Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 02 Jul 2019 10:21 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menggapai Mimpi Liburan ke Jepang dengan Biaya Pas-pasan

Arifita Priscilia
d'travelers
Foto 1 dari 5
Berfoto bersama sahabat dengan pose andalan di depan pintu masuk Fujikyuu Highland.
Berfoto bersama sahabat dengan pose andalan di depan pintu masuk Fujikyuu Highland.
detikTravel Community - Jepang rasanya bagai mimpi traveler, sebagai destinasi yang ingin dituju. Meski biaya pas-pasan, beginilah cerita menggapai mimpi tersebut.

Saat masih sekolah menengah, aku pernah bermimpi suatu saat ingin bisa jalan-jalan ke Jepang dengan uang sendiri. Keinginan itu muncul karena saat itu aku sangat tergila-gila dengan komik Jepang. Bahkan aku mengikuti ektrakulikuler Ju Jitsu hanya karena bela diri itu berasal dari Jepang.

Tidak hanya itu, kegilaanku tentang Jepang membuatku memilih untuk mengambil kuliah Satra Jepang walau harus bertengkar dulu dengan orang tua. Harapanku adalah jika aku mengambil kuliah tentang Jepang, maka peluangku untuk bisa traveling ke Jepang lebih besar. Alasan yang klise memang. Namun itu sudah merupakan tekadku. Setidaknya sekali seumur hidup aku harus pernah bisa pergi ke Jepang.

Saat teman-temanku mulai banyak yang mendapat beasiswa dan pertukaran pelajar ke Jepang, aku mulai pesimis karena nilaiku tidak pernah cukup baik untuk bisa menembus seleksinya. Aku pun mulai melupakan impian untuk bisa pergi ke Jepang. Aku menjalani hidup seperti orang pada umumnya. Kuliah, kerja sambil mengerjakan skripsi, lulus kuliah lalu mencari pekerjaan seadanya walau tidak sesuai jurusan. Bagiku yang penting bekerja dulu.

Aku sempat mencicipi keindahan Indonesia dari pekerjaanku yang sebelumnya, namun masih belum menghilangkan anganku untuk ke Jepang. Namun setelah merasakan bagaimana rasanya bisa menghasilkan uang yang lumayan, mimpiku untuk traveling mulai tumbuh kembali. Berawal dari iseng aku curhat ke sahabatku yang sedang kuliah master di Jepang, ia menyemangatiku untuk mewujudkan mimpi yang awalnya kuanggap mustahil. Dari situlah aku diam-diam menabung, membuat paspor dan mengurus visa sendiri. Sambil tetap berkonsultasi dengan sahabatku untuk memaksimalkan travelling dengan dana yang minim.

Tetapi perjalananku tak semudah yang kubayangkan. Untuk mengurus visa, ternyata aku harus mempunyai saldo dua puluh juta rupiah di bank. Aku langsung down, karena tabunganku hanya cukup untuk perjalanan seminggu di sana, sementara orang tuaku tidak punya uang sebanyak itu. Saudara pun tidak ada yang punya uang segitu. Tetapi mengingat aku sudah membeli tiket perjalanan pulang-pergi dengan kredit enam bulan, aku tidak mau menyerah begitu saja.

Aku pun mencari cara lain agar bisa lolos visa. Untungnya temanku berani menjaminku selama ada di sana sehingga visaku lolos. Betapa leganya hatiku saat itu, membayangkan sebentar lagi aku bisa menginjakkan kaki di Jepang. Segala persiapan traveling sudah kupersiapkan termasuk jadwal perjalanan dan lain sebagainya.

Di loket imigrasi bandara aku sempat deg-degan karena ini adalah perjalanan pertamaku ke luar negeri sendirian. Dengan membawa sebuah koper berisi oleh-oleh titipan sahabatku, dan sepasang baju yang kupakai beserta sebuah jaket dan sepatu semi boot. Sengaja aku hanya membawa pakaian yang menempel di tubuhku. Hal ini kulakukan untuk memangkas biaya bagasi pesawat. Ini adalah trik untuk traveler mancanegara yang low budget sepertiku. Biaya bagasi hanya saat pulang saja.

Lalu untuk gantinya bagaimana? Tenang saja. Di Jepang banyak toko second hand. Walaupun toko barang bekas tapi jangan dibayangkan toko yang lusuh, kotor, dan bau. Karena ini adalah Jepang, maka standar tokonya pun sesuai standar orang Jepang.

Tokonya normal seperti toko baju biasa, barang-barangnya tertata rapih dan masih dalam kondisi bagus, bersih, wangi dan harganya miring sekali. Fitting room juga disediakan, alhasil aku dan temanku menghabiskan tiga jam hanya untuk memilih-milih pakaian. Barang-barangnya pun tidak 100% bekas, banyak juga barang baru yang mungkin tidak laku di toko asal lalu dijual di toko seperti ini.

Karena saat aku ke Jepang masih akhir musim dingin, untuk coat aku mencari di Toko yang memberikan diskon besar. Aku mendapat coat seharga 780 yen saja. Jika memang berniat cari yang murah, banyak kok di Jepang barang yang murah. Di daerah Harajuku ada beberapa toko yang juga menjual second hand. Bisa dibilang hari pertamaku di Jepang hanya untuk belanja.

Untuk liburan di Jepang, hal dasar yang perlu dipersiapkan oleh para solo traveler adalah biaya transpotasi. Karena di Jepang hampir 95% mode transportasinya adalah transportasi umum, sediakan budget lumayan untuk isi saldo kartu transpotasi.

Kalau aku menggunakan kartu umum bukan wisata karena perjalananku tidak terlalu jauh sampai Kyoto atau Hokkaido. Selama seminggu aku menghabiskan dana satu setengah juta hanya untuk berkeliling Tokyo, Fujikyuu Highland dan Fujinomiya. Kartu transportasi ini bisa digunakan untuk naik kereta dan bus. Pastikan kartu yang dibawa selalu ada saldonya, karena kalau habis harus mengisi dulu di stasiun. Selain itu, pakailan sepatu yang nyaman dan tanpa hak karena di Jepang kalau kemana-mana harus jalan kaki. Jadi persiapkan fisik juga.

Dalam jadwal perjalananku, aku sengaja tidak memilih untuk ke Disney Land. Karena menurutku itu Disney Land sudah terlalu mainstream. Karena ini akan menjadi perjalanan sekali seumur hidup, maka aku memilih untuk ke Fujikyuu Highland.

Fujikyuu Highland merupakan taman wisata yang berada di kaki Gunung Fuji. Kita bisa menikmati banyak wahana-wahana paling ekstrim di dunia dengan latar pemandangan Gunung Fuji. Beberapa wahana yang terkenal diantaranya, Eejanaika yang merupakan roller coaster dengan putaran tiga ratus enam puluh derajat terbanyak di dunia, dan Takabisha yang merupakan roller coaster tercuram di dunia. Juga ada wahana yang lain namun karena saat itu angin yang bertiup cukup kencang, sehingga beberapa wahana ekstrim ditutup.

Padahal kami ingin sekali mencoba Fujiyama yang pernah menjadi roller coaster tercepat di dunia. Selain naik wahana ekstrem, aku dan sahabatku juga berfoto-foto di taman dan bangunan-bangunan yang instagramable. Karena masih akhir musim dingin dan awal musim semi, aku sempat merasakan salju turun saat mengantre naik wahana. Tidak kulewatkan momen itu untuk berfoto bersama tumpukan salju.

Suhu saat itu mencapai minus sepuluh derajat. Cuaca terdingin yang pernah aku rasakan, dan menjadi berkali-kali lipat lebih dingin saat menaiki roller coaster. Wajah terasa seperti ditampar angin kencang yang sangat dingin. Wajahku pun menjadi mati rasa.

Baru ketika roller coaster berhenti, temanku sontak tertawa terbahak-bahak melihat wajahku. Penumpang yang sedang antri pun ada yang menahan senyumnya saat melihatku. Aku pun lekas mencari barang apapun yang mengkilat yang bisa dibuat bercermin. Aku juga ikut tertawa terbahak- bahak melihat ingus yang keluar panjang melewati mulutku sampai ke dagu. Sangat menjijikkan, memalukan, sekaligus menggelikan. Sayangnya aku tidak bisa mengabadikannya karena semua barang bawaan dan alas kaki harus dititipkan di loker. Kami bermain dan berfoto sepuasnya hingga wahana tutup.

Tips untuk yang ingin mencoba ke Fujikyu Highland, berangkatlah naik bus arah Fujikyuu yang paling pagi dan pulang naik bus di jadwal terakhir. Karena jika ingin menaiki wahana yang terkenal, harus mengantre hingga dua jam karena memang serame itu. Jadi kalau tidak dari pagi sekali, tidak akan bisa menikmati semua wahananya.

Tetapi ada juga tiket terusan yang langsung masuk tanpa antri. Bisa dibilang tiket terusan VIP. Tapi harganya berkali lipat lebih mahal bahkan untuk orang Jepang. Mereka lebih banyak yang memilih tiket terusan biasa, karena aku hanya melihat satu dua orang yang menggunakan tiket terusan VIP.

Disamping tentang wisatanya, banyak hal yang menarik tentang Jepang. Seperti toilet yang hanya dapat ditemukan di Jepang. Toilet super canggih dengan banyak tombol, dan toilet canggih itu tersebar hampir diseluruh Jepang hingga Apato (kosan) temanku yang biasa saja, toiletnya sudah canggih.

Saat pertama kali menemukannya di Bandara Haneda, aku sampai berlama-lama di toilet hanya untuk mencari tahu fungsi dari masing-masing tombol. Ada tombol yang mengeluarkan suara tiruan bunyi alam seperti suara burung hingga air mengalir untuk menyamarkan suara buang air. Tekanan air dan posisi yang diinginkan untuk disemprot pun bisa diatur. Yang paling membuatku terjengkang dari kursi toilet adalah ada tombol yang dapat menyemprotkan angin. Fungsinya untuk mengeringkan (maaf) pantat. Rasanya sangat aneh, seperti telanjang lalu terkena angin dari kipas. Susah untuk menjelasakannya kalau tidak dicoba sendiri.

Menariknya saat aku ke Jepang awal bulan Maret adalah, aku bisa merasakan dua musim berbeda di dua tempat. Saat berada di Fujikyuu Highland aku bisa merasakan salju. Tetapi saat di Tokyo, aku bisa menemukan bunga Sakura yang mulai mekar. Aku dan sahabatku melakukan tantangan berburu bunga Sakura. Karena masih peralihan dari musim dingin ke mesim semi, maka di beberapa tempat seperti Tokyo sudah lebih dulu menyambut musim semi. Dari beberapa taman yang ada di Tokyo, kita memilih Taman Ueno, yang merupakan salah satu taman terbesar di Tokyo.

Kami berkeliling di berbagai sudut Taman Ueno sampai pegal. Tapi akhirnya membuahkan hasil. Kami bisa menemukan beberapa pohon Sakura yang mulai mekar. Memang tidak sebanyak jika sudah benar-benar masuk musim semi, tetapi merupakan kebanggaan tersendiri bahwa kita bisa menyaksikan mekar pertamanya.

Karena menurut orang Jepang, bisa menyaksikan yang 'pertama' merupakan sebuah berkah seperti merasakan salju turun pertama atau melihat sakura mekar pertama. Karena pada dasarnya orang Jepang menghargai hal-hal seperti itu dan memang beberapa hari sebelumnya masih belum ada yang tumbuh.

Pada bulan Maret aku ke Jepang bertepatan dengan musim kelulusan sekolah. Kebetulan teman dari sahabatku ada yang diwisuda dari akademi bahasa di Fujinomiya sehingga aku ikut ke sana menyaksikan acara kelulusan murid-murid internasional.

Itu adalah ruang paling internasional yang pernah aku datangi selain bandara karena banyak sekali murid internasionalnya sampai aku tidak bisa menebak lagi mereka dari mana. Ini merupakan pengalaman berharga bisa ikut mengenal teman-teman dari berbagai negara asia bahkan eropa. Bahkan kita juga diundang di pesta kelulusan mereka. Seru sekali bisa ikut merayakan pesta ter-internasional-ku seumur hidup.

Tentu saja ada yang menarik perhatianku saat pesta. Dia adalah lelaki korea selatan yang cute. Aku melihat gelagat teman-teman baruku itu mendekatkan kami. Hmm yah, dia lumayan.

Tetapi dia tidak bisa bahasa inggris dan aku kurang lancar berbahasa Jepang. Jadinya kita berkomunikasi dengan bahasa Jepang campur Inggris campur bahasa tubuh. Kalau diingat-ingat itu pengalaman yang lucu saat ingin menyampaikan 'permisi mau buang air besar di toilet' dengan bahasa tubuh. Dan harapan romantisme petualang perempuan ala drama-drama korea, pupus sampai disitu.

Walau aku tidak ikut tour trip bersama rombongan, aku ditemani sahabatku juga mendatangi sendiri beberapa tempat ikonik untuk mengabadikan momen, seperti Akihabara, Shinjuku, Harajuku, Meiji Jingu, dan Kaminorimon Sensoji yang terkenal dengan lentera merahnya yang besar.

Sebenarnya aku ingin sekali bisa masuk ke Tokyo Sky Tree, tetapi karena tiket masuknya sangat mahal, aku membatalkan niat masuk ke sana. Sebagai gantinya, kita pergi ke Jembatan Asakusa. Disana bisa mendapatkan pemandangan Tokyo Sky Tree dengan jelas dan bangunan unik yang di atas gedungnya terdapat bentuk seperti gumpalan awan.  Jembatan Asakusa itu sendiri sudah indah dengan lampu-lampu merah yang menghiasi bawah jembatannya. Jika ingin mendapatkan pemandangan Tokyo yang indah dengan lampu-lampunya, lebih baik berangkat saat malam hari.

Dengan biaya yang terbatas, aku tetap bisa membawakan keluarga dan teman oleh-oleh. Untuk pakaian, tas, dan aksesoris lainnya, aku berburu di toko second hand, sedangkan untuk barang-barang unik dan camilan murah aku membelinya di Daisho, toko yang menjual semua barang seharga 200 yen. Tinggal seberapa pintarnya kita memilih harga dan kuantitas.

Perjalanan ini memang tidak mewah, namun ini merupakan perjalanan luar biasa yang tak akan kulupakan seumur hidupku. Bagaimana cara memilih lokasi wisata yang murah, mencari transportasi yang murah, bisa mendapatkan teman-teman baru dan pengalaman baru.

Sangat menyenangkan bisa memaksimalkan kunjungan wisata walau dana terbatas, terutama berkat campur tangan sahabatku yang berperan penting dalam merencanakan perjalanan ini. Karena traveling memang merupakan passion dalam diriku yang tidak bisa hilang. Walau sekarang sudah berkeluarga, namun jika ada kesempatan aku tidak akan melewatkan momen agar dapat traveling kembali.

Seperti saat aku sedang membaca berita-berita di detik.com, aku melihat artikel tentang sayembara traveling ke Dubai oleh Detik.com yang disponsori oleh Dubai Tourism Board. Jiwa ingin jalan-jalanku langsung muncul kembali.

Apalagi Dubai merupakan destinasi wisata yang banyak diincar para traveler karena Dubai memiliki pesona yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Terutama aku ingin sekali berada di lantai teratas Burj Khalifa sebagai gedung tertinggi di Dunia, dan menguji adrenalin dengan bersafari di Dessert Safari Dubai.

Aku sudah membayangkan betapa serunya menaiki unta dan mengendarai mobil 4 wheel di gurun pasir, dan yang pasti menikmati panorama gurun yang sangat indah. Lalu mengenal lebih dalam sisi lain Dubai di Bastaqia Quarter dengan bangunan-bangunan tuanya yang khas arab kuno, mengunjungi museum dan menikmati kopi khas arab. Tak lupa juga berfoto di Miracle Garden yang menakjubkan.

Membayangkannya saja sudah membuat adrenalinku membuncah, dan ingin segera bisa membagi pengalaman itu dengan orang-orang di sekitar.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA