Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 12 Sep 2019 13:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sawahlunto, Kota Tambang yang Jadi Situs UNESCO

Rohmatulloh
d'travelers
Foto 1 dari 5
Buku Jejak de Greve (koleksi pribadi)
Buku Jejak de Greve (koleksi pribadi)
detikTravel Community - Nama Sawahlunto di Sumatera Barat kian mendunia pasca mendapat status UNESCO. Yuk, kita kenal sejarah kota ini lebih jauh.

Kolom travel detik.com (26/06/2019) mengulas tentang Sawahlunto yang menjadi nominasi situs warisan dunia UNESCO pada 2019. Tema yang diusulkannya adalah Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (www.worldheritagesite.org). Barangkali belum banyak orang yang mengetahui tentang kota Sawahlunto yang dijuluki sebagai 'The Little Dutch' oleh Pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu.

Saya sendiri beberapa kali menginjakan kaki ke kota kecil ini pada periode 2014-2016 dalam rangka perjalanan dinas ke unit kerja Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (BDTBT). Melalui perjalanan sepanjang 115 Km atau durasi waktu sekitar tiga jam berdasarkan Google Map dan pengalaman perjalanan malam hari dari Bandara Internasional Minangkabau melewati jalan perbukitan dan perhutanan sampailah pada sebuah kota yang begitu menarik perhatian.

Pertama kali melihat kota ini, tentu banyak orang akan berkesimpulan bahwa sebenarnya ini Eropa atau Indonesia karena melihat banyak gedung-gedung khas Eropa yang salinan atau photo copy-an asli dari Eropa. Bagi yang belum pernah ke sana tentu saja ingin sekali untuk berkunjung ke Sawahlunto.

Namun bagi yang belum ada kesempatan berkunjung ke kota Sawahlunto, saya mengajak pembaca untuk menelusuri 'The Little Dutch' dari sebuah buku yang saya dapatkan atau beli dari Museum Goedang Ransoem yang dikelola oleh Pemeritah Kota Sawahlunto berjudul Jejak De Greve dalam Kenangan Swahlunto. 

Buku kecil ini mewakili episode sejarah, yakni awal ditemukannya sumber energi batubara sampai dibangunnya kota tambang Swahlunto. Sebenarnya ada lagi satu buku yang saya dapatkan tentang episode semangat kemerdekaan dari tambang panas sunga durian berjudul 'Pekik Merdeka dari Sel Penjara dan Tambang Panas' yang akan dibahas pada tulisan berikutnya.

Buku berjudul 'Jejak De Greve dalam Kenangan Swahlunto' tulisan Yonni Saputra pada intinya menceritakan kontribusi seorang insinyur atau ahli geologi pertambangan lulusan dari Akademi Delft bernama De Grave. Siapa sangka berkat jasanya maka Sawahlunto ada dan menjadi kota modern pada saat itu hingga sekarang yang masih bisa dirasakan peninggalannya.

Lantas apa sebenarnya jasa De Grave yang monumental tersebut? Berdasarkan pembahasan secara kronologis dalam buku tersebut, ternyata sumbernya adalah karena sebuah karya ilmiah yang dipublikasikan bersama koleganya W.A. Henny pada 1871 dengan judul 'Het Ombilien-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het Transportstelsel op Sumatras Weskust' (Tambang Batubara Ombilin di Dataran Tinggi Padang dan Sistem Transportasi di Sumatra Barat).

De Grave dengan nama lengkapnya adalah Willem Hendrik de Greve lahir di Franeker, 15 April 1840. Sejak kelahirannya sampai dengan 1859 berhasil menyelesaikan pendidikannya sebagai Insinyur Geologi. Periode 1861-1871 ditugaskan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda untuk mengikuti pelatihan dan memulai debut penelitiaanya dengan dikiri ke daerah koloni Hidia Belanda di seluruh dunia termasuk Indonesia di Sungai Ombilin dan Sawahlunto.

Karirnya yang begitu cemerlang dengan cepat naik pangkat menjadi Insinyur tingkat utama walaupun ditolaknya. de Greve harus terhenti karirnya dalam usia yang masih cukup muda pada 1872 di Sijunjung kaena kecelakaan di Sungai Kuantan. Hasi penelitiannya sendiri yang begitu monumental dan dipublikasikan merupakan penelitian lanjutan dari yang telah dilakukannya oleh pendahulunya.

Pasca publikasi tersebut, di negeri Belanda banyak didiskusikan agar pemerintah Kerajaan Belanda mengambil keputusan untuk segera membuka dan mengeksploitasi batu bara di Swahlunto. Sejak itu persiapan dengan sumber daya yang besar dikerahkan untuk membangun infrastruktur pada proyek terintegrasi tersebut pada periode 1891-1894.

Pembangunan inftarsrutur jalan, rel kereta api, dan pelabuhan agar dapat mengangkut batu bara dari Sawahlunto menuju Padang menggunakan kereta api, dan dibawa ke Batavia dan diekspor ke Belanda untuk mendukung perkembangan revolusi Industri yang sedang berlangsung di Eropa sejak pertengahan abad XVIII menggunakan kapal melalui pelabuhan laut.

Tentu saja pembangunaanya tidak berhenti di situ saja, perlu dilakukan pembangunan sarana dan prasarana perumahan untuk pegawai dan buruh, dapur umum, tempat ibadah, kantor, dan gedung-gedung hiburan, serta pembagkit listrik tenaga uap. Dengan cepatnya pembangunan ini maka Sawahlunto menjadi salinan (photo copy) negeri kincir angin agar orang Belanda yang bekerja di sana tidak jenuh karena merasa seperti di kampung halamannya sendiri.

Kota modern Sawahlunto disebut juga dengan 'The Little Dutch' dan terkenal ke seluruh penjuru dunia sebagai salah satu pendorong bagi kemajuan revolusi industri di Eropa melalui pasokan batu baranya. Kini gedung-gedung rumah sakit, kantor pertambangan yang menajdi kator PT. BA, rumah ibadah gereja, hotel, gedung pertemuan (societeit) sekarang menjadi gedung pusat kebudayaan, dapur umum sekarang menjadi museum Goedang Ransoem, stasiun kereta api, gedung PLTU sekarang menjadi masjid Nurul Iman, dan sarana tambang bawah tanah masih ada hingga saat ini. 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA