Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 14 Nov 2019 10:17 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengintip Kejayaan Maritim Indonesia di Tanjung Priok

Yopi Ilhamsyah
d'travelers
Foto 1 dari 5
Sejarah pelabuhan masa Kolonial
Sejarah pelabuhan masa Kolonial
detikTravel Community - Jejak kejayaan penjelajahan laut kita dapat ditelusuri di Museum Maritim Jakarta. Yuk ke sini!

Oh ya museum ini berbeda dengan Museum Bahari di Penjaringan Kota Tua, Jakarta Utara, jadi jangan salah berkunjung ya!.

Museum Maritim ini berlokasi di dalam Pelabuhan Tanjung Priok, tepatnya di Jalan Pasoso No. 1 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Gedung ini merupakan bangunan peninggalan kolonial, terlihat dari ciri bangunannya yang bersayap seperti halnya Museum Fatahillah Kota Tua Jakarta, Gedung Sate Bandung dan bangunan kolonial lainnya di Indonesia.

Setelah kemerdekaan gedung ini berfungsi sebagai kantor pengelola pelabuhan dan sekarang dijadikan museum sejarah maritim dan pelabuhan Indonesia yang dikelola oleh PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II. Museum Maritim ini bercat putih dan memiliki dua sayap sebagai ruang utama di bagian kiri dan kanan.

Dari pintu masuk Pelabuhan Tanjung Priok, museum ini masih berjarak 200 meter. Sebenarnya ada jalan masuk terdekat menelusuri jalan setapak menuju museum ini dari Terminal Tanjung Priok. Bagi yang datang dari terminal Tanjung Priok bisa masuk melalui lorong kecil di depan halte busway kemudian melewati kantin dan Masjid Jami di dalam pelabuhan dan museum ini masih berjarak 100 meter dari masjid ini.

Untuk hari Selasa hingga Jumat, museum buka dari Jam 09.00-16.00 WIB, sementara Sabtu dan Minggu museum beroperasi mulai Jam 09.00 hingga 17.00 WIB, hari Senin dan libur nasional museum ini tutup. Untuk masuk ke museum ini belum dikutip biaya alias masih gratis karena belum Grand Opening.

Saat masuk kita bisa menuju ke meja petugas untuk menanyakan informasi terkait museum ini. Di lobi utama di bagian kanan dari pintu masuk utama museum disediakan loker bagi para pengunjung untuk menyimpan tas dan bawaan lainnya karena tidak diperkenankan untuk dibawa masuk ke dalam museum, kecuali telepon genggam tentu saja dilengkapi kamera untuk dokumentasi.

Di lobi utama di bagian belakang ada miniatur kapal VOC dalam ukuran sedang. Terbayang bagaimana kapal layar berbahan kayu ini mengarungi samudera ganas hampir setengah lingkaran Bumi menuju Nusantara guna mencari rempah-rempah.

Memasuki ruang di bagian kanan, kita menjumpai ruang sejarah maritim Nusantara (Indonesia pada masa dulu), di sini ditampilkan peta migrasi Austronesia, kelompok etnis yang mendiami nusantara saat itu. Etnis ini berasal dari Taiwan, terlihat di peta bahwa etnis ini mendiami wilayah Taiwan 5000 tahun lampau.

Kemudian berpindah ke Sumatera, Australia dan Guam di Pasifik 4000 tahun lampau, ada juga yang hijrah ke Madagaskar 2000 tahun lampau hingga ke tenggara Samudera Pasifik di Pulau Paskah dekat Chile 1600 tahun lalu. Dipaparkan juga bahwa etnis ini mendiami Kepulauan Hawaii 1600 tahun lampau, yang menarik penamaan Hawaii ini ternyata berasal dari "Jawa iki".

Menurut penuturan narasumber dalam acara yang penulis ikuti yaitu "Focus Group Discussion Narasi Penyebaran Peradaban Nusantara" yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, dulu orang-orang nusantara menggunakan perahu bercadik sampai ke pulau ini dan diberi nama Jawa iki (Jawa kecil), saat Spanyol mengunjungi pulau ini, karena huruf "J" dalam bahasa Spanyol dilafalkan "H" dan Spanyol kesulitan dalam mengeja huruf "K", jadilah "Jawa iki" menjadi "Hawaii".

Di ruang ini juga ditampilkan peta pelayaran orang Bajo yang berasal dari wilayah timur Indonesia yang berlayar hingga ke Sabah Malaysia Utara hingga pantai selatan Filipina dan orang Bugis yang berlayar hingga ke pantai barat Australia mencari Tripang. Menakjubkan bukan? Ternyata nenek moyangku seorang pelaut bukan sekadar lagu tapi benar adanya.

Di ruang ini juga ditampilkan alat-alat navigasi seperti kompas, sextant, astrolase. Diorama-diorama kerajaan-kerajaan maritim nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya, Mataram dan Demak lengkap dengan cerita-cerita dan kapal-kapalnya juga ditampilkan. Replika kapal Pinisi dan perahu bercadik yang digunakan etnis nusantara ketika menjelajah samudera di masa lalu juga ada.

Tersedia juga komoditi dagang Nusantara seperti Gading Badak dan Gajah, bulu Merak, kapas dan peninggalan arkeologi perjalanan samudera orang-orang Nusantara masa lalu. Ada juga sejarah kedatangan bangsa Eropa di Nusantara dengan slogannya Gold, Gospel, Glory dilengkapi miniatur kapal-kapal Spanyol, Portugis, Inggris dan Belanda yang singgah di Nusantara serta diorama monopoli perdagangan Pala oleh Belanda melalui firma dagang VOC di Kepulauan Banda, sejarah perang Portugis dengan VOC di Malaka dilengkapi miniatur kapal-kapal perang.

Sejarah VOC sendiri diilustrasikan dalam satu ruang khusus bernuansa remang-remang menyerupai gudang pada masa lalu. Lampu-lampu minyak yang dinyalakan, patung-patung tentara VOC dan komoditi rempah-rempah seperti ketumbar, merica, pala, lada, kayu manis, jintan hitam dan lainnya dengan aroma wanginya yang khas yang dipamerkan dan dapat digenggam seakan kita kembali ke masa dahulu.

Kapal-kapal VOC dilengkapi dengan sketsa bagian-bagian kapal dan rute perjalanan dari negeri Belanda hingga Perairan Nusantara serta jalur-jalur logistik dan keuntungan yang diperoleh VOC dari perdagangan rempah. Pada dinding disajikan timeline tentang sejarah panjang VOC hingga kerajaan Belanda di Indonesia (1596-1945).

Ruang di sebelah kiri lobi utama tersaji sejarah pembentukan Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) dari tahun 1945-1961. Sejarah pelabuhan-pelabuhan besar Indonesia dari masa kolonial hingga kini dilengkapi ilustrasinya seperti Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Cirebon, Teluk Bayur Padang yang dulunya bernama Emmahaven, yang menarik bagaimana pelabuhan ini dibuat terintegrasi dengan jalur kereta api yang mengangkut batubara dari Ombilin di pedalaman Sumatera Barat.

Tersedia juga diorama serta peninggalan-peninggalan yang menggambarkan suasana pelabuhan sebagai tempat bertemunya berbagai suku bangsa dengan budaya berbeda, namun saling menghargai dan menjunjung profesionalitas. Konsep pelabuhan sebagai zona pertahanan laut Indonesia juga dipamerkan di ruang ini.

Ada juga prasasti Portugis sebagai penanda wilayah jajahan portugis, seperti Padrao yang dibangun menyerupai tugu sebagai bukti perjanjian antara Raja Portugis dengan Raja Pakuan Pajajaran tahun 1522. Di sini ini juga tersedia ruang simulator kapal, dirancang seolah-olah kita sedang menakhodai sebuah kapal. Masih banyak lagi yang ditampilkan di ruang ini dan semuanya menarik.

Tersedia juga sejarah visual tentang perkembangan pelabuhan Indonesia, konsep tol laut dan bagaimana PT Pelindo II mewujudkan visi poros maritim pemerintah Republik Indonesia. Ruang audio visual (bioskop mini) ini terletak di lantai dua dan ditayangkan pada Jam 11.00 WIB. Di lantai ini juga tersedia perpustakaan dan maket pengembangan pelabuhan Tanjung Priok di masa mendatang. Bagi yang tertarik sejarah dan yang sedang mempelajari pelabuhan, kemaritiman, geografi serta arkeologi dapat mengunjungi museum ini. Yuks!
BERITA TERKAIT
BACA JUGA