Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 25 Jun 2019 14:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Candi Tertua di Jawa Barat, Peninggalan Siapa?

Muchamad Irfan
d'travelers
Foto 2 dari 5
Landscape Candi Blandongan
Landscape Candi Blandongan
detikTravel Community - Candi biasanya agak jarang ditemukan di Jawa Barat. Oleh karena itu, kamu mesti tahu candi tertua di Bumi Parahyangan yang ada di Karawang.

Umumnya sulit bagi kita menemukan candi di Jawa Barat dan daerah lain. Sehingga, lebih banyak dari kita mengetahui candi-candi berlokasi di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Banyak dari candi-candi tersebut terkenal dan menjadi tujuan wisata wisatawan dalam dan luar negeri. Padahal bila kita telusuri sejarah kerajaan bercorak Hindu dan Buddha muncul pertama kali di Jawa Barat adalah Tarumanegara yang berpusat di dekat Sungai Citarum.

Di daerah Kerawang secara mengejutkan di tahun 1994 ditemukan komplek percandian di derah persawahan penduduk yang tersebar di beberapa titik di dua desa. Tepatnya, di daerah Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Untuk mengetahui lebih lanjut Candi Batu Jaya dan Blandongan, kami berkendara dari Jakarta dibutuhkan waktu sekitar 3 jam. Rute yang diambil melalui Jalan Tol Cikampek lalu keluar di gerbang Tol Karawang Barat lalu ambil arah jurusan ke Rengasdengklok. Di persimpangan jalan ambil arah ke Batujaya. Selepas dari tol Karawang Barat sudah terdapat penunjuk arah ke Candi Jiwa dan plang tersebut banyak terdapat di sepanjang jalan dan mudah dilihat sehingga para pengunjung yang meski baru pertamakali ke sana tidak akan tersasar.

Kondisi jalan yang menuju ke arah Candi Jiwa cukup baik meski ada jalan yang kondisinya kurang baik karena berlubang maupun bergelombang tapi tidaklah terlalu banyak. Terdapat banyak plang penunjuk arah di sepanjang jalan menuju lokasi candi yang memudahkan pengunjung untuk mencapai lokasi Candi Batu Jaya dan Blandongan.

Di pintu masuk ke lokasi situs di daerah Batujaya terdapat gapura besar yang bertuliskan selamat datang di situs Candi Jiwa. Di sana terdapat beberapa bangunan yang sepertinya akan difungsikan sebagai museum dan perpustakaan mengenai komplek percandian di kawasan Batujaya ini.

Bagi para pengunjung yang membawa kendaraan, mereka dapat menitipkan mobil di sini karena lahan parkir yang cukup luas dan aman dan bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sedang bagi yang membawa kendaran motor lebih miudah mereka dapat langsung menuju kawasan percandian karena terdapat jalan yang bagus tapi sayang masih terlalu sempit untuk bisa dilewati mobil.

Komplek percandian Batujaya sendiri terdapat 24 situs yang diyakini awalnya merupakan candi yang besar namun kini hanya tinggal reruntuhannya luas situs Batujaya diperkirakan mencapai 5 km2 dan lokasinya tidak jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (pantai ujung Kota Karawang). Bila diperhatikan Situs Batujaya berada di dekat aliran Sungai Citarum. Inilah yang menyebabkan daerah sekitar situs Batujaya merupakan kawasan persawahan yang subur hingga saat ini karena persawahan tidak bergantung hanya dari air hujan.

Bentuk Candi Jiwa bila kita perhatikan mirip bangunan stupa seperti dalam ajaran agama Buddha dengan danau kecil yang mengelilinginya yang kini sudah mengering. Bila dilihat dari atas mirip bunga padma (bunga teratai) karena strukturnya yang melingkar dari bawah ke atas semakin mengecil, sehingga bunga teratai yang sedang mekar dan terapung di atas air mirip dan yang unik.

Berbeda dari candi lainnya, tidak diketemukannya tangga yang menuju keatas dan tidak adanya ukiran maupun relief seperti yang umumnya ada pada candi bercorak Hindu dan Buddha dan tersusun dari batu bata merah berbeda dengan candi lainnya di Indonesia yang umumnya tersusun dari batu. Hingga saat ini yang baru dapat direnovasi hanyalah bagian dasarnya saja bagian atas masih belum bisa direkonstruksi untuk menjaga dan melindungi Candi Jiwa maka dibuat pagar.

Candi Blandongan terletak tidak jauh dari Candi Jiwa dapat dicapai berjalan kaki maupun dengan motor. Ada perbedaan dengan Candi Jiwa dimana terdapat tangga yang menuju ke atas dan bentuknya tidaklah mirip stupa seperti Candi Jiwa tapi bersudut tidak melingkar seperti bunga padma. Belum banyak misteri bisa diungkapkan karena banyak reruntuhan batu bata di sekitar candi yang masih berserak dan belum sempat diteliti. Yang nampak hingga saat ini Candi Blandongan hanya bagian dasar saja yang sudah berhasil direkonstruksi sedang bagian atas masih belum diketahui berbentuk seperti apa.

Hingga saat ini telah berhasil diekskavasi 11 buah reruntuhan candi dari 31 tapak situs di kawasan Batujaya dan Pakisjaya yang telah berhasil ditemukan. Tim ahli diperlukan usaha keras, kesabaran, kepedulian, anggaran besar, dukungan semua pihak agar keseluruhan candi-candi yang berada di kawasan ini dapat dipugar dan dibentuk kembali sesuai aslinya.

Bila hal itu terwujud bukan tidak mungkin komplek percandian Batujaya menjadi salah satu komplek percandian terbesar di Indonesia mengikuti Borobudur dan Prambanan. Tapi yang pasti, dari penelitian menggunakan analisis radiometri carbon C 14 pada artefak-artefak peninggalan di Candi Blandongan, salah satu situs percandian Batujaya didapat data bahwa artefak tertua berasal dari abad ke-2 Masehi dan yang paling muda berasal dari abad ke-12 Masehi

Beberapa pertanyaan yang masih menjadi misteri dan diharapkan terjawab adalah untuk fungi apakah komplek percandian ini dibangun? Sebagai tempat peribadatan, apa tempat pendharmaan atau menyimpan abu jenasah para raja, atau komplek peribadatan para pendeta Hindu atau Biksu Buddha? Mengingat adanya berita China dari Fa-Hsien dikatakan terdapat 2 agama yang dianut masyarakat Kerajaan Tarumanegara dan kerajaan-kerajaan lain penerusnya seperti Pajajaran di tanah Sunda yaitu Hindu dan Buddha.

Kedua, siapakah raja atau penguasa yang berperan besar dalam pembangunan komplek percandian di Batujaya dan sekitarnya dan dari kerajaan mana? Ketiga, apa yang menyebabkan kawasan percandian ini terlupakan? Apakah sama seperti Candi di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang terlupakan karena terkubur letusan gunung berapi ratusan tahun dan baru diketahui belakangan ini atau ada sebab lainnya.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA