Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 01 Mei 2019 16:15 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kisah Liburan Irit Budget ke Vietnam

Rania
d'travelers
Foto 1 dari 5
STREET AT HANOI
STREET AT HANOI
detikTravel Community - Mau coba liburan irit budget ke luar negeri? Vietnam bisa jadi pilihan. Bisa banget liburan murah di negara ini. Simak kisahnya berikut ya!

Mau share petualangan backpacker saya ke Vietnam, tepatnya Hanoi. Sudah lama nggak jalan-jalan keluar Indonesia. Selain kesibukan kerja, juga terutama masalah dana. Biasalah, ada yang harus diprioritaskan selain jalan-jalan.

Perjalanan kali ini saya dan 1 orang teman cari-cari untuk mendapatkan tiket ke Hanoi dengan harga yang murah, karena berhubung rencana berangkatnya di akhir tahun. Akhirnya saya dan teman mendapatkan tiket Ke Hanoi dengan transit di Kuala Lumpur dengan harga yang cukup hemat, dapat makan lagi di pesawat.

Keseruan pertama adalah masalah budget, malu sih di ceritain tapi ya udalah ya kan sharing. Saya dan teman sebenarnya modal nekat ke Hanoi dengan budget minim pas-pasan, tapi kami berangkat dengan Bismillah aja yang penting jalan-jalan untuk menghilangkan stress selama setahun kerja.

Kebetulan teman saya membawa anaknya yang baru beranjak dewasa alias ABG. Pertimbangan kami berangkat bertiga sebenarnya selain irit budget mulai dari penginapan, transportasi saat di Hanoi, dan yang pasti gak ribet kalau hanya bertiga.

Saya berangkat jam 6 Pagi waktu Jakarta, penerbangan ke Hanoi harus transit di Bandara International Kuala Lumpur. Di tiket menunjukan keberangkatan ke Hanoi pukul 9 Pagi lewat 15 Menit waktu Kuala Lumpur.

Waktunya sangat mepet, mengingat jarak saya turun untuk transit lumayan jauh, karena KLIA cukup luas. Saya pun harus menggunakan train bandara untuk menuju pesawat ke Hanoi. Dengan berlari-lari saya beserta teman saya yang bawa anaknya mengejar pesawat tersebut.

Keseruan tidak itu saja, udah capek lari-lari dan ternyata ruangan pesawatnya pindah lagi. Saya pun kembali berlari sambil ngomel-ngomel karena tidak ada konfirmasi bahwa ruang tunggu pesawat menuju Hanoi di pindahkan.

Saat itu saya kenalan dengan seorang warga Hanoi, namanya Mba Ruby. Singkat cerita setelah kenalan, Ruby adalah salah satu warga Hanoi yang mengadu peruntungan di Kuala Lumpur dan pulang kampung karena liburan akhir tahun.

Akhirnya saya pun mendarat dengan selamat di Bandara Hanoi. Pengamanan cukup ketat di Bandara Hanoi, tidak boleh photo ataupun merekam. Nggak tahu juga sih kenapa peraturannya begitu, yang pasti saya harus patuhi padahal hasrat hati mau narsis di instastory.

Setelah lolos di imigrasi Hanoi, saya beserta teman saya dan Ruby keluar bandara untuk mencari transportasi tujuan kota Hanoi. Baru saja keluar dari pintu bandara, udara dingin sudah mulai menyelinap ke dalam jaket saya.

Yap, saat itu Hanoi sedang musim dingin jadi suhu udara di sana 9 Celcius. Kalau traveling ke Hanoi saat bulan Desember, cuaca di sana sedang musim dingin, bawa jaket yang tebal yaa guys.

Akhirnya bus yang saya tunggu pun sudah datang, jadi saya menggunakan trasnportasi bus ke Kota Hanoi. Sepanjang jalan saya perhatikan Hanoi itu kota yang masih sangat sederhana. Berbanding terbalik dengan Jakarta, dimana puluhan pencakar langit sudah ada. Di Hanoi mungkin hanya bisa dihitung bangunan gedung tinggi.

Satu hal yang terucap saat saya tiba di Hanoi adalah 'simple life' karena begitu saya jalan kaki menuju hotel, saya berasa berada di Pasar Glodok atau Asemka. Sepanjang jalan banyak toko-toko kecil dan Ibu-ibu bawa gerobak berjualan. Mulai dari jualan pakaian, buah-buahan, dll.

Di Hanoi motor berseliweran tidak beraturan belok kanan-kiri jadi kalau saat jalan atau nyebrang harus tengok kanan-kiri juga. Tapi so far masyarakat Hanoi itu ramah banget, sama kayak saya (senyum sendiri).

Saya dan teman saya menuju hotel yang sudah dibooking sebelum berangkat. Petualangan mulai dari sini, taraaaaa ternyata hotel yang sudah dibooking oleh teman saya tidak ada data di nama tamu hotel ini. Padahal sudah didebet dari kartu kredit dan statusnya sukses.

Teman saya pun tidak bisa complain ke Ttraveloka karna kami kesulitan untuk menghubungi CS Traveloka karna sudah ganti kartu smartphone dan memutuskan nanti saja saat di Indonesia. Bersyukur Receptionist Hotel baik sekali dan mau mengantarkan kami hotel yang lain.

Saya beserta teman saya diantar dengan menggunakan motor, so nyampe di Hanoi udah motor-motoran. Akhirnya saya pun dapat hotel Backpakeran dengan isi bed nya 8 harganya sangat murah hanya Rp 75.000/malam dan dapat breakfast, hihihi.

Tapi anggran hotel jadi pengeluaran tak terduga dikarenakan hotel yang sudah dibooking melalui traveloka, data pemesan tidak terdaftar di hotel tersebut. Hotel backpackeran ini pun nyampur pria wanita tapi bersih dan aman.

Saat itu tidak ada tamu yang lain kecuali saya dan teman saya beserta anaknya Anabel. Kami bertiga melepas lelah sejenak untuk bisa mengumpul energy jalan-jalan sore di Kota Hanoi. Sore hari saya pun jalan menelusuri Kota Hanoi.

Karena perut sudah lapar dari siang belum makan, saya pun bingung mau makan apa, takut makananya tidak halal, akhirnya kami keliling-keliling sambil mata lirik-lirik ada makanan yang halal, karena kami mau coba Pho khas Vietnam tapi takut dagingnya olahanya.

Akhirnya kami memukan makanan yang rasanya bisa kami makan berbentuk gorengan seperti bakwan udang dan disajikan dengan aneka sayur-sayuran dan kuah. Sambil ketawa-ketawa berasa kayak kambing dan sapi makan sayur-sayuran.

Kebetulan saya bawa rendang dari rumah, kami pun melahap abis semuanya sampai kenyang. Harga dari makanan itu dibanderol hanya Rp 18.000. Lanjut saya pun berswafoto di pinggir jalan Hanoi dengan segala hiruk-pikuknya.

Setelah puas jalan-jalan sore, saya pun kembali ke hotel untuk merencanakan kepergian malam ini ke Sa Pa. Kejadian tak terduga kembali lagi. Saat teman saya konfirmasi tiket Bus ke Sa Pa, ternyata tiket tersebut sudah dicancel oleh agennya dan teman saya sudah ada notificationnya melalui email di Spam, namun karena teman saya gak cek email sebelum keberangkatan dia pun tidak tahu kalau busnya di refund.

Jadi ini perhatikan banget guys, kalau berangkat travel dan sudah booking beberapa akomodasi, sebaiknya cek semuanya ke email dan confirm sebelum berangkat untuk memastikan semuanya sudah done.

Saya dan teman saya pun gagal ke Sa Pa. Padahal kami semuanya sudah menghayal untuk narsis di Sa Pa, little Eropa. Di sana kebetulan lagi ada salju, kebayang kan salju-saljuan tanpa harus ke Eropa atau Jepang.

Hasilnya untuk menebus rasa kecewa kami memutuskan untuk pergi ke tempat yang lain yaitu Tam Hoc dan saya pun harus mengeluarkan dan lagi untuk tiket Paket Tour Tam Hoc senilai Rp 500.000 per orang. Dana di tangan pun menipis, tapi ya sudahlah kami ketawa-ketawa sambil bilang ini pengalaman, haha.

Hari kedua saya melanjutkan petualangan saya keliling kota Hanoi. Saya pergi ke kawasan Hokiem Lake, salah satu pusat wisata yang wajib dikunjungi oleh wisatawan. Dari hotel saya cukup berjalan kaki saja, sambil menikmati old quarter Hanoi.

Sambil berfoto dan menikmati cuaca dingin Hanoi, saya pun berjalan menuju Gereja Katedral yang berada di pusat kota. Salah satu bangunan bersejarah yang hampir mirip dengan bangunan duomo Italia. Karena perut sudah lapar, saya pun mencari makanan.

Sekali lagi, karena saya sudah menghapal beberapa istilah makan di Hanoi akhirnya kami menemukan Kedai Pho yang olahannya ayam. Rasanya maknyusss, dan saya pun makan dengan lahap. Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan sesuai itenary yang sudah saya dan teman saya list.

Kami pergi ke tempat bersejerah yaitu universitas tertua di Hanoi, ke pusat pemerintahan dan saya sekali-kali mencuri berphoto dengan polis penjaga di depan pusat pemerintah Hanoi yang diam bak patung hehe dan mirip penyanyi Kpop. Setelah itu saya pun kembali ke hotel karena sudah capek seharian mengelilingi Hanoi.

Keesokan harinya, saya pun sudah bersiap dijemput oleh tour guide untuk berangkat ke Tam Hoc. Dari Hanoi ke Tam Hoc menggunakan bus dengan perjalanan kurang lebih 1 jam. Kebetulan bus wisata ini tidak hanya turis lokal, tapi ada turis dari negara lain juga. Salah satunya di samping saya turis dari Polandia namanya Andrez, dan kami pun saling berbagi pengalaman perihal travelling.

Sebelum sampai di Tam Hoc, kami berhenti di sebuah restoran, karena ini sudah paket tour jadi ada paket makan siang dengan hidangan prasmanan, namun sekali lagi saya harus hati-hati untuk ambil makanan karena banyak yang tidak halal. Setelah itu, saya pun berusaha untuk cari tempat sholat. Akhirnya saya memutuskan untuk sholat didalam bus yang lagi jalan.

Sebelum sampai di Tam Hoc, tour guide menceritakan kisah Raja yang menguasasi Tam Hoc. Saya tidak begitu mengerti dengan ceritanya. Intinya saya merasa berada di abad zamannya cerita legenda China, Fong Sai Yuk, hihi. Ada pintu gerbang dan pagoda -pagoda. Setelah itu, bus pun meluncur ke Tam Hoc.

Sebelum menikmati Tam Hoc, yang merupakan salah satu situs warisan dunia yang dilindungi UNESCO, dan pernah menjadi tempat salah satu film Hollywood KONG The Skull of Island, ada tour keliling desa dengan sepeda. Udara dingin di sini rasanya pas dan tambah asik keliling dengan sepeda.

Petualangan ke Tam Hoc pun dimulai dengan menggunakan perahu. Uniknya, tidak hanya pria yang bekerja sebagai pengayuh perahu, ada wanita juga. Mereka biasa menggunakan kaki untuk mengayuh perahu, sangat luar biasa.

Tam Hoc merupakan aliran sungai dengan di kelilingi bukit, versi daratnya Ha Long Bay. Biasanya di musim kering, Tam Hoc ditanami padi. Semakin ke ujung, kami melewati gua stalagtit dan stalagmit.

Banyak pedagang perahu yang menawarkan jajanan seperti minuman dan snack. Biasanya mereka minta kita beli untuk pendayung perahunya. Hati-hati juga, biasanya mereka kasih harga mahal dan tidak boleh ditawar.

Setelah puas di Tam Hoc, sering keluar decakan kagum betapa Tuhan menciptakan alam ini dengan indahnya. Saya pun kembali menuju Hanoi. Sampai di Hanoi kami kelaparan. Kami pun memutuskan makan di salah satu cafe yang tidak jauh dari hotel dengan menu andalan nasi goreng, karena masih takut coba makanan yang lainnya.

Hari terakhir kami di Hanoi. Kami ingin kembali menghabiskan waktu dengan mencoba kopi telur. Kopi telur merupakan khas Vietnam. Kami pun mencoba salah satu kedai kopi terkenal Egg Coffe yaitu Cafe Giang.

Bagi teman-teman yang akan berkunjung ke Hanoi, wajib coba tempat ini. Walaupun adanya di gang sempit dan berantakan dengan kulit kuaci, tapi ini tempat yang sangat populer. Karena memang kebiasaan dari masyarakat Hanoi sukanya nongkrong sambil ngopi dan makan kuaci.

Saya pun sempatkan membeli souvenir oleh-oleh dengan dana yang sudah menipis. Setelah merasa lelah, kami memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat. Malamnya kami tidak keluar, hanya makan roti saja karena sisa uang kami menipis hanya untuk bayar taxi besok ke bandara.

Tiba-tiba, salah satu tamu hotel yang kebetulan satu ruangan dengan kami bernama Ibrahim, seorang Muslim asal Nigeria tapi warga negara China, dia bertanya kepada teman saya apakah sudah makan, teman saya pun menjawabnya belum, karena uangnya pas untuk besok bayar taxi jadi cukup makan roti saja.

Ibrahim pun menjawab "Kalian harus makan, tunggu sebentar saya tukar uang dulu,"

Kami pun kompak menjawab, tidak usah terimakasih. Kami sudah merasa kenyang dengan roti dan susu. Ibrahim mengucapkan "Kita sesama muslim harus saling bantu. Kalian harus makan malam. Tunggu sebentar," Ibrahim pun keluar.

Kami bertiga hanya bengong sambal ketawa kecil dan mikir apa yang akan Ibrahim lakukan, membelikan kita makan atau apa?

Tidak berapa lama, Ibrahim kembali dan secepatnya Ibrahim memberikan selembar uang senilai 50.000 dong Vietnam senilai Rp 100 ribu kepada teman saya. Dia bilang "Ayolah kalian makan, nanti kalian lapar,"

Kami kompak bilang tidak usah kami sudah makan roti, namun Ibrahim memaksa, dengan selalu menyebut kita muslim harus saling bantu , akhirnya karena dipaksa, teman saya pun tak kuasa menolak uang pemberian Ibrahim dengan info ke Ibrahim sampai Indonesia kami akan ganti.

Ibrahim mengucapkan jangan saya ikhlas dengan logat English Nigerianya. Alhamdullilah rezeki datang darimana saja. Akhirnya kami keluar untuk makan.

Besok paginya, kami sudah dijemput taksi yang akan mengantar kami ke bandara. Sampai di bandara kami check in dan menunggu sampai pesawat berangkat. Saya pun sempat berkenalan dengan salah satu penumpang pesawat yang sama, dia berasal dari Hanoi yang tinggal di Johor Bahru, Malaysia.

Saya sempat berfoto dengan anaknya yang masih kecil karena wajahnya imut dan lucu. Alhamdullilah saya dan teman saya pun mendarat dengan selamat di Kuala Lumpur. Karena kebetulan saya memperpanjang masa liburan saya untuk tinggal di Kuala Lumpur 3 hari.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama perjalanan ke Hanoi. Nambah kenalan, petualangan yang seru dengan uang pas-pasan. Nextnya gaK boleh ya kayak gini. Bersyukur ketemu orang baik seperti Ruby, Andrez dan Ibrahim, yang datang bagaikan angel bagi kami bertiga.

Oke deh, itu cerita saya di Hanoi. Sampai ketemu lagi cerita lain saya di Kuala Lumpur.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED