Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 22 Agu 2019 15:33 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Legenda di Balik Patung Buddha Tidur Myanmar

Muchamad Irfan
d'travelers
Foto 1 dari 5
Patung Buddha
Patung Buddha
detikTravel Community - Traveling ke Myanmar, ada banyak patung Buddha tidur yang bisa dilihat traveler. Salah satu yang cukup istimewa adalah Patung Shwe Tha Lyaung di Kota Bago.

Selama kunjungan penulis di Myanmar terhitung lebih dari 10 kali penulis mengunjungi kuil-kuil dimana terdapat patung-patung Buddha dalam posisi berbaring berukuran besar yang panjangnya mencapai puluhan meter. Di antaranya yang terbesar dan terpanjang adalah patung Buddha Chauk Htat Gyee Image di kota Mandalay yang panjangnya mencapai 250 kaki atau 76.45 meter.

Di Kota Bago juga terdapat patung sejenis bernama Shwe Tha Lyaung namun lebih kecil dan pendek. Panjang patungnya hanya sekitar 180 kaki atau 54,88 meter, dengan tinggi 16 meter. Namun kuil ini ramai dikunjungi umat Buddha yang berdoa dan tentunya wisatawan asing.

Setelah kami melihat potongan-potongan gambar yang ada di dinding dekat patung tersebut, ternyata kuil ini memiliki kisah mengenai penyebaran agama Buddha di Kota Bago. Beruntung di bawah gambar-gambar tersebut selain tertulis Bahasa Myanmar, juga terdapat terjemahan dalam Bahasa Inggris sehingga kami bisa memahami jalan cerita kisah tersebut.

Lukisan 1:


Kisah ini bermula ketika raja Migadekpa dari Kerajaan Hanthawaddy yang berkuasa memerintahkan putranya pergi berburu ke hutan, untuk mendapatkan hewan buruan yang akan dikorbankan sebagai persembahan bagi dewa-dewa yang disembah raja dan rakyatnya.

Lukisan 2:

Pangeran dengan diiringi para pengawal berangkat berburu ke hutan.

Lukisan 3:


Dalam perjalanan memasuki hutan rombongan sampai di sebuah desa kecil dekat Suvannabhumi, disana pangeran beremu seorang gadis suku Mon bernama Dalahtaw yang merupakan pengikut Budha dan sang pangeran pun jatuh cinta kepadanya.

Lukisan 4:

Pangeran menikahi Dalahtaw dan menjanjikan dalahtaw bebas menjalankan ajaran Buddha dan membawa Dalahtaw ke istana kerajaan Hanthawaddy.

Lukisan 5:

Di dalam istana Dalahtaw tidak mau menyembah dewan-dewa sembahan raja dan rakyat kerajaan, namun justru menyembah Sang Buddha di dalam ruangannya sendiri.

Lukisan 6:

Atas desakan para pejabat istana kepada raja, akibat tindakan Dalahtaw yang dianggap menghina dewa-dewa sembahan mereka karena tidak menyembah dewa-dewa namun justru menyembah Sang Buddha, akhirnya Raja Migadeikpa menjatuhkan hukuman agar Dalahtaw bersama orang-orang yang mengikutinya dibunuh dan dikorbankan kepada dewa-dewa.

Lukisan 7:

Di depan patung dewa yang disembah raja dan rakyat Hanthawaddy sebelum eksekusi dilaksanakan, Dalahtaw berdoa kepada sang Budha didepan 3 buah permata dari Buddhisme yaitu Buddha, ajaran Buddha dan masyarakat Buddha dan bersumpah yang menyebabkan patung dewa tersebut hancur berkeping-keping.

Lukisan 8:

Melihat kejadian itu raja Migadeikpa diliputi perasaan takut dan menyesal atas apa yang dilakukan, akhirnya beliau membebaskan putra dan menantunya serta memerintahkan agar patung Buddha dibangun dan disembah rakyat menggantikan patung-patung dewa sebelumnya.

Lukisan 9:

Akhirnya seluruh rakyat kerajaan Hanthawaddy melepaskan agama lama mereka dan menjadi pengikut Buddha serta membangun sebuah patung Buddha yang berukuran sangat besar.

Lukisan 10:

Raja Migadeikpa yang kini sudah menjadi pengikut ajaran Buddha menyelesaikan pembangunan patung Buddha di tahun 994 M yang kini dikenal sebagai Shwe Tha Lyaung Budha.

Tahun pun berlalu dengan cepat dan raja-raja serta dinasti-dinasti silih berganti hingga patung Buddha ini pun terlupakan. Akhirnya 500 tahun lebih kemudian, di abad 15 Masehi Raja Dhammazedi merenovasi patung ini.

Namun di tahun 1757 akibat pemberontakan bangsa Mon kepada Bangsa Burma, Kota Bago dihancurkan dan patung Buddha ini pun kembali terlupakan dan tersembunyi di balik lebatnya pepohonan. Hingga akhirnya ditemukan Bangsa Inggris ketika sedang membangun jalan kereta api yang menghubungkan kota Bago dengan Yangoon.

Akhirnya patung ini dikembalikan ke tempat asalnya dan untuk melindunginya dari hujan dibangunlah pavilion besi (tazaung) di atas patung. Seiring waktu, bangunan lainnya pun ditambahkan di komplek kuil ini.

Waktu buka : setiap hari termasuk hari libur nasional mulai dari jam 6 pagi-8 malam

Tiket masuk bisa menggunakan Bago archeological Zone senilai USD 10 dimana pengunjung bisa mengunjungi tempat bersejarah lainnya di Kota Bago.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA