Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 28 Jul 2019 15:35 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Jembatan Kayu Paling Bersejarah di Myanmar

Muchamad Irfan
d'travelers
Foto 1 dari 5
Burung dan pagoda
Burung dan pagoda
detikTravel Community - Di Myanmar, ada jembatan kayu sepanjang 1,2 kilometer yang sangat bersejarah. Jembatan dari kayu jati ini usianya sudah lebih dari 100 tahun.

Ingin melihat sunset maupun sunrise di atas jembatan terpanjang di Myanmar yang terbuat dari kayu jati yang telah kokoh berdiri lebih dari 100 tahun dan membentang diatas salah satu danau terluas dan terpanjang di Myanmar sambal menyaksikan panorama danau taungthaman dari atas jembatan ?

Maka datanglah ke Ubein Bridge yang berada di kota Amarapura yang dulunya merupakan ibukota kerajaan Myanmar (1783-1821 dan 1842-1859) sebelum akhirnya dipindahkan ke ibukota kerajaan yang baru yaitu Mandalay yang berjarak sekitar 11 Kilometer ke arah utara di tahun 1859.

Jembatan yang membentang hampir mencapai 1,2 km ini dibangun oleh mayor U Bein salah seorang perwira kerajaan Dinasti Konbaung. Kayu jati yang digunakan dalam pembangunan jembatan ini berasal dari kayu jati yang tidak terpakai dan diambil dari istana Amarapura.

Karena memiliki 2 sisi wisatawan dapat Saat melihat keindahan panorama dari atas jembatan ini saat sunset maupun sunrise

Bagi yang ingin menikmati sunrise disarankan sudah berada di jembatan U Bein sebelum jam 7 pagi dikarenakan kita memerlukan waktu mencari titik terbaik mengambil foto sunrise dari jembatan.

Berdasarkan pengalaman, untuk bisa melihat sunrise dengan jelas kita harus berjalan cukup jauh hingga sampai di bagian jembatan yang menghadap daratan diseberang.saat kami kesana bulatan matahari jelas mulai nampak jam 7.20 pagi dan semakin jelas terlihat diikuti langit yang semakin terang hingga jam 7.35 setelah itu cahaya matahari akan pecah dan tidak focus lagi.

Bila kita sudah sampai di jembatan pagi hari sebelum jam 7 kita dapat menyaksikan langsung kegiatan masyarakat Myanmar sejak pagi hari. Kita akan berpapasan dengan biksu-biksu yang berjalan sendiri maupun beriringan menuju ke biara mereka.ibu-ibu menaiki sepeda tua dengan membawa barang dagangan mereka untuk dibawa ke pasar.

Para pelajar dengan tas sekolah mereka yang tersampir di pundak. Orangtua dengan anak-anak mereka ada yang hanya berjalan-jalan namun ada juga yang berolahraga. Para pedagang makanan dan minuman yang berdagang di pos-pos peristirahatan.

Ada banyak pos-pos peristirahatan yang dibangun disepanjang jembatan ini. Pos-pos peristirahatan ini ukurannya cukup luas dan dilengkapi bangku kayu panjang sebagai tempat duduk. Selain sebagai tempat melepas lelah para pejalan kaki di pos peristirahatan ini dan tempat para pedagang berusaha para pejalan kaki juga memanfaatkan tempat ini sebagai tempat berkumpul.

Bila kita mengedarkan pandangan kita ke danau yang berada di bawah jembatan Ubein kita akan melihat perahu-perahu kayu yang digerakkan sampan oleh warga meluncur diatas permukaan danau.dalam satu perahu biasanya ada 1 sampai 2 orang. Di dalam perahu terlihat barang-barang yang hendak mereka jual.

Danau ini juga tempat para nelayan mencari ikan nampak perahu nelayan berhenti dekat sisi jembatan dimana seorang nelayan menyebarkan jaring menangkap ikan sedang rekannya memegang sampan dan duduk di atas perahu.

Danau ini juga tempat favorit bagi burung-burung dan bebek-bebek. Burung-burung yang mengepakkan sayapnya dan terbang diatas jembatan U Bein untuk kemudian bertengger diatas tiang-tiang kayu jati yang menjadi penopang jembatan U Bein untuk kemudian terbang lagi. Kelompok bebek-bebek yang dengan gembira berenang di atas air danau.

Bila kita datang pada musim di saat curah hujan sedikit seperti saat kami datang tinggi permukaan air danau tidak tinggi dan akan muncul daratan-daratan di tengah-tengah danau. Daratan-daratan ini cukup luas dan warga Myanmar memanfaatkan daratan-daratan ini sebagai lahan pertanian dan perkebunan mereka menanam padi, sayuran-sayuran di tempat menggunakan tenaga kerbau.

Dari jembatan U Bein dengan berjalan terus kita akan sampai di ujung jembatan dimana desa taungthaman berada kami sempat bertemu para biksu yang sedang berkeliling dan warga desa dengan senang hati memberikan derma kepada biksu yang mereka temui dan sering terjadi percakapan di antara mereka berkeliling desa kita bisa melihat pagoda tua yang ada di desa ini.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA