Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 07 Agu 2019 20:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

7 Keajaiban Alam di Geopark Ciletuh

Yulia Rahmawati
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pantai Palangpang difoto dari Puncak Darma
Pantai Palangpang difoto dari Puncak Darma
detikTravel Community - Berkunjung ke Ciletuh, Sukabumi ada sensasi menikmati 7 keindahan alam secara bersamaan. Keragaman geologi, hayati dan budaya setempat, mempesona wisatawan.

Indah. Sungguh tidak bisa diucapkan dengan kata-kata ketika melihat air terjun dengan fenomena alam di sekitarnya. Saya melihatnya bak lukisan yang menjelma menjadi pandangan mata yang nyata.

Pantaslah ada yang bilang amphiteater, karena saya melihat keindahan Geopark Ciletuh sebagai keajaiban yang nyata dari alam. Alhamdulillah, saya pernah ke sana dan menikmati keindahannya, saya tidak menyangka akan seindah ini. Bermula karena ketertarikan pada sejarah, saya tertarik pada usia bumi beserta kontur daerah tersebut.

Berteman di media sosial dengan para ahli geologi, maka saya pun mendapat pengetahuan tentang Ciletuh. Disebutkan bahwa Ciletuh itu geopark dari palung terdalam laut. Kawasan Ciletuh memiliki keragaman geologi yang unik dan umurnya paling tua di Jawa Barat.

Kawasan ini merupakan hasil dari tumbukan dua lempeng yang berbeda, yaitu lempeng eurasia (lempeng benua) yang berkomposisi granit (asam), dan lempeng Indo-Australia (lempeng samudera) yang berkomposisi basal (basa), yang menghasilkan palung yang dalam, tempat dimana batuan sedimen laut dalam (pelagic sediment), batuan metamorfik (batuan ubahan), dan batuan beku basa hingga ultra basa terendapkan, sehingga sangat menarik untuk dipelajari.

Berbagai jenis batuan yang telah disebutkan di atas bercampur dan terangkat di permukaan dinamakan sebagai batuan bancuh (batuan campur aduk) atau dikenal sebagai Melange yang merupakan kelompok batuan tertua (Pra Tersier) yang tersingkap di permukaan daratan Pulau Jawa dengan umur berkisar 65 juta tahun.

Keunikan lainnya adalah seluruh singkapan batuan berada di dalam suatu lembah besar menyerupai amfiteater berbentuk tapal kuda yang terbuka ke arah Samudra Hindia yang terjadi oleh proses tektonik berupa runtuhan. Selain itu, beberapa air terjun, gua laut dan pulau kecil yang kaya akan pemaknaan geologi juga menghiasi kawasan ini.

Wow, kalimat tersebut itulah yang membuat saya tertarik dan langsung saja mengajak teman jalan untuk pergi ke sana. Saya membayangkan dasar laut yang muncul ke permukaan, indah dan ajaib.

Maka, sebulan setelah melihat tentang Ciletuh, kami bersiap menuju ke sana. Perjalanan pertama saya ke sana sekitar tahun 2013, sebelum penetapan Ciletuh menjadi Geopark. Ya, untuk menjaga kelestarian alamnya, Ciletuh baru saja memulai suatu usaha konservasi berkelanjutan melalui konsep Taman Bumi (Geopark). Geopark Ciletuh telah diresmikan menjadi Geopark nasional pada tanggal 22 Desember 2015.

Perjalanan menuju Ciletuh dilakukan dengan menelusuri dari Pantai Pelabuhan Ratu. Saya bersama 4 teman lainnya mengendarai mobil pribadi. Saat itu menggunakan dua mobil dengan menelusuri jalur pantai Pelabuhan Ratu.

Teman saya mengordinasi dalam pendaftaran perjalanan. Perjalanan pertama saya ke Ciletuh sekitar tahun 2013.

Saat itu, jalan belum beraspal seperti sekarang. Perjalanan yang menjadi tantangan sekaligus membuat deg-degan, karena suasana malam yang menjadi pilihan saat menuju ke Ciletuh. Sepi, Kami beristirahat di warung yang sudah tutup untuk sekedar berbaring meluruskan badan.

Jalanan masih berdebu dan banyak lubang. Sekarang, jalanan ke sana sudah di hotmix atau beraspal bagus.

Kami beristirahat beberapa kali karena supir butuh istirahat. Waktu terasa lama dan Panjang. Untuk menuju ke sana, saya sempat beberapa kali bertanya ke penduduk ketika kami singgah di warung. Menjelang janari leutik atau sekitar jam 3 pagi, kami sampai tujuan di dekat Bale Desa.

Seperti baru bubar acara, ternyata semalam ada pagelaran wayang golek di sana dan baru selesai. Kami langsung dibawa ke homestay yang sudah di tempatkan oleh tour guide Ciletuh. Kami tinggal di rumah warga. Selama di Ciletuh, kami sudah membeli paket penginapan, makan dan perjalanan Ciletuh.

Untuk penginapan, kami tinggal di rumah warga. Saya melihat bahwa ini merupakan cara terbaik dalam pemerataan ekonomi. Warga mendapat manfaat dari para pengunjung dengan menginap di rumah mereka.

Kami sendiri merasa senang karena bisa berbaur dengan warga itu sendiri dan mendapatkan berbagai cerita seputar Ciletuh dan perkembangannya dengan mereka. Kami langsung istirahat, karena besok pagi sudah harus mengikuti jadwal tour, yang sudah dimulai sejak jam 7 pagi.

1. Curug Awang

Setelah sarapan, kami diajak menuju ke Curug Awang. Kami diajak melipir ke belakang rumah yang kami tinggal di sana. Menelusuri pematang sawah yang saat itu sudah panen.

Terbayang kan? Pematang sawahnya sudah dipopok atau ditambal lumpur dari sawah. Seru dan bikin cari akal untuk mencari pematang yang sudah kering. Curug awang ini berada di Sungai Ciletuh, perbatasan administratif antara Desa Tamanjaya, Desa Cibenda, dan Desa Mekarsakti.

Situs geologi ini merupakan air terjun dengan ketinggian 50 meter yang terbentuk akibat struktur geologi berupa sesar normal sehingga ada blok atau bagian yang turun. Curug berarti air terjun, sementara Awang berarti posisi yang tinggi (awang-awang). Menurut referensi, batuan utama penyusunnya merupakan bagian dari formasi jampang anggota Cikarang berupa batuan sedimen berupa breksi polimik dan batupasir graywacke berbutir kasar sampai halus, yang menujukkan perlapisan yang tebal.

Batuan berumur miosen bawah - tengah (23-10 juta tahun yang lalu). Waktu itu, kami hanya melihat dari seberang sungai, karena aliran airnya lumayan deras. Kami berpoto ria dan menikmati air yang lumayan keruh kecoklatan. Tetapi kami bahagia dengan keindahan curug tersebut.

2. Curug Tengah

Sudah puas di Curug Awang, kami diajak menelusuri pematang sawah kembali. Dengan memutar karena pematangnya banyak yang sudah kena lumpur, kami memutar. Meski saya orang kampung, berjalan di pematang sawah yang kecil, lumayan bikin deg-degan, untungkami memilki guide yang sigap.

Setelah melewati banyak pematang sawah, akhirnya kami sampai di Curug Tengah. Curug ini berada di Sungai Ciletuh, perbatasan administratif antara Desa Tamanjaya, Desa Cibenda, dan Desa Mekarsakti. Situs geologi ini merupakan airterjun dengan ketinggian mencapai 7 meter yang terbentuk akibat struktur geologi berupa sesar normal sehingga ada blok atau bagian yang turun.

Air terjun ini merupakan air terjun terusan dari Curug Awang. Batuan utama penyusunnya merupakan bagian dari Formasi Jampang Anggota Cikarang berupa batuan sedimen berupa breksi polimik, batupasir graywacke berbutir kasar sampai halus, yang menujukkan perlapisan yang tebal. Batuan Berumur Miosen Bawah - Tengah (23-10 juta tahun yang lalu). Kami posisinya berada di atas curug, melihat pemandangan sekitar sungguh indah.

Subhanallah. Saya berasa di dunia dongeng. Tidak heran bila disebut amphiteater bila melihat keindahan bagai lukisan alam dengan para dewa naga terbang yang meliuk-liuk di sekitar lembah dan jurang. Di sini saya sangat terpukau, apalagi bila memandang jauh ke depan, ada banyak liukan lembah dan ngarai yang menjadi keajaiban alam semesta.

3. Panenjoan

Perjalanan selanjutnya menuju Panenjoan.Kami mengendarai mobil sejenis landrover yang disediakan oleh tour guide untuk menuju tiap titik wisata. Di Panenjoan, kami istirahat sambil melihat-lihat alam sekitar dari sudut pandang Panenjoan.

4. Curug Sodong

Tidak berapa lama di sana, kami diajak ke Curug Sodong. Dengan mengendarai mobil, kami menuju ke sana yang melihat perjalanan seperti jalur desa yang sudah ramai, berbeda dengan sebelumnya yang sepi, hanya bertemu dengan hamparan padi. Ketika sampai area curug, sepertinya sedang proses pembangunan area sekitar curug.

Ada 3 curug, pertama, yang paling atas dan dua hamper berdekatan sehingga disebut juga curug kembar. Curug ini berada di Sungai Cikanteh yang termasuk kedalam wilayah Desa Ciwaru, situs geologi ini merupakan 3 buah airterjun yang tersusun dari paling rendah ke paling tinggi: Curug Sodong/Curug Kembar/Curug Penganten (ketinggian 35 meter), Curug Ngelay (ketinggian 7 meter), dan Curug Cikaret (ketinggian 50 meter).

Air terjun ini terbentuk akibat struktur geologi berupa sesar normal sehingga ada blok atau bagian yang turun. Batuan utama penyusunnya merupakan bagian dari formasi jampang nggota Cikarang (Sukamto, 1975) berupa batuan sedimen berupa breksi polimik, batupasir graywacke berbutir kasar sampai halus, yang menujukkan perlapisan yang tebal dan pada dasar sungai di jumpai bongkah-bongkah breksi polimik. Batuan Berumur Miosen Bawah-Tengah (23-10 juta tahun yang lalu).

5. Curug Cimarinjung

Setelah dari Curug Sodong, kami kembali berkendaraan. Dzhuhur sudah menjelang. Kami melanjutkan perjalanan ke Curug Cimarinjung. Curug ini berada di Sungai Cimarinjung yang termasuk kedalam wilayah Desa Ciwaru, situs geologi ini merupakan airterjun dengan ketinggian 50 meter yang terbentuk akibat struktur geologi berupa sesar normal sehingga ada blok atau bagian yang turun.

Batuan utama penyusunnya merupakan bagian dari Formasi Jampang Anggota Cikarang berupa batuan sedimen berupa breksi polimik, batupasir graywacke berbutir kasar sampai halus, yang menujukkan perlapisan yang tebal dan pada dasar sungai di jumpai bongkah-bongkah lava basal berstruktur bantal yang terbentuk 65 juta tahun yang lalu (Pra-Tersier).

Saya terpesona dengan curugnya. Ingin rasanya melompati atau bermain air di bawah curug lalu leyeh-leyeh di pelataran dekat curug, malah bayangan mah sambil ngaliwet alias makan liwet. Hanya saja saat itu airnya sedang deras, karena memang sedang memasuki musim hujan.

6. Puncak Darma

Puncak Darma berada di Desa Girimukti dalam kawasan Geopark Ciletuh. Lokasi ini merupakan salah satu situs geomorfologi yang merupakan tempat terbaik untuk mengamati bentuk amfiteater serta teluk Ciletuh yang terbuka ke arah laut lepas.

Perjalanan ke sana cukup menegangkan karena naik ke atas Puncak Darma dengan mengendari mobil land rover. Ketinggiannya cukup curam, hamper posisi miring, tapi untungnya yang bawa mobil professional. Namun, ketika kita berdebar-debar pada setengah perjalanan, kita bertemu dengan seorang ibu bersama anak berseragam sekolah pramuka membawa motor.

Hari itu, hari Sabtu, kalau di daerah Hari Sabtu masih sekolah. Setelah bertanya ke tim guide, ternyata di lereng Puncak Darma ada perkampungan. Kami pun sampai di puncak. Subhanallah, pemandangannya indah sekali. Ada lengkungan garis pantai dan hamparan pemandangan lembah lainnya.

Kita dapat melihat panorama (landscape) mega amphiteater Ciletuh sebagai bukti struktur geologi berupa sesar normal yang menghasilkan sebuah longsoran besar berbentuk tapal kuda. Batuan utama penyusunnya merupakan bagian dari Formasi Jampang Anggota Cikarang yang terbentuk pada kala Miosen Bawah Tengah berupa batuan sedimen berupa breksi polimik, batupasir graywacke berbutir kasar sampai halus, setempat dijumpai lava.

Bukan hanya itu, Puncak Darma juga menjadi tempat melihat hilal, penentuan awal bulan hijriyah, terutama bulan Ramadhan dan Syawal sebagai waktu-waktu penting dalam beribadah bagi umat Islam. Ada saung dan bekas bakaran, mungkin sebelumnya ada yang meliwet. Setelah berbincang, kami menyesal karena tidak meliwet.

Udaranya yang sejuk dan redup, sehingga kami tidak bisa melihat matahari terbenam dengan jelas. Hilal pun tidak dapat kami lihat, karena cuaca mendung menggelayut.

7. Pantai Palangpang

Setelah puas di Pucak Darma, masih dengan deg-degan waktu turun, apalagi saya kalau jalan ke bukit itu jago naik, tetapi turun seperti nenek-nenek. Akhirnya kami alhamdulillah berhasil turun.

Kami menuju Pantai Palangpang, pantai yang terletak di Desa Mandrajaya, pantai ini merupakan salah satu situs geologi berupa morfologi pantai hasil bentukan laut, berupa hamparan pasir putih sampai abu-abu sebagai hasil lapukan dari batuan yang ada di sekitarnya sebagai batuan dasarnya jutaan tahun yang lalu.

Palangpang berasal dari kata palang-palang yang berarti kayu atau bambu di dalam perahu atau antar perahu yang berfungsi sebagai penyeimbang atau tempat duduk atau jembatan) yang saling menumpang. Hal ini berkaitan dengan budaya berperahu sebagai sarana mencari ikan ataupun transportasi.

Pantai ini memiliki hamparan yang luas dengan pasir putih, dan menjadi muara bagi Sungai Ciletuh di bagian selatan dan Sungai Cimarinjung di bagian utaranya. Bentuk pantai ini juga membentuk tapal kuda, karena juga merupakan bagian dasar dari lembah mega amfiteater Ciletuh yang terbentuk karena struktur geologi yang terjadi pada Miosen Atas, di sini kami menikmati suasana sore yang indah dan sejuk.

Saat itu Palangpang masih dalam pembangunan, tentunya sekarang sudah menjadi obyek wisata bagian dari Geopark Ciletuh. Alhamdulillah, dalam sehari kami menelusuri dan menikmati 7 keajaiban Geopark Ciletuh. Sesungguhnya saya belum puas, karena masih banyak tempat-tempat lainnya di Ciletuh yang dapat dijelajahi, termasuk wisata airnya.

Berbicara masalah sungai, saya teringat Dubai, Ibukota Uni Emirat Arab. Pernah membaca dari Google, kalau Dubai diambil dari istilah Daba, yang artinya bergerak pelan-pelan, menunjukkan proses anak sungai Dubai yang mengalir pelan-pelan di daerah pedalaman. Kota yang berkembang dengan potensi sumber daya alam minyaknya, kini menjadi kota wisata.

Ada banyak taman yang dibangun di antaranya taman Al Quran dan taman bunga. Saya pun bermimpi berada di taman-taman yang indah tersebut. Demikianlah, keindahan alam semesta tanpa batas. Alhamdulillah, saya dapat menikmati Geopark Ciletuh. Saya pun bermimpi untuk pergi ke Dubai, menikmati taman-taman indah di sana, terutama taman Al Quran. Semoga Allah mengabulkan. Amiiin, Insya Allah.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA