Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 03 Feb 2020 10:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Garut Juga Punya Candi Loh

Brigida Emi Lilia
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pintu masuk candi sebelum menaiki rakit.
Pintu masuk candi sebelum menaiki rakit.
detikTravel Community - Garut adalah sebuah Kabupaten di Jawa Barat dengan sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan. Yang menarik, di Garut juga ada Candi Cangkuang.

Candi Cangkuang tidaklah sebesar candi-candi yang ada di Jawa Tengah. Candi ini terdiri dari satu bangunan utama dengan tinggi sekitar 2,5 m. Candi yang nampak sekarang merupakan hasil rekayasa konstruksi, karena bangunan aslinya hanya tersisa sekitar 40% sehingga bangunan asli yang sebenarnya belum diketahui.

Cangkuang sendiri adalah nama sebuah tanaman sejenis pandan (pandanus furcatus) yang memiliki banyak manfaat seperti daunnya urtuk membuat tikar, pembungkus gula aren dan ketupat , daun puncak sebagai obat pencahar , tunas untuk oat batuk dan masih banyak lagi.

Ada yang unik saat kita berkunjung ke candi ini, jika ke candi-candi lain umumnya kita hanya berjalan kaki, maka di candi ini kita harus naik rakit bambu untuk menuju ke candi. Ya, Candi Cangkuang terletak di tengah daratan kecil di tengah danau dan rakit yang bisa memuat 10-15 orang digerakkan secara manual dengan tenaga manusia menggunakan sebilah bambu .

Sesampainya di seberang, pengunjung harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak melewati warung-warung yang menjual aneka kerajinan khas seperti miniatur candi, miniatur rakit, topi, tas dan lain sebagainya. Di salah satu bagian nampak papan pengumuman yang berisi larangan adat masyarakat kampung pulo yang berisi antara lain tidak boleh berziarah pada hari Rabu, tidak boleh memukul atau menabuh gong besar dari perunggu, tidak boleh membuat rumah beratap jure/prisma, tidak boleh menambah, mengurangi bangunan pokok dan kepala keluarga dan tidak boleh memelihara ternak besar berkaki empat.

Setelah melewati warung cinderamata dan makanan, pengunjung akan memasuki kampung pulo yang ditandai dengan gapura berukuran besar. Di sana akan dijumpai beberapa rumah adat asli kampung pulo berupa rumah panggung berdinding kayu dan anyaman bambu. Rumah-rumah itu masih dihuni oleh masyarakat Kampung Pulo. Di bagian tengah terdapat tanah lapang yang dihias payung aneka warna, sehingga banyak pengunjung yang berfoto di sini dan juga di rumah adat.

Perjalanan dilanjutkan menuju candi yang siang itu cukup ramai. Dari rumah adat jalan agak menanjak melalui tangga berbatu yang juga dipercantik dengan hiasan payung warna-warni. Pepohonan besar juga terdapat di sekitar candi sehingga suasana cukup sejuk.

Di dekat candi terdapat makam leluhur kampung Pulo yaitu Lembah Dalem Arief Muhammad. Selain candi, di sini juga terdapat museum situs yang menyimpan foto-foto dan kisah tentang candi. Seorang petugas yang ada di museum ini akan menjelaskan dan menjawab pertanyaan pengunjung dengan sabar. Ada banyak kisah menarik di candi ini. Candinya memang kecil, tetapi menyimpan kisah yang besar.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA