Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 17 Agu 2019 21:02 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Cegah Polusi di Jakarta, Ayo Naik 5 Transportasi Ini

Foto 1 dari 5
Bagian dalam MRT (Moda Raya Terpadu) salah satu Transportasi baru di Ibu Kota.
Bagian dalam MRT (Moda Raya Terpadu) salah satu Transportasi baru di Ibu Kota.
detikTravel Community - Sudah sepatutnya warga Jakarta mengurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk mencegah polusi. Apalagu Jakarta punya beragam pilihan transportasi umum.

Sudah sepatutnya warga Kota Jakarta mengurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk mencegah semakin buruknya polusi udara. Kini Jakarta memiliki beragam pilihan transportasi umum ramah lingkungan.

Akhir-akhir ini, berita mengenai polusi udara Jakarta yang kian mengkhawatirkan semakin bermunculan. Berbagai media menyoroti perihal buruknya kualitas udara ibu kota. Hal ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan laman AirVisual.com, kualitas udara Jakarta beberapa waktu terakhir sering menempati posisi teratas untuk kualitas udara terburuk dari 86 kota di dunia.

Menurut data DLHK DKI Jakarta, kontribusi terbesar buruknya kualitas udara berasal dari transportasi darat. Nah, bagi warga atau wisatawan yang ingin membantu mengurangi polusi di Jakarta, lebih baik mengurangi penggunaan kendaraan pribadi ketika ingin pergi berkeliling.

Kini Jakarta sudah memiliki beragam pilihan transportasi umum yang lebih ramah lingkungan. Ini tentunya sebagai salah satu solusi untuk mengurangi polusi udara yang mengepung Jakarta. Jadi, untuk mendukung pengurangan polusi udara di Jakarta, Traveler dapat menggunakan beberapa pilihan transportasi umum yang ada di Jakarta. Berikut transportasi untuk mencegah polusi semakin buruk, di antaranya:

1. Transjakarta

Salah satu moda transportasi yang sudah cukup lama beroperasi di ibu kota adalah Transjakarta. Beroperasi sejak 2004, Transjakarta merupakan sistem transportasi Bus Rapid Transit (BRT) pertama yang di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Sistem ini diterapkan untuk memudahkan aktivitas harian warga Jakarta.Â

Dilansir dari laman transjakarta.co.id, jalur lintasan Transjakarta merupakan yang terpanjang di dunia yakni mencapai 251.2 km, dengan 260 halte yang tersebar dalam 13 koridor. Awalnya hanya beroperasi mulai pukul 05.00-22.00 WIB. Namun, kini Transjakarta sudah beroperasi 24 jam di beberapa koridor.

Banyaknya halte yang tersedia membuat moda darat satu ini sangat mudah dijangkau masyarakat. Harga tiket yang murah juga membuat Transjakarta menjadi favorit, terutama saat akhir pekan tiba. Cukup dengan Rp 3.500, Traveler dapat menumpang bus Transjakarta dari seluruh rute. Asalkan belum keluar dari halte, Traveler dapat mencoba berkeliling Jakarta melalui 13 koridor yang tersedia dengan harga murah.

Banyak lokasi wisata di Jakarta yang dapat dengan mudah dijangkau menggunakan Transjakarta. Beberapa di antaranya adalah Monas dan sekitarnya, Kebun Binatang Ragunan, Kota Tua, TMII, Kawasan Ancol, serta banyak tempat lainnya.

Tapi harus diingat, untuk naik Transjakarta Traveler harus memiliki kartu uang elektronik untuk pembayarannya, karena sejak 2013 lalu, Transjakarta sudah menerapkan sistem e-ticketing. Jika belum memiliki kartu uang elektronik, Traveler dapat membelinya di minimarket, atau di halte Transjakarta tertentu dengan harga sekitar Rp 40.000 (termasuk saldo Rp 20.000 di dalamnya).

Transjakarta juga menyediakan beberapa rute gratis bagi Traveler yang ingin berkeliling Jakarta. Ada 7 koridor yang dibuka sesuai dengan temanya, yakni BW1-Sejarah Jakarta (History of Jakarta), BW2-Jakarta Baru (Jakarta Modern), BW3-Kesenian dan Kuliner (Art and Culinary), BW4-Pencakar Langit (Jakarta Skyscrapers), BW5-Ruang Terbuka (Jakarta Open Space), BW6-Cagar Budaya Jakarta (Jakarta Heritage), BW7-Belanja Jakarta (Jakarta Shopping). Traveler cukup menunggu di titik-titik yang telah ditentukan untuk menaiki bus ini.Â

2. KRL

Mode transportasi yang satu ini ternyata sudah beroperasi di Jakarta alias Kota Batavia sejak tahun 1920-an loh, Traveler. Dikutip dari laman resminya, sejak 1 Mei 1927, di Kota Batavia melintas KRL yang mengelilingi kota (ceintuur-baan). Tahun 1930, untuk pertama kalinya jalur KRL Batavia (Jakarta Kota)-Buitenzorg (Bogor) beroperasi.

Commuter Line yang dioperasikan KCI (Kereta Commuter Indonesia) kini melayani 79 stasiun di yang tersebar di Jabodetabek, Banten, dan Cikarang. Jangkauan rute KRL mencapai 418,5 km. Tercatat hingga 2019 ini, KCI memiliki 1.450 unit kereta dengan target penumpang mencapai 1,2 juta per hari. Ini tentunya juga memudahkan para calon penumpang, termasuk Traveler, untuk mencari stasiun terdekat dari lokasi keberadaan, tanpa menunggu terlalu lama untuk jarak tiap keretanya.

KCI menetapkan tarif yang bervariasi, tergantung pada jarak tempuh. Tarif yang diterapkan mulai dari Rp 3.000 hingga sekitar Rp 13.000. Masih terjangkau ya, Traveler. Itulah salah satu alasan mengapa pengguna KRL begitu banyak, termasuk pada akhir pekan. Ini disebabkan karena pada saat akhir pekan, biasanya banyak dari Traveler yang ingin berlibur bersama keluarga dan memanfaatkan KRL sebagai pilihan untuk mengantar sampai dekat titik tujuan.

Sama seperti Transjakarta, KRL juga menggunakan sistem e-ticketing. Jadi, persiapkan kartu uang elektronik Traveler sebelum masuk stasiun. Selain menggunakan kartu uang elektronik, Traveler juga dapat membeli tiket harian berjaminan (THB) atau kartu multitrip (KMT) di loket maupun vending machines yang tersedia di stasiun.

3. MRT

Ini dia salah satu transportasi massal terbaru yang ada di ibu kota. Hadirnya MRT atau Moda Raya Terpadu ini membuat Jakarta terlihat semakin maju. Bahkan di beberapa titik, Traveler dapat merasakan nuansa seperti tengah berada di luar negeri.

Untuk saat ini, baru ada 13 stasiun yang melayani rute Lebak Bulus-Bundaran HI. Jalur ini menempuh jarak sejauh 16 kilometer. 16 stasiun ini terbagi menjadi tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah. Stasiun layang meliputi Lebak Bulus yang digunakan sebagai lokasi depo, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan ASEAN. Sedangkan untuk stasiun bawah tanah di antaranya Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI. Jadwal kedatangan kereta setiap 5-10 menit sekali dengan jadwal operasi mulai dari 05.00-24.00.

Hingga saat ini, baru fase 1 yang beroperasi, pembangunannya sudah dimulai sejak 10 Oktober 2013, uji publik pada 12 Maret 2019 serta diresmikan pada 24 Maret 2019. Tarif MRT bervariasi tergantung jarak dan jumlah stasiun yang dilewati. Mulai 13 Mei 2019, penumpang dikenai tarif dari Rp 3.000-Rp 14.000 untuk sekali perjalanan.

Sama seperti dua transportasi sebelumnya, MRT juga memberlakukan e-ticketing. Jadi, ketika telah memiliki kartu uang elektronik, Traveler dapat menggunakan berbagai moda darat yang menggunakan sistem e-ticketing di ibu kota. Cukup satu kartu dapat digunakan untuk berbagai keperluan, asalkan Traveler tidak lupa untuk mengisi saldo yang cukup agar kartu dapat digunakan.

Adanya MRT mempersingkat waktu tempuh Lebak Bulus-Bundaran HI menjadi 30 menit. Tanpa harus bertemu dengan kemacetan Jakarta di jalan raya, Traveler dapat sampai ke tujuan dengan nyaman. Armada yang masih baru, kebersihan yang terjaga dan tidak berdesakan saat di kereta membuat MRT menjadi salah satu moda yang nyaman dengan segala kemudahannya. Sayangnya baru fase 1 yang beroperasi. Kita tunggu saja fase-fase selanjutnya yang kini tengah digarap, semoga bisa lebih mengurangi kemacetan di jalanan ibu kota.

4. LRT

Nah, yang satu ini adalah transportasi terbaru di ibu kota. Uji publik sudah dilakukan sejak 11 Juni 2019 lalu. Untuk masa uji publik masih berlaku hingga waktu yang belum ditentukan. Traveler tidak perlu registrasi, cukup menunjukan kartu identitas saat akan menumpang LRT. Jangan lupa, LRT beroperasi mulai pukul 05.30-23.00 WIB setiap harinya.

Untuk saat ini, baru rute Kelapa Gading-Rawamangun dengan jarak 5,8 kilometer yang beroperasi. Adapun stasiun yang beroperasi di antaranya Stasiun Velodrome, Stasiun Equestrian, Stasiun Pulomas, Stasiun Boulevard Selatan, Stasiun Boulevard Utara, Stasiun Pegangsaan Dua yang sudah terintegrasi dengan Transjakarta atau Jaklingko.

Awalnya, rute LRT Rawamangun-Velodrome ditujukan untuk memfasilitasi atlet-atlet Asian Games 2018. Namun, proses pembangunan yang terhambat, membuat LRT yang mulai dibangun pada Mei 2017 ini masih belum beroperasi sepenuhnya hingga sekarang. Semoga fase-fase selanjutnya dapat segera diselesaikan dan beroperasi, sehingga warga Jakarta, pendatang dan warga wilayah penyangga ibu kota semakin banyak pilihan transportasi.

5. Jalan Kaki

Kali ini tidaklah berhubungan dengan kendaraan, melainkan untuk membantu tubuh lebih bergerak aktif, terutama bagi Traveler yang jarang berolahraga. Kini, di sejumlah titik di ibu kota telah tersedia trotoar-trotoar yang nyaman dan luas untuk Traveler berjalan kaki. Seperti di wilayah Senayan misalnya.

Traveler dapat berjalan-jalan dan melihat suasana kota yang tampak lebih modern dari lokasi lain. Revitalisasi jembatan penyeberangan orang alias JPO yang ada di kawasan ini juga menarik sebagai tujuan atau lokasi berfoto. Tidak hanya itu, gedung-gedung pencakar langit juga bisa menjadi latar foto yang instagramable loh, Traveler!

Berbicara mengenai transportasi publik, Jakarta menjadi bagian kecil dari transformasi kendaraan umum yang ada di dunia. Sejumlah negara maju telah memiliki sarana dan prasarana yang tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga menerapkan teknologi canggih.

Beragam inovasi di dunia transportasi ini semakin berkembang pesat. Salah satunya di Dubai, UEA. Maka tidak heran, jika mobil-mobil yang mengaspal di jalanan dubai sebagian besar adalah mobil-mobil supercar yang juga super mewah.

Terkenal dengan berjuta inovasi, Dubai juga memiliki taksi terbang yang bisa mengantar Traveler berkeliling melihat keindahan Dubai dari udara. Taksi terbang di Dubai merupakan yang pertama di dunia, sebelum akhirnya beberapa negara lain, kini mengikuti jejaknya.

Salah satu kota yang begitu dikagumi, kota dengan berjuta inovasi. Bangunan megah, wisata mewah, pemandangan indah, semua ada di salah satu kota di UEA ini. Hal-hal tersebut tentunya menjadikan kota ini menjadi salah satu destinasi yang banyak diimpikan.

Melalui gambaran dunia maya saja bisa terpesona, bagaimana jika berkunjung secara langsung? Dengan segala yang dimiliki Dubai, mengapa tidak memiliki mimpi untuk pergi ke sana? Beragam informasi dari kota super-inovatif ini tersedia dari berbagai sumber, terutama di dunia maya. Informasi dan seluk-beluk dari kota indah ini dapat diperoleh dengan mudahnya. Bagaimana bisa tidak memimpikan untuk pergi ke sana?
BERITA TERKAIT
BACA JUGA