Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 06 Sep 2019 12:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Salat Jumat Syahdu di Jerman

Venny Elsya Braun
d'travelers
Foto 2 dari 5
Interior lantai dasar
Interior lantai dasar
detikTravel Community - Siapa bilang di Jerman tidak bisa menunaikan Salat Jumat? Jumatan di Jerman bahkan suasananya lebih syahdu dan khidmat. Contohnya ada di Masjid Central Cologne.

Willkommen in Deutschland!
Selamat Datang di Jerman!

Ein Kaffee und Pretzel, bitte!

Selamat menikmati hamparan pesona alam yang menjinakkan mata, mendinginkan hati, menyejukan kalbu dan menyenangkan rasa dimulai dari deretan pegunungan, liarnya hutan, beningnya danau, riak serunai aliran sungai, dan suhu yang tepat untuk sekedar memulai hari dengan secangkir kopi hitam dan sebuah pretzel asin yang baru saja diangkat dari oven Bckerei sebelah. Hmm, aromanya menyenangkan perut.

Bckerei/toko bakeri ini milik orang Jerman, namun semua pekerjanya imigran dari Turki. Dari beberapa dekade lalu, kota Cologne yang terletak di bagian Jerman Barat merupakan cultural hub, kota penghubung budaya yang beraneka.

Ada yang dari negara tetangga seperti Belanda, Austria dan Prancis, dan sebagian lainnya berasal dari bauran budaya para imigran, mulai dari Kenya, Ghana dan sebagian besar dari imigran Turki.

Para imigran Turki tumbuh pesat dan besar di Cologne, pada awalnya mereka datang ke Cologne sebagai pekerja lepas yang datang dan menginap pada weekdays/hari kerja dan pulang kembali pada setiap akhir pekan/weekend, dengan populasi mereka yang meningkat disertai dengan tingkat pendidikan mereka yang mulai mendominasi wajah perguruan tinggi di Jerman, khususnya di Cologne membuat komunitas imigran Turki bukan hanya sebagai pekerja lepas atau pekerja kasar saja. Mereka tumbuh besar dan kuat di negara federal ini.

Meskipun mereka sudah menetap puluhan tahun di Cologne dan sebagian telah menjalani Neutralisation, pindah kewarganegaraan, namun akar mereka tetap kokoh, tidak bagaikan kacang lupa akan kulitnya, para imigran Turki ini membentuk organisasi yang melindungi para imigran dan upaya dalam pemenuhan hak-haknya termasuk hak menjalankan ibadah agama.

Nah, beberapa mushalla dan masjid dibangun dibeberapa tempat di kota Cologne, umumnya tidak berukuran besar dan bukan dijalan utama, namun sejak kisaran tahun 2015 lalu para Muslim di Cologne dibawah naungan organisasi Islam Turki menggalang dana untuk mendirikan Masjid berukuran besar yang bisa memuat banyak orang. Dilengkapi dengan pustaka pusat Kajian Islam dan juga terbuka buat umum untuk sekedar berkunjung dan menikmati megahnya arsitektur dan indahnya porcelein atap yang mengukir lembutnya kaligrafi Asmaul Husna.

Berlokasi dijalan utama Verlour Strasse, Masjid Central Cologne ini sangat mudah diakses. Hanya 11 menit berkendara dengan tram dari pusat perbelanjaan terkini Neumarkt, sekitar 15 menit berjalan kaki atau 5 menit menaiki taxi dari Cologne Dom/Cathedral.

Masjid dua lantai ini dilengkapi dengan sistem penyimpanan sepatu yang canggih, seperti sistem parkir mobil di mall terkemuka di Ibukota Jakarta. Tempat sholat pria dan wanita juga terpisah, wanita berada dilantai dua begitu juga tempat berwudhu, tempat peminjaman mukenah, serta tempat menyimpan jaket.

Maklum saja, jika winter/musim dingin suhu bisa berada di kisaran 5-0 derajat Celcius, jaket yang digunakanpun bisa berlapis lima. Pada lobby utama lantai dasar ada pintu penjagaan yang lumayan ketat, ada dua orang berseragam dilengkapi dengan senjata laras panjang.

Eitsss...jangan takut, mereka semuanya ramah asalkan kita memang bertujuan untuk ibadah. Dan juga diperbolehkan untuk mengambil gambar atau foto sejauh tidak berisik dan tidak pada saat sedang sholat berjamaah.

Ternyata indah sekali bisa menunaikan sholat di bawah naungan megahnya Masjid Central Cologne sembari berada di tengah akrabnya keberagaman warga Turki.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA