Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 01 Agu 2019 11:53 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Traveling Saat Musim Panas di Turki

Eni Rohmawati
d'travelers
Foto 1 dari 5
Santai di Hagia Sofia
Santai di Hagia Sofia
detikTravel Community - Menikmati musim panas di Turki menjadi salah satu pengalaman yang harus dicoba. Begini pengalaman saya ketika berkunjung ke sana.

Turki sebenarnya tidak masuk dalam top three bucket list untuk saya kunjungi, namun saya pernah bergumam jika ada promo tiket ke turki yang waktunya sesuai akan saya ambil. Dan benar saja, berbekal tiket Rp 5,2 juta PP Oman Air dengan rute Jakarta-Muscat-Istanbul-Muscat-Jakarta maka berangkatlah saya dengan seorang teman saya untuk 10 hari menikmati libur musim panas di Turki.

Rute perjalanan saya di turki adalah Istanbul-Goreme (Cappadocia)-Konya-Izmir-Istanbul. Namun pada tulisan kali pertama ini saya akan bercerita tentang Istanbul, selanjutnya akan saya ceritakan kota-kota lain yang saya kunjungi. Minggu pagi pukul 5 waktu setempat kami mendarat di bandara Istanbul baru. Setelah melalui proses imigrasi yang memakan waktu tidak lebih dari 2 menit saya sudah bisa masuk Kota Istanbul. Hanya perlu menunjukkan paspor dan visa A1 yang sudah saya ajukan sebelumnya melalui online dengan biaya $26.

Kami bergegas ke lantai dasar untuk menaiki bus Havasit menuju Taksim square. Kami membeli satu Istanbulkart yang bisa digunakan berdua seharga TL 20 dan mengisi TL 100 untuk kami gunakan sebagai pembayaran transportasi publik di Istanbul. Selama tiga pertama kami tinggal di sebuah apartemen yang kami sewa melalui Airbnb di daerah Beyoglu seharga $21 per malam. Lokasinya sangat strategis hanya perlu berjalan kaki untuk mencapai Taksim square. Pertimbangan kami apalagi kalau bukan untuk menghemat. Bebekal kopi, mie instan, saos sambal, kecap dan sambal trasi olahan mbak di kantor kami sudah bisa menghemat sarapan. Makan siang dan malam barulah kami menikmati makanan lokal.

Sebelum pergi kami mencari informasi mengenai apa yang harus dikunjungi, makanan apa yang harus dicoba, rute transportasi publiknya serta jadwal buka museum dan pasar. Karena kami tiba di hari Minggu dimana Grand Bazaar tutup, maka hari pertama kami habiskan dengan mengunjungi museum di area Sultanahmet. Suhu 34 Celcius tidak menghalangi kami untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lain.Di kawasan Sultanahmet terdapat beberapa tujuan wisata yang letaknya sangat berdekatan. Kami mengunjungu Masjid Sultanahmet atau yang terkenal dengan sebutan Blue Mosque dikarenakan ornamennya yang serba berwarna biru. Masjid masih dalam tahap renovasi sejak dua tahun lalu, salah satu menaranya bahkan ditopang besi besi, namun itu tidak menyurutkan para wisatawan yang datang dari berbagai mancanegara untuk mengunjunginya.

Untuk pengunjung wanita yang tidak memakai hijab atau penutup kepala atau bahkan berpakaian pendek, pihak masjid telah menyediakan kain dan selendang berwarna biru untuk dipinjam dengan gratis. Sebelum memasuki masjid kita akan disediakan kantong plastik untuk menyimpan sepatu, hal ini karena masjid ini masih berfungsi sebagai tempat beribadah sehingga pengunjung diharuskan masuk tanpa alas kaki.

Dari masjid sultanahmet kami menuju museum Hagia Sofia atau Ayasofia yang terletak persis berhadapan dnegan masjid. Untuk masuk ke museum ini kami membeli tiket terusan seharga TL 135 yang bisa digunakan untuk memasuki Hagia Sofia, Istana Topkapi dan museum arkeologi. Kami mengantre selama kurang lebih 30 menit karena ramainya wisatawan yang datang, hal ini dikarenakan masih dalam libur musim panas bagi anak-anak sekolah. Museum Hagia Sofia ini dulunya merupakan masjid dan gereja yang dibangun sejak masa kaisar Constatinus II tahun 306 lalu berubah menjadi masjid setelah Sultan Mehmet menaklukan Konstantinopel. Di dalam Hagia Sofia sendiri masih terdapat lukisan bunda maria dan putranya yang kemudian diapit dengan kaligrafi lafaz Allah dan Muhammad. Selain ada juga kaligrafi nama nama Khulafurrasyidin (4 sahabat Nabi) serta cucu Nabi Hasan dan Husain.

Setelah dari Hagia Sofia kami menuju Topkapi Palace sebuah museum yang menyimpang benda bersejarah umat islam, di antaranya pedang Nabi Muhammad, pedang para 4 khalifah, pedang sahabat Khalid bin Walid, gamis (pakaian) Fatimah Zahra putri Nabi dan masih banyak lag yang disimpan di ruang khusus bernama Privy chamber. Di ruangan ini pengunjung tidak diperkenankan untuk memotret ataupun merekam video.

Hari mulai sore kami berjalan menyusuri wilayah Eminou untuk ikut dalam Bhosporus tour. Kami menggunakan Istanbulkart untuk membayar tour ini. Setelah selesai tour, kami menghabiskan sore di dermaga dan menikmati Balik Ekmek yaitu sandwich yang diisi dengan ikan segar tomat dan selada seharga TL 15 rasanya nikmat sekali ditambah pemandangan abang abang brewokan berhidung macung yang lalu lalang.

Hari kedua kami habiskan dengan menyusuri pasar tradisonal yang sangat terkenal yaitu Grand Bazaar, di grand bazaar kita bisa menemukan aneka oleh oleh khas Turki seperti suvenir, makanan dan pakaian. Namun menurut kami harganya termasuk mahal. Kami menyusuri lorong-lorong yang tembus ke spice bazaar (Egypt Bazaar) di sini harga relatif lebih murah dibanding Grand bazaar untuk bumbu-bumbu, teh dan manisan khas turki. Setelah puas mengeksplor pasar kami menikmati turkish delight yang sangat terkenal di restoran Hafiz Mustafa. Kami memesan Baklava, Kunafe, Sutlac (rice pudding) dan tentu saja turkish coffee dan tea. Rasa hidangan yang sangat manis memang pas disajikan dengan teh Turki yang pahit. Setelah kenyang kami berjalan menuju Galata Tower lalu dilanjutkan ke Istiklal Street, sebuah jalan sepanjang 3 km yang dipenuhi pertokoan modern juga restauran di kanan dan kirinya, satu yang khas dari Istiklal Street adalah tram berwarna merah yang masih beroprasi di tengah padatnya jalanan. Tak terasa kami berjalan sampai sore hari itu. Malam harinya kami habiskan di daerah Besiktas untuk menikmati seafood yang terkenal Derya Balik.

Hari ketiga di Istanbul sebelum kami terbang ke Kayseri, kami gunakan untuk mengunjungi Istana Dolmabahce. Dengan tiket seharga TL 90 kita bisa melihat istana peninggalan masa kejaayan sultan-sultan dari Kekaisaran Turki Usmani. Terdapat beberapa bangunan di komplek istana antara lain bangunan Hareem yaitu tempat tingal istri-istri sultan dan bangunan utama (tempat tinggal dan kerja) Sultan. Setiap detil desain bangunannya membuat saya takjub namun sayang kita tidak diperkenankan memotret ataupun merekam gambar di dalam istana. Selepas menikmati kemegahan istana kami singgah menuju Stadum Besiktas, markas tim sepakbola Besiktas sebelum menuju ke Bandara Sabiha Gokcen yang terletak di sisi Istanbul bagian Asia.

Istanbul adalah peninggalan sejarah penuh dengan kenangan dan kemegahan masa lalu. Saya membayangkan bisa menikmati kemegahan masa kini di kota modern Dubai. Kota yang terkenal dengan kemegahan arsitekturnya. Gedung gedung pencakar langitnya, taman bunga yang luas, Palm jumeirah yang mewah. Ingin sekali bisa menghabiskan satidaknya satu kali dalam hidup untuk menikmati kemegahan Dubai dari Burj Khalifa. Cukup menikmati dari jendela lantai tertingginya tanpa harus bergelantungan menggunakan sarung tangan seperti agent Ethan Hunt di Mission impossible. Saya selalu berkeyakinan bahwa apa yang pernah terlontar dalam pikran hati dan perbuatan pasti akan ada jalan untuk diwujudkan, Seperti halnya perjalanan saya ke Turki, maka selanjutnya mimpi saya adalah Dubai.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA