatangan kami dan setelah itu pendakian dimulai tepat dari belakang Desa Gurabunga.

Desa berketinggian 600 mdpl ini sebenarnya cukup panas menurut saya, dan memang demikian, meskipun kami mendaki di dalam hutan2 perkebunan penduduk yang termasuk rimbun tetapi masih terasa panas untuk ukuran saya. Dua jam pertama pendakian, kami melalui perkebunan alpukat, durian, nangka dan tentunya pala sebagai ciri khas rempah maluku.

Sepanjang perjalanan saya cukup heran dengan buah-buahan yang berserakan busuk dimakan bakteri pengurai tanpa ada orang yang berusaha mengambilnya. Ternyata memang orang desa di Gurabunga tidak mungkin bisa memanen hasil kebun jauh di atas desanya karena jumlah mereka tidak sebanding dengan luasnya lahan pertanian dan perkebunan di kaki Gunung Kie Matubu ini.

Intinya banyak durian, alpukat, nangka, dll matang yang berserakan di sepanjang perjalanan dan tidak pernah sempat dimakan manusia.

Hutan Gunung Kie Matubu cukup unik karena jenis hutan tropis ini cukup lengkap memiliki jenis tumbuhan berdasar ketinggian. jika di bawah ada tanaman buah dan pala, maka semakin ke atas berganti dengan rimbunnya hutan bambu. Di sekitar pos dua ada sebuah rumah adat sebagai simbol persembahan orang Desa Gurabunga yang biasa digunakan dalam ritual adat tertentu.

Aturan mereka jelas, semua pendaki dilarang mendekati rumah adat yang sangat sakral itu (jika ingin pendakiannya aman dan selamat). saya kira ini local wisdom yang khas di sana, karena itu saya ikuti semua aturan lokal sebagai penghormatan budaya mereka.

Sore menjelang malam akhirnya kami tiba di pos lima (batas vegetasi) dan mendirikan camp untuk beristirahat. Ada yang unik di camp ini, tema2 guide Ternate pada awalnya mendirikan tenda untuk digunakan oleh kami malam ini, tetapi saya menolak untuk tidur di dalam tenda karena ketinggian kami masih di bawah 2000 mdpl dan bagi saya pribadi belum merasa perlu untuk masuk tenda pada ketinggian tersebut.

Akhirnya dua tenda yang didirikan pun tampak kosong. Saya sendiri memilih tidur tanpa tenda dan hanya menggunakan kantung tidur dengan alas matras di hutan pos lima Kie Matubu ini. Karena cukup lelah, saya pun tidur nyenyak sampai akhirnya dibangunkan oleh alarm pada jam 5 pagi.

Senin 3 Juni (day 4), #semuaadatiketnya.

Jam lima pagi kami semua sudah bangun dan melanjutkan perjalanan ke puncak. Tidak terlalu lama memang, karena satu jam kemudian kami sudah berada di kawasan puncak Kie Matubu bersamaan dengan terbitnya matahari pagi. Cuaca sangat cerah dan kami pun berhasil mendokumentasikan semua pemandangan (360 derajat) dari sekeliling puncak Kie Matubu.

Lansekap more, mati, makian di selatan dan jajaran halmahera volcanic arc sisi utaranya pun bisa kami dokumentasikan dengan baik. Gamalama, Gamkonora, Tobaru, Dukono tampak jelas di puncak Kie Matubu pagi hari itu. Saya juga sempat melihat kepulan asap dari Gunung Dukono yang memang sedang mengalami aktivitas vulkanik cukup tinggi di puncak Kie Matubu ini.

Selesai dokumentasi, kami semua turun kembali ke camp dan selepas makan siang tim turun kembali menuju Desa Gurabunga. Dalam perjalanan turun, kami bertemu dua orang expatriat (Jonathan dan Christine) yang awalnya saya kira adalah turis asing yang sedang wisata di Indonesia.

Karena melihat perbekalan logistik mereka yang sangat minim, saya pun meminta babon untuk menyiapkan roti selai kacang untuk dua bule ini. Setelah ngobrol ternyata bule ini fasih berbahasa Indonesia dan keduanya tinggal di Jakarta.

Awalnya saya tidak terlalu surprise, sampai obrolan kami menyinggung masalah "disaster mitigation", ternyata Jonathan adalah tim Geoscientist Australia yang diperbantukan dalam progam Aus-AID di Indonesia bekerja sama dengan Bnpb, Lipi dan Badan Geologi. Seperti bertemu rekan kerja akhirnya obrolan kami pun langsung cair dan tidak lagi canggung seperti awalnya.

Sore hari kami akhirnya tiba kembali di Desa Gurabunga dan langsung mencarter angkutan menuju pelabuhan Tidore. Dua jam kemudian tiba di pelabuhan Tidore dan kami pun langsung menyeberang kembali ke Ternate untuk regroup dengan satu orang wanita anggota tim yang baru tiba di hari ketiga ekspedisi ini.

Sekitar pukul tujuh malam akhirnya kami tiba di basecamp ESA dan beristirahat. Mba yanti pun akhirnya bisa bergabung dengan tim utama malam ini (setelah seharian berkeliling Ternate dengan avanza hitam yang setia mengantar kemanapun kami mau).

Setelah basa basi, saya ajak mba yanti untuk kembali menikmati wisata kuliner nasi bambu dan ikan bakar di Pantai Swering, sayang karena sudah kemalaman nasi bambunya kehabisan. Lalu akhirnya menu wisata kulinernya diganti dengan ikan bobara bakar. Setelah terlihat kekenyangan dan kecapean, kami antar mba yanti menuju penginapan untuk beristirahat disana sedangkan saya dan pak dadi kembali ke sekre ESA untuk briefing lanjutan.

Hampir tengah malam briefing tim masih belum mencapai kata sepakat. Akhirnya Pak Dadi pamit untuk beristirahat. Selepas jam satu malam pun saya belum bisa mengambil keputusan apakah Gunung Gamkonora, Gunung Kie Besi (Pulau Makian) atau Gunung Dukono yang akan menjadi target ekspedisi kami.

Sebenarnya sampai jam sepuluh malam saya sudah memutuskan Gamkonora sebagai target esok hari, tetapi kabar terbaru yang saya update disana adalah status siaga III gunung apinya (terutama di kalderanya) cukup beresiko untuk didaki. Tidak banyak orang tau jika Gunung Gamkonora adalah satu dari lima gunung di Indonesia yang memiliki karakter letusan sangat dahsyat (VEI: 5) selain Tambora, Krakatau, Galunggung dan Raung.

Oleh karena itu saya putuskan untuk mencoret Gamkonora. Pilihan saya tersisa dua gunung (Kie Besi atau Dukono). Saya putuskan mencoret Kie Besi karena minimnya dukungan spot indah di Pulau Makian. Akhirnya Gunung Dukono yang menjadi pilihan untuk kami jelajahi esok hari.

Sebenarnya aktivitas vulkanik Gunung Dukono pun sangat tinggi dan suara gemuruh kawahnya bahkan bisa kita dengar dalam radius 2km menjelang puncak. Tapi karena morfologi Gunung Dukono yang terbuka kepundannya dan pelepasan energinya lebih konstan, maka saya putuskan untuk menuju ke sana (meski harus dilakukan dengan resiko pribadi).

Selasa 4 Juni (day 5) #semuaadatiketnya.

Selasa pagi tim ekspedisi Dukono dimodifikasi menjadi dua tim. Satu tim Ternate dan satu tim Halmahera. Total jumlah tim adalah delapan orang (saya, pak dadi, mba yanti, mba nasti, mba eci, abied, faiz, andi, eno). Perjalanan dimulai dengan menyeberang ke pelabuhan Sofifi dengan mencarter speedboat (krn kapal fery nya tidak berangkat pada hari itu).

Tiba di pelabuhan Sofifi menjelang tengah hari dan disambut oleh dua mobil penjemput. Dua mobil inilah yang akan mengantar kami menuju camp pendakian Gunung Dukono. Perjalanan sepanjang 127km dari Sofifi ke Tobelo adalah salah satu perjalanan yang paling mengesankan selama ekspedisi berlangsung. Jalan mulus dengan banyak tikungan tajam + kontur naik turun gunung di tengah hutan dan perkebunan kelapa dilibas oleh2 supir lokal dengan mulus.

Di GPS yang saya bawa rombongan kami mencatat top speed 139km/jam pada jalanan antara Sofifi-Tobelo. Sebuah perjalanan yang menyenangkan sekaligus cukup beresiko, tapi karena supir lokal sangat piawai, saya pun tidak terlalu khawatir.

Tiba di daerah Kao, kami beristirahat di rumah makan di desa Tahane. Rumah makan ini saya kira milik orang Bugis, karena saya sempat mendengar dialek mereka. Rumah makannya cukup bersih dan luas. Ini rumah makan yang paling ramai dikunjungi oleh orang yang bepergian dari Tobelo menuju Sofifi, Sidangoli ataupun Jailolo.

Konsepnya seperti perasmanan, tetapi harganya flat. Menu apapun yang dipilih, harganya adalah 25 ribu per orang. Memang terasa mahal, tapi karena tidak mudah menemukan rumah makan di Halmahera, saya kira wajar jika harganya dipatok segitu. Perjalanan pun dilanjutkan menuju kota Tobelo.

Sepuluh kilometer sebelum masuk kota Tobelo, kami berhenti di rumah inyo yang juga sering digunakan sebagai basecamp rekan Tobelo. Selesai droping logistik dan makan siang, kami berangkat ke kota Tobelo untuk regroup dengan mba eci dan mba nasti yang juga akan bergabung dengan tim Dukono.

Di dalam kota tobelo kami pun mampir kembali ke rumah makan Saung Tobelo untuk kembali menikmati wisata kuliner all u can eat. Restoran dengan gaya khas Jawabaratan ini cukup bersih, rapih dengan menu yang cukup mengundang rasa lapar.

Sebenarnya kami belum lama makan di rumah inyo, tetapi godaan all u can eat di saung tobelo menjadikan perut kami harus sedikit di modif karena overload makanan enak khas Tobelo. Saya pun langsung bertanya menu spesial RM ini ke pelayannya. si pelayan dengan percaya diri menawarkan menu Bebek Tinoransa sebagai menu spesial dan saya pun memesannya.

Saya langsung terbayang lemak yang berlebih, tekstur daging yang tipis dibalut tulang bebek yang lebih keras dari tulang ayam.   saya sekilas teringat menu nasu palekko yang juga adalah menu olahan bebek yang beberapa tahun lalu sempat saya cicipi di salah satu RM di kota Enrekang, Sulawesi Selatan.

Ternyata benar, setelah bebek tinoransa dihidangkan rasanya sangat mirip nasu palekko, bedanya hanya lebih spicy, rempah2nya (pala) lebih kuat dan ada menu tengah kangkung dan daun kasbi sebagai lalapannya. Lebih nikmat dan panas di lidah karena setelah makan dilanjut dengan minum air guraka dengan taburan kenari khas Halmahera menjadikan pengalaman kuliner saya bertambah.

Setelah kenyang makan puas di saung Tobelo, kami melanjutkan perjalanan untuk bertemu mba eci di unira. Selesai bertemu kami pun meluncur menuju basecamp mamuya tempat kediaman mba nasti. sekitar jam 7 malam kami pun tiba di mamuya.

Selesai silaturahmi dengan keluarga di Mamuya, kami pun packing kembali perlengkapan yang akan digunakan esok hari pada pendakian Gunung Dukono. Selesai packing kami pun seharusnya beristirahat, tetapi ada satu suguhan khas lokal (welcome drink) Tobelo yang biasa disuguhkan untuk tamu2 dari jauh sebagai simbol kekerabatan.

Atas nama budaya, saya pun menerima jamuan tersebut dan akhirnya kami pun ngobrol panjang lebar bertukar cerita budaya kami masing2 dengan diselingi canda tawa efek "tjap tikoes" yang kami nikmati malam itu. hmm….sebuah suasana yang sangat saya inginkan untuk terulang kembali suatu hari.

Rabu 5 Juni (day 6) #semuaadatiketnya.

Hari masih gelap, tapi kami semua sudah bangun dan siap untuk memulai pendakian ke Gunung Dukono. tim ekspedisi kali ini berjumlah delapan orang dan bertepatan dengan fajar menyingsing kami pun memulai perjalanan. perjalanan dimulai dari mamuya yang berketinggian 11 meter di atas permukaan laut. Tiga puluh menit berjalan kami pun tiba di area hot spring (air panas) Mamuya. saya melihat GPS dan surprise, ternyata ketinggian area ini adalah 13 meter DIBAWAH permukaan laut.

Sejenak saya berpikir apakah instrumen gps oregon 550i ini yang salah atau memang kami berada minus 13 meter dibawah permukaan laut? setelah saya kalibrasi ulang dua kali akhirnya saya yakin kalau kami memang berada 13 meter dibawah permukaan laut.

Satu jam berjalan selepas air panas Mamuya, kami menyusuri perkebunan kelapa. sepanjang mata memandang hanya hamparan nyiur melambai diselingi tanaman coklat dan palawija sampai akhirnya kami bertemu dengan sungai jernih yang cukup indah di tengah perkebunan kepala. selepas sungai kami mulai meninggalkan perkebunan kelapa dan masuk ke area bekas hutan inti Gunung Dukono.

Meskipun hutan2 disana 70% sudah artifisial, tetapi saya masih bisa membedakan mana hutan primer dan mana hutan produksi disana. tidak berapa lama kemudian kami tiba di area pohon kelapa hibrida dan karena cuaca cukup panas, akhirnya kami pun beristirahat disana. faiz sebagai anggota tim yang paling handal memanjat memperlihatkan kepiawaiannya dengan memanjat pohon kelapa dan menjatuhkan sekitar tujuh butir kelapa muda yang segar untuk kemudian menjadi menu pelepas dahaga kami.

Hampir tengah hari (7 jam perjalanan) kami mulai masuk ke hutan inti Gunung Dukono. hutannya mirip dengan hutan montana di Jawa. hanya bedanya disini kita akan sering melalui (menyeberangi) sungai2 lava sepanjang perjalanan menuju puncak. sepertiga perjalanan terakhir, jalurp pendakian menjadi curam dan cukup rawan di beberapa bagian karena jurang2 di kanan kiri cukup dalam sedangkan jalur yang kami lalui cukup sempit dengan tanpa pengaman.

Beruntung cuaca cukup cerah saat itu sehingga langkah kami tidak terganggu dengan jalanan yang licin. sekitar jam empat sore, kami berhasil mencapai batas vegetasi dan tidak lama kemudian kami mencapai kaldera tua gunung mamuya (sisa kawah vulkanik gunung mamuya). dari sini kita bisa melihat dengan jelas kerucut puncak Gunung Dukono yang menjadi tujuan perjalanan kami. karena hari sudah sore, saya akhirnya tim bermalam di sekitar kaldera.

Kamis 6 juni (day 7), #semuaadatiketnya.

Seperti kebiasaan pendakian di gunung Jawa, jam empat pagi adalah jamnya alarm dan tim harus segera bersiap untuk summit attack. tapi di Halmahera ini tampaknya tidak ada budaya summit attack, sehingga jam empat pagi adalah waktu terbaik untuk tidur nyenyak. Saya pun setuju karena beberapa hari ini cukup kelelahan selama dalam perjalanan.

Apalagi saya baru dua hari turun dari gunung Kie Matubu sehingga masih butuh satu/dua hari lagi untuk recovery fisik. Tapi tidak dengan mba yanti, dia sangat bersemangat untuk summit attack dan dengan gaya chaos dan sangat represif membangunkan penghuni bivac di kaldera Dukono.

Dengan sangat terpaksa saya pun bangun dan memang langit sudah mulai tampak terang waktu itu (saya baru sadar kl berada di Indonesia timur). Akhirnya saya, mba yanti, mba eci, dan pak dadi berangkat menuju puncak. di tengah perjalanan abied dan faiz ikut bergabung, sedangkan mba nasti dan andi tetap di camp.

Sejak tengah malam saya mengamati pola letusan Gunung Dukono ini dan selepas jam 1 dini hari gunungnya cenderung tenang dan tidak terjadi letusan di kawahnya. padahal kemarin sore ketika kami tiba di kaldera, beberapa kali saya menyaksikan letusan2 magmatis yang cukup besar (column letusan 500 - 1000 meter). Untuk mencapai puncak dukono tidak mudah karena tidak ada jalur untuk mencapainya.

Kita harus merintisnya dari kaldera dengan cara kita sendiri. akhirnya di perjalanan menuju ke puncak, tim pun terbagi secara alami menjadi tiga. semua mulai terpisah di tebing bawah. awalnya saya, mba yanti dan mba eci memaksakan memanjat tebing granit dengan ketinggian sekitar 30m agar menghemat waktu, sedangkan faiz, abied dan pak dadi tetap melalui sungai lava di sisi kanan. lalu kemudian saya pun berpisah dengan mba yanti dan mba eci di punggungan awal kubah gunung karena saya tertarik dengan material2 pumice high SiO2, sedangkan mba yanti dan mba eci tetap fokus untuk mencari jalur ke puncak.

Akhirnya seratus meter sebelum puncak saya bertemu kembali dengan mba yanti dan mba eci, lalu kami pun bersama2 merintis jalur ke puncak dari sisi timur laut setelah sebelumnya saya membuat seismometer manual dgn botol air mineral sbg early warning letusan. sedangkan pak dadi, abied dan faiz sukses mencapai puncak dari sisi utara tidak lama setelah kami mencapai puncak. karena aktivitas letusan yang cukup berbahaya, maka kami tidak mungkin berlama2 memandangi isi kaldera Gunung Dukono. pukul 05:53WIT (07:53WIB) setelah dokumentasi dan mengabadikan lava Gunung Dukono, kami pun segera turun. sekilas saya melihat lava merah di permukaan kepundan Gunung Dukono dengan mata telanjang. hampir satu menit saya memandangi dengan seksama dan berkesimpulan SiO2 nya mungkin sudah mature di 56 - 58%. entahlah, tapi gunung ini sudah siap meletus dan hanya menunggu waktu saja.

Tiba kembali di camp untuk sarapan pagi dan saya pun terkejut dengan letusan magmatis pertama pagi ini. beruntung semua sudah berada di camp sehingga letusan magmatis yang terjadi di Gunung Dukono tidak berdampak kepada tim. sekitar pukul sepuluh pagi kami kembali ke pesisir mamuya dengan membawa cerita2 mengesankan. mba yanti, mba eci dan mba nasti adalah tiga wanita dalam tim ekspedisi yang duluan turun ke mamuya dan tiba di air panas empat jam di depan kami.

Rombongan pria baru bisa mencapai air panas mamuya menjelang maghrib (itu pun dengan bantuan mobil 4 x 4 yang kami tumpangi di kebun kepala). kamis malam ini kami semua berkumpul di rumah mba nasti untuk istirahat. jam sepuluh malam kami pun pamitan dan melanjutkan perjalanan ke tobelo. selanjutnya sebagian anggota tim istirahat di rumah inyo dan sisanya langsung berangkat mengantar mba yanti ke sofifi karena ybs akan pulang ke Makassar dengan pesawat pagi dari Ternate.


Jumat, 7 Juni (day 8), #semuaadatiketnya.

Setelah mengantarkan mba yanti ke pelabuhan sofifi, siang ini kami melanjutkan perjalanan menuju ke pulau meti sebagai destinasi tambahan. sebenarnya kami diajak juga ke pulau lain (kakara dan dodola) tapi karena efisiensi waktu akhirnya kami memutuskan menuju pulau meti. tiba di pelabuhan penyeberangan tradisional pulau meti menjelang senja dan kami pun langsung menyeberang. pelabuhan disini sangat sederhana dan saya kira kawasan pulau meti masih sangat tradisional dalam pengelolaan kawasannya.

Tidak tampak aktivitas pariwisata di pulau (kompleks pulau meti) ini, sehingga saya pun cukup surprise di pulua seindah ini tapi belum dikelola untuk pariwisata!   malam harinya kami sandar di salah satu sisi pulau dengan pasir putih yang sangat lembut. tidak ada ombak di pulau ini sehingga kami cukup nyaman mendirikan camp di pasir putihnya. malam hari di pasir putih pulau meti adalah salah satu malam terbaik selama ekspedisi ini. suasana yang alami dengan dukungan cuaca malam yang cerah dan hamparan pasir putih sejauh mata memandang, menjadikan malam di pulau meti terasa spesial untuk kami.

Lantunan lagu tradisional Maluku sangat indah dinyanyikan dengan petikan gitar dua orang musisi lokal halmareha (eno dan andy). sempat terganggu dengan kehadiran ular (halmaheran retic), tetapi setelah ular tertangkap, acara dilanjutkan kembali dan si ular pun saya simpan di kardus krn rencananya akan saya bawa sebagai souvenir, sayangnya pagi harinya si ular sudah kabur entah kemana.

Semakin malam suasana semakin indah, mata sudah mulai berat untuk dibuka tapi mulut tidak berhenti mengunyah kacang kulit dan sambil menyanyi lagu2 halmahera yang lambat laun saya mulai bisa menghafalnya. saya serasa berada di private beach karena malam itu hanya kami saja yang berada di pulau meti. sajian cigam (minuma khas tobelo) sukses membuat suasana malam itu sangat istimewa.

Sampai akhirnya menjelang tengah malam saya sudah tidak kuat lagi dan pamit untuk beristirahat. meskipun jarak tenda hanya lima meter saja, tapi butuh perjuangan yang cukup berat untuk bisa mencapainya. efek cigam terasa telak membuat saya langsung tertidur sangat pulas hingga esok hari. dan baru tau cerita2 lucu semalam setelah mendapat cerita dari temen2 yang masih tetap berpesta selepas saya tertidur.


Sabtu, 8 Juni (day 9), #semuaadatiketnya.

Mungkin karena pesta semalam yang sangat meriah sehingga kami semua bangun kesiangan pagi ini. suasana camp pulau meti tampak sangat berantakan dan saya pun memakluminya. pagi ini saya gunakan untuk sekedar foto2 pantai dan tentunya memancing!

Sebenarnya saya sudah mulai mancing sejak semalam, tetapi karena tidak terlalu suka mancing malam maka baru pagi ini saya lanjutkan. cukup banyak ikan2 terumbu yang saya liat dari sekitar dermaga dan sebenarnya tidak sulit untuk memancingnya. hanya karena peralatan memancing saya sangat sederhana sehingga beberapa kali kail saya tersangkut batu karang. entah berapa kali saya strike, tapi kemudian lepas lagi gara2 kail saya tersangkut.

Selesai mancing, saya pun kembali ke camp untuk makan pagi. selepas makan pagi kami berangkat mengelilingi pulau dengan perahu motor yang sudah kami carter selama kami berada di pulau meti. ketika saya keliling pulau sekilas saya melihat pulau sangat kecil di GPS yang saya bawa. entahlah, saya pun ragu kalau citra yang ditampilkan GPS adalah sebuah pulau. tapi setelah saya tanya kepada juru mudi kapal barulah saya yakin kalau titik di utara pulau utama itu adalah sebuah pulau karang. awalnya saya pun sempat ragu karena jarak tempuh dan kecepatan kapal sangat tidak rasional, tapi karena rasa penasaran akhirnya saya minta jurumudi mengarahkan kapal menuju pulau karang yang ada di utara pulau utama ini.

jujur, awalnya tidak ada ekspektasi khusus tetapi ketika samar2 terlihat pulau karang yang dimaksud barulah saya sadar kalau saya sedang menuju salah satu pulau terindah di dunia! 500 meter menjelang pulau ini, kami sudah berada di hamparan terumbu2 karang yang sangat indah. sejauh mata memandang hanyalah terumbu karang dangkal yang sangat cocok untuk aktivitas snorkeling dan diving. dan ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini, saya pun hanya bisa tertegun. sejurus kemudian saya berkeliling pulau sambil mengabadikan dalam bentuk foto.

Tidak perlu banyak lagi deskripsi tentang pulau ini, biarkan foto2 yang berbicara. menjelang tengah hari kami kembali ke daratan halmahera dengan segudang cerita yang kami dapat di pulau meti selama dua hari. Inyo yang setia mengantar kami selama di halmahera sudah duduk santai menunggu kami di dermaga dengan toyota terios putihnya. dan setelah berganti supir, sore itu pun kami langsung berangkat menuju pelabuhan sofifi sekaligus mengakhiri salah satu epidose terbaik kami di halmahera. tiba di pelabuhan sofifi sekitar pukul tiga dan tidak lama kemudian kapal fery tiba dan kami langsung menyeberang ke Ternate untuk beristirahat semalam.

Minggu, 8 Juni (day 10), #semuaadatiketnya.

Saya masih teringat hari pertama menginjakkan kaki di Maluku Utara ini. Ah ternyata sudah hari kesepuluh dan saya pun harus kembali ke Jakarta. Diantar Faiz dan Tono, saya dan Pak Dadi bergegas menuju Bandara Sultan Babullah Ternate minggu siang itu.

Tiba di bandara saya kembali bertemu Jonathan dan Christine yang juga akan kembali ke Jakarta dengan penerbangan yang sama dengan saya. Setelah itu saya dan Faiz mampir ke kedai bandara untuk ngopi sambil ngobrol.

Pak Dadi tidak tampak kali ini karena beliau langsung masuk bandara dan nongkrong di ruang tunggu bandara. 10 menit sebelum pesawat take off saya pun pamit ke Faiz dengan janji akan kembali pada saatnya nanti.

Seperti ketika berangkat dari Makassar menuju Ternate, kali ini saya pun mendapat kesempatan kedua naik pesawat baru milik garuda Indonesia jenis CRJ-1000 Next Gen. Pesawat bermesin GE CF34 ini adalah pesawat paling baru yang dimiliki Garuda. Pukul 12:15 WIT pesawat GA-661 pun take off dengan mulus.

Dua jam kemudian saya tiba di Makassar untuk transit, selama menunggu jam penerbangan selanjutnya saya pun dijemput (kembali) oleh mba yanti dan mab lisda di Bandara Sultan Hasanudin Makassar.

Tidak banyak basa basi, saya pun minta diajak makan kuliner Makassar saat itu juga! mba yanti pun mengajak saya keluar bandara yang kami makan di kedai sop saudara. Mba lisda kemudian bergabung bersama satu orang rekannya dan kami berempat berangkat ke ramang, tapi apa daya, hujan deras menghadang perjalanan kami menuju ramang2.

Mba yanti dan mba lisda sempat merayu agar saya berangkat ke Jakarta dengan flight pagi keesokan harinya, tapi kali ini saya mampu menolak racun Makassar yang terkenal cukup ampuh sebenarnya. Akhirnya kami kembali ke bandara dan ngopi ke kedai kopi bandara. Seperti ketika berangkat, kali ini saya pun mendapat panggilan final call dari petugas bandara dan menjadi penumpang pesawat yang terakhir masuk kabin.

Tiba di Jakarta kembali sekitar pukul 7 malam dengan sepatu, kerir, jaket basah kuyup sisa hujan di Makassar sore tadi. Saya pun menjadi satun-satunya orang yang berbasah ria di terminal 2F Bandara Soekarno Hatta malam itu. Banyak yang heran mengapa kerir, sepatu dan jaket saya basah kuyup padahal cuaca Jakarta cerah?

"Ah mereka tidak tau apa kami alami di Makassar sore tadi," pikirku.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA