Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 05 Agu 2019 11:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sungai Sejernih Kaca di Sumatera Barat

DEDY RAHMAT NURDA
d'travelers
Foto 1 dari 5
Berlebaran bersilaturrahmi bersama di alam terbuka
Berlebaran bersilaturrahmi bersama di alam terbuka
detikTravel Community - Mungkin belum banyak traveler yang tahu tentang Hulu Banda. Inilah sungai di Sumatera Barat yang airnya sejernih kaca.

Gemericik air jatuh terdengar bagai suara berirama yang mengalun merdu dari hempasan air yang menuruni anak tangga demi anak tangga dari bendung irigasi sepanjang hampir 100 meter itu.

Suara desiran air itu terdengar indah tatkala ditingkahi oleh bunyi kicau murai yang berterbangan di angkasa. Cahaya matahari yang bersinar cerah pagi itu, memantul di riak-riak air yang menimbulkan efek berkelap-kelip di permukaan telaga kecil yang tenang.

Hulu Banda, begitu masyarakat sekitar menyebutnya. Banda dalam bahasa Minangkabau berarti sungai, sehingga 'Hulu Banda' dapat diartikan sebagai Hulu Sungai, atau pangkal sungai yang bermula dari balik perbukitan yang membentuk semacam waduk atau telaga kecil di daerah Taram tak seberapa jauh dari Kota Payakumbuh Sumatera Barat.

Pagi yang cerah itu, tampak serombongan pengunjung yang terlihat berjalan beriringan melintasi aliran air yang tepat mengalir melimpah diatas badan bendung yang cukup panjang itu.

Masih dalam suasana Lebaran, rombongan yang mengaku sebagai karyawan-karyawati Inspektorat Kota Payakumbuh, sebuah dinas yang berkantor sekitar 10 km jaraknya dari Hulu Banda itu, rupanya hendak mengadakan acara keakraban dalam rangka Halal bil Halal di alam terbuka.

Dalam keriaan bersama, gerombolanbapak-bapak dan ibu-ibu itu tampak menjinjing dan menenteng berbagai perlengkapan dan perbekalan untuk disantap bersama. Perlahan-lahan menapaki aliran bendung yang airnya teramat  jernih ini, sembari terkadang berhenti sejenak di tengah bendung, rombongan yang didominasi kaum ibu-ibu ini terlihat ceria ber-selfie ria sambil tak lupa mengangkat sedikit ujung pakaian mereka yang terlihat tersapu air yang hampir setinggi betis itu.

Iringan-iringan itu sempat nyaris macet tak ubahnya suasana kemacetan arus mudik lebaran tatkala gerombolan emak-emak itu tak mau beranjak dari tengah bendung untuk menuntaskan hasrat narsis mereka dengan jeprat-jepret berbagai gaya.

Kaum bapak-bapak yang sebenarnya sudah berat menanggung beban bawaan itu terpaksa bersabar antri di bagian belakang untuk melanjutkan barisan demi menunggu emak-emak selesai menyalurkan 'bakat' mereka itu.

Suasana alam Hulu Banda yang dikelilingi bukit-bukit hijau, berbalut hutan tropis bercampur batu cadas yang masih merupakan gugusan bukit barisan itu, memang seolah tak pernah ada habisnya memanja mata dan memuaskan hati para pemburu foto dan pecinta selfie. Telaga kecilnya yang tenang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk menyediakan jasa rakit bambu untuk pengunjung yang berminat mengitari kawasan Hulu Banda.

Airnya sangat jernih dan tenang. Bagai terlapisi oleh kaca bening, perlihatkan dasar telaga yang berupa hamparan bebatuan berwarna kuning kecoklatan, sungguh menambah daya eksotis dan magis kawasan wisata alam nan masih perawan ini.

Namun sayang seribu sayang, keindahan kawasan wisata alam seperti ini semakin lama keberadaannya semakin ditinggalkan dan tergerus oleh zaman yang serba instan. Wisata alam setapak demi setapak mulai tergeser dan terlupakan tatkala obyek wisata-wisata buatan yang menyuguhkan 'keindahan artifisial' muncul bertebaran bak cendawan tumbuh di musim hujan.

Maraknya taman-taman buatan yang menjual lokasi-lokasi yang instagramable untuk berselfie ria secara instan, baik yang berkonsep ala-ala luar negeri seperti taman eropa, taman korea dan lainnya. Atau juga yang berbasis tekhnologi dan seni berkonsep studio seperti taman foto 3D, buah karya tangan-tangan kreatif era millenial, lebih digandrungi oleh para generasi zaman sekarang.

Sehingga jadilah foto-foto didepan Menara Eiffel KW, Patung Liberty gadungan atau berfoto didepan kincir angin Belanda abal-abal, oleh sebagian orang lebih jadi pilihan yang instan dibanding keindahan pesona alam seperti danau, lembah dan lautan yang nyatanya lebih memiliki keagungan dan keanggunan yang hakiki dan sejati.

Dan sebagaimana hikmah di hari lebaran yang kembali ke fitrah, maka wisata kembali ke alam pun jadi pilihan.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA