Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 27 Mei 2019 13:18 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kopi Legendaris di Warkop Tertua Belitung Barat

Foto 1 dari 5
detikTravel Community - Kedai kopi yang satu ini, pasti tidak asing bagi traveler. Inilah Kopi Kong Djie yang lezat nan legendaris di Belitung.

Kedai Kopi Kong Djie tak ubahnya amoeba yang selalu membelah diri. Ia tumbuh subur di Belitung Barat, bahkan sampai ke ibukota. Meskipun telah banyak beranak-pinak, kedai pertamanya masih ada dan buka di dekat tugu Batu Satam, tepatnya di Jalan Siburik Barat nomor empat.

Menjelajahi Belitung tak cukup lewat alamnya saja, melainkan juga melalui rasa dari berbagai kudapan dan minuman khasnya. Jika Kecamatan Manggar di Belitung Timur dikenal sebagai kota seribu satu warung kopi, maka Tanjung Pandan kusebut sebagai kota seribu satu Kong Djie.

Kedai Kopi Kong Djie tak ubahnya amoeba yang selalu membelah diri. Ia tumbuh subur di Belitung Barat, bahkan sampai ke ibukota. Meskipun telah banyak beranak-pinak, kedai pertamanya masih ada dan buka di dekat tugu Batu Satam, tepatnya di Jalan Siburik Barat nomor empat.

Sejak tahun 1943, Ho Kong Djie mulai meracik kopi robusta dari Lampung dengan kopi arabika. Perkawinan dua jenis kopi ini menghasilkan segelas kopi nikmat yang mampu memenuhi hasrat kafein semua kalangan.

Penasaran, kuniatkan mencoba segelas kopi susunya. Setelah memesan, segera saja kucari tempat duduk. Malam itu Warkop Kong Djie ramai, sama seperti malam-malam lainnya. Ada banyak kalangan duduk di sana, mulai dari anak muda, bapak-bapak aparat yang baru pulang kerja hingga orang-orang sepertiku, pengunjung Belitung yang penasaran dengan budaya ngopinya.

Sembari menunggu, kuperhatikan keadaan sekitar. Kedai kopi ini ternyata tak luas. Hanya ada tiga ruang kecil yang mungkin cukup untuk beberapa orang saja. Foto-foto lawas terpajang di dinding yang kuyakin di cat putih beberapa puluh tahun lalu. Salah satu foto itu adalah foto laki-laki dan perempuan yang bersandingan. Segera kuambil kesimpulan, pasti itu adalah tuan dan nyonya Ho Kong Djie. Peracik kopi legendaris yang sekarang namanya ada di mana-mana.

Dari tempatku duduk, aku juga leluasa melihat para peracik kopi bekerja dengan begitu lihai. Dalam sekejap saja beberapa gelas kopi berhasil diantarkan ke meja-meja pemesan. Selain kelihaian para peracik kopi, jajaran dandang yang lebih mirip cerek raksasa juga mencuri perhatian. Ternyata dandang-dandang tersebutlah yang membuat kopi Kong Djie spesial. Bubuk kopi diseduh di dalam dandang besar tersebut dengan air mendidih, setelah dirasa cukup maka barulah ia dituang ke dalam cerek lebih kecil sebelum dituang lagi ke gelas-gelas pelanggan.

Giliran kopiku datang. Segelas kopi hitam diantarkan bersamaan dengan kental manis dan gula terpisah. Ini juga tak biasa. Warkop-warkop lain biasanya lebih memilih untuk menuang langsung kental manis ke dalam gelas dibandingkan dengan menyediakannya tak memberikan ruang kepada para penikmat kopi untuk meracik kopinya sendiri.

Setelah dirasa pas, langsung saja kuseruput kopi susu legendaris itu. Rasa pahit bercampur manis gurih dari kental manis terasa begitu pas dilidah. Apalagi ditambah dengan camilan singkong goreng lembut yang ikut kupesan tadi. Wajar saja jika kedai kopi ini jadi primadona.

Menyesap kopi di warkop ini seperti masuk kedalam mesin waktu. Suasana, orang-orang dan yang pasti rasanya tetap begitu. Datanglah dengan kawan-kawanmu, secangkir kopi dengan obrolan seru pasti membuatmu betah berlama-lama di situ.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED