Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 08 Agu 2019 13:15 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pesona Pulau Bacan di Timur Indonesia

kharirotul suhaila
d'travelers
Foto 1 dari 5
Momen saat kepulangan, warga mengantar hingga pelabuhan
Momen saat kepulangan, warga mengantar hingga pelabuhan
detikTravel Community - Bertualang ke Pulau Bacan di Halmahera Selatan akan menjadi pengalaman luar biasa. Alamnya indah, masyarakatnya ramah.

Pengalaman live in selama 50 hari di salah satu Pulau terpencil di Timur Indonesia selalu membekas di dalam ingatan. Tepatnya di Desa Tanjung Obit terletak di Pulau Bacan, sebuah Pulau di Halmahera Selatan, Maluku Utara. Jika dilihat di peta, Maluku Utara terletak hampir di ujung paling timur Indonesia. Perjalanan panjang nan melelahkan untuk menuju ke lokasi terbayarkan dengan pemandangan syahdu yang memanjakan mata. Bukan hanya itu, antusias warga menyambut saya sebagai warga baru selama 50 hari menjadi bagian dari mereka sungguh luar biasa.

Live in di Pulau dan tinggal bersama warga lokal membuat saya belajar memahami mereka mulai dari bahasa daerah, adat istiadat, makanan dan cara hidup. Wah, ternyata meskipun masih satu negara rasanya sungguh berbeda dengan hidup di Jawa. Well, it was so different. Hidup di Pulau kecil yang jauh dari kota membuat mereka tangguh dan mandiri. Jauh dari hiruk pikuk kota dan kemudahan fasilitas bukan berarti menjadi alasan untuk hidup susah. Malah, mereka sangat dermawan dan loyal dalam menjalani hidup.

Warga sekitar mayoritas adalah Suku Makeyang yang masih melestarikan budayanya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka memanfaatkan kekayaan alam di sekitar yang masih lestari. Hasil kebun seperti kelapa, kopra, cengkeh dan pala berlimpah di sekitar Pulau. Hasil laut seperti ikan, alga, akar bahar dan mangrove pun mudah ditemukan. Maklum, karena di daerah kepulauan maka ombak cenderung tenang.

Selain kekayaan alamnya yang melimpah, Pulau Bacan juga sangat menawan. Dari tepi pantai saya bisa melihat tapal batas horizon yang langsung menyatu dengan langit berlatar gugusan pulau-pulau kecil. Suasana pagi hari disini sangat pas untuk menikmati sunrise. Indah menyaksikan Matahari bergelayut mulai nampak dari ujung barat disambut dengan kicauan burung beradu dengan ayunan ombak yang ringan. Jika sedang beruntung, biasanya saya dapat melihat rombongan ikan membentuk formasi dan berenang cepat di sela-sela terumbu karang. Pulau ini juga punya wajah tersendiri sepanjang sore menjelang senja. Ketika langit sedang cerah kilatan sinar akan memantulkan warna coklat keemasan ke permukaan air membuat keindahan laut didalamnya sangat jelas seakan memanggil-manggil untuk berenang. Biasanya, tanpa pikir panjang saya pun langsung terjun berenang bersama anak-anak Pulau sepanjang sore. Lanjut malam, bakar-bakar ikan hasil pancingan sendiri sambil memandangi gemerlap bintang di atas langit Bacan. Setiap kali terfikir ulang mengenai perjalanan itu, banyak perasaan-perasaan yang meluap. Perasaan syukur misalnya.

Tak pernah saya bayangkan sebelumnya akan pergi jauh ke pelosok negeri, berada di dalam keadaan semua fasilitas serba terbatas. Jika pada umumnya listrik bisa dinikmati 24 jam, di sana hanya 5 jam mulai pukul 18.30-23.30 WIT. Tak pernah saya bayangkan, hidup di desa kecil yang hanya selebar dua km berisi sekitar 60 rumah, selanjutnya hanya berupa hutan di sisi kanan-kiri-belakang dan hamparan laut luas di sisi depan. Jauh dari peradaban kota. Intinya bukan hanya mendapatkan kepuasan mata, melalui perjalanan ini saya mendapatkan pelajaran hidup berharga.

Pulau Bacan mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang ambisi dan pencapaian tetapi tentang kesederhanaan, kebersamaan dan berdampingan dengan alam. Istimewanya, Bacan memberikan saya keluarga baru. Setahun setelah kembali ke Jawa (saat ini), Bacan tetap menjadi saudara. Beberapa kali melakukan travelling di pelosok negeri dan diluar negeri membuat saya semakin terpacu untuk menjelajah. Setiap perjalanan tentu saja memiliki cerita menariknya tersendiri.

Setelah beberapa waktu lalu mengunjungi negara Turki, kini Dubai menjadi salah satu bucket list saya selanjutnya. Dubai memiliki dinamika peradaban yang menarik selama 50 tahun terakhir. Negara tersebut berhasil bertransformasi dengan cepat dari negara miskin menjadi salah satu negara kaya di dunia. Selain dorongan untuk menikmati berbagai wahana dan tempat wisata yang mengagumkan, saya tertarik untuk mengetahui budaya dan peradaban Dubai. Tak hanya itu, selama di Dubai tentunya saya ingin berbagi pengalaman dan informasi kepada banyak orang melalui media sosial.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA