Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 03 Apr 2020 11:33 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Eksotisme Budaya Suku Dayak Kenyah yang Masih Asli

Tedi Permana
d'travelers
Foto 1 dari 4
Lelaki dayak memainkan sape
Lelaki dayak memainkan sape
detikTravel Community -

Singgah di Samarinda, traveler bisa menyaksikan betapa luhurnya kebudayaan Suku Dayak Kenyah yang masih asli. Inilah budaya nusantara yang harus dijaga!

Pesona budaya merupakan opsi alternatif untuk menentukan ke mana tempat liburan akan dituju. Desa budaya Pampang adalah salah satu opsi itu. Untuk menuju desa budaya Pampang, travelers dapat menggunakan mobil atau motor, karena tidak ada angkutan umum yang menuju ke sana.

Letaknya tidak terlalu sulit diakses. Untuk travelers dari arah Samarinda dapat berbelok ke kiri jalan poros sebelum bandara APT Pranoto. Bagi travelers dari arah Bontang dapat berbelok ke kanan jalan poros setelah bandara APT Pranoto.

Desa Pampang, diresmikan sebagai desa budaya dengan tujuan untuk melestarikan kebiasaan adat serta budaya Suku Dayak Kenyah yang ada Samarinda setelah budaya berpindah ladang yang mereka mulai sejak dari Apokayan Kabupaten Malinau terhenti di desa Pampang.

Di desa Pampang terdapat sebuah balai berbetuk rumah panggung yang disebut lamin pemung tawai. Hampir semua dinding lamin diukir motif khas Dayak dengan kombinasi warna hitam, kuning dan putih. Di pawai inilah seni tari diadakan setiap hari minggu.

Untuk menyaksikan pertunjukan seni tari di lamin pemung tawai, travelers akan dikenakan biaya Rp 20.000 per orang. Traveler bebas memilih kursi dengan spot terbaik untuk menikmati seni pertujukkan yang dimulai sekitar pukul 14:00 WITA.

Menjelang pertunjukan dimulai, denting suara alat musik sape seolah membuat jiwa travelers hadir di tengah kehidupan suku Dayak. Di lamin ini, travelers akan disuguhkan sekitar 10 kanjet atau tarian suku Dayak Kenyah secara berurutan.

Sebelum sebuah tarian dimulai, travelers akan terlebih dahulu mendapat penjelasan dari pembawa acara mengenai makna atau filosofi dari tarian yang akan dipertontonkan.

Tarian yang pertunjukan pertama adalah kanjet leman delasan atau tarian membersihkan halaman yang dibawakan oleh Sesepuh suku Dayak Kenyah. Dengan pedang panjang di tangan kanan dan tameng berukir khas Suku Dayak di tangan kiri. Seorang Kakek menari ke sana ke mari dengan penuh penghayatan seiring denting dawai sape yang terdengar begitu magis.

Setelah kanjet leman delasan, maka berbagai tarian dipertontonkan secara beruntun baik yang dibawakan oleh anak  anak, remaja, para ibu hingga kaum sesepuh. Nampaknya syarat untuk menjadi warga desa Pampang adalah harus bisa menari ya travelers?

Mungkin inilah cara untuk melakukan regenerasi dan pewarisan budaya yang ada di desa Pampang agar budaya Dayak Kenyah tetap lestari. Salut!

Selain menampilkan kanjet yang menggambarkan keindahan dan kegembiraan. traveler akan disuguhkan Kanjet hudog yaitu tarian topeng yang menggambarkan penggunaan kekuatan supranatural untuk mengusir kekuatan jahat yang ada dalam kehidupan Suku Dayak.

Selain kanjet yang dibawakan secara perorangan, duet dan kelompok. Terdapat kanjet yang memperbolehkan travelers yang berkunjung untuk berpartisipasi dalam kanjet tersebut.

Kanjet anyam tali yaitu tarian menggambarkan keragaman suku bangsa, bahasa dan agama yang tersatukan oleh sikap saling menghormati dan bersahabat yang disimbolkan oleh aneka tali berwarna-warni. Di atas simpul tali berwarna warni tersebut terdapat patung burung enggang yang menyimbolkan seorang Pemimpin yang dapat menganyomi perbedaan  perbedaan yang ada.

Selain kanjet anyam tali, travelers juga diajak berinteraksi dalam kanjet Pampaga di sini penari memainkan bilah kayu bulat yang menimbulkan suara berirama, sedangkan penari yang lain menari di atas bilah kayu tersebut.

Semakin lama irama dan gerak kayu semakin cepat sehingga membuat para penari juga harus mempercepat langkahnya di atas kayu agar kaki tidak terjepit. Bagi travelers yang suka tantangan, maka disarankan untuk ikut tarian ini. Sakit ! tapi mengasYikkan.

Sesi terakhir yang patut travelers nantikan adalah berfoto bersama Sesepuh suku Dayak berdaun telinga panjang! Dalam budaya Dayak tradisi memanjangkan telinga disebut telingaan aruu.

Tradisi memanjangkan telinga ini dilakukan secara turun-temurun oleh suku Dayak Kenyah yang dimulai saat masih bayi. Pemanjangan daun telinga ini biasanya menggunakan pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang dari tembaga yang terus ditambahkan satu persatu ke daun telinga sehingga semakin lama lubang tindik semakin memanjang.

Adapun filosofi dari tradisi telingaan aruu ini adalah untuk melatih kesabaran melalui beban yang menempel di telinga. Dengan adanya beban di telinga, maka rasa sabar dan daya tahan atas penderitaan yang dirasakan pun semakin terlatih. Konon pada zaman dahulu, diyakini bahwa semakin panjang telinga seorang wanita, maka semakin cantik pula wanita tersebut.

Kanjet terakhir yang ditampilkan adalah kanjet leleng. ini adalah tarian selamat berpisah yang ditarikan oleh semua penari yang telah tampil dengan mengajak seluruh travelers yang hadir ikut menari untuk terakhir kalinya.

Setelah menyaksikan rangkaian acara pertunjukan, travelers dapat membeli beragam aksesoris khas Dayak seperti kalung, gelang dan tas yang terbuat dari manik  manik dan berbagai jenis cinderamata lainnya yang menarik untuk travelers miliki sebagai tanda bukti telah berkunjung ke desa Pampang.

Bagaimana, traveler? Kepingin juga menyaksikan kehidupan suku Dayak secara langsung?

BERITA TERKAIT
BACA JUGA