Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 05 Okt 2019 11:42 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Akhir Pekan di Solo, Yuk Main ke De Tjolomadoe

Annisa Budiarti
d'travelers
Foto 1 dari 5
Stasiun gilingan yang menceritakan sejarah tentang PG Colomadu dan gula di nusantara.
Stasiun gilingan yang menceritakan sejarah tentang PG Colomadu dan gula di nusantara.
detikTravel Community - Bekas pabrik gula De Tjolomadoe bisa jadi pilihan untuk akhir pekan ini. Instagenik dengan bangunan khas jaman dulu, museum ini bikin kamu betah seharian.

Sering mendengar pepatah Ada gula Ada Semut? Ternyata Indonesia pernah menjadi menjadi surganya produksi gula di masa lalu. Dilihat dari sejarah De Tjolomadoe ini, kita dapat mengetahui bahwa gula pernah membawa kesejahteraan dan menempatkan Indonesia dalam konstelasi perdagangan dunia. Semua cerita tentang Gula dan masa jayanya di tanah air ini dirangkum dalam sejarah De Tjolomadoe.

Berlokasi di Jalan Adi Sucipto Solo, De Tjolomadoe ini berdiri megah dan cantik berwarna putih. Kalau dilihat dari miniatur yang terlihat di dalam museumnya, De Tjolomadoe ini bentuknya dahulu dan sekarang tetap sama. Hanya saja bagian dalamnya saat ini di fungsikan sebagai museum yang bercerita tentang gula.

Awal mulanya De Tjolomadoe ini dibuat oleh Mangkunegara IV yang ingin mengembangkan lahan perkebunan tebu dan membuat pabrik gula. Distribusi dan ekspor gula di tahun 1920-an sangat berjaya, bahkan Indonesia di tahun 1930 menjadi eksportir gula terbanyak nomer 2 di dunia setelah Kuba. Salah satu penyumbang gula terbesarnya adalah PG Colomadu.

Pastinya saat kalian mengunjungi De Tjolomadoe ini melihat sudut-sudut ruangan yang klasik dan instagramable membuat ngga tahan ingin berfoto. Namun saat kalian menengok sejarah Pabrik Gula De Tjolomadoe ini, rasanya seperti masuk ke dalam mesin waktu dan kembali ke tahun 1861.

Cara mempresentasikan sejarah pabrik gula Tjolomadoe ini dibuat sangat menarik. Sehingga para pengunjung pastinya akan tenggelam di dalamnya.

Tidak hanya area luarnya saja yang dipertahankankan namun area dalamnya juga. Nama stasiun dalam proses produksi pabrik gula ini tetap di pertahankan.

Ada Stasiun Gilingan yang berisi sejarah De Tjolomadoe, kemudian Stasiun Ketelan yang berfungsi sebagai area kantin, Stasiun penguapan sebagai area Arcade, Stasiun Karbonatasi sebagai area art dan craft dan kemudian ada Sakara Hall yang bisa menjadi lokasi multifungsi untuk acara ataupun konser.

Menariknya di dalam area Stasiun Gilingan terselip instalasi seni, yaitu bernama Taman Magis Wara. Arti dari Taman Magiswara ini adalah taman para raja.

Di dalamnya terdapat ukiran bunga, gunung dan kain batik berwarna warni seperti berada di taman. Kemudian saat lampunya mati seluruh ukiran dan batiknya akan menyala glow in the dark.

Taman Magiswara ini menrupakan representasi dari PG Colomadu, sebagai simbol gotong royong, kemandirian antara Mangkunegara dan warganya. Dibuat oleh tempa yaitu kolaborasi 2 seniman Putud Utama dan Rara Kuastra.

PG Colomadu ini tutup di tahun 1998 dikarenakan supply tebu berkurang dan juga dampak dari krisis moneter. Tahun 2018 maret proses revitalisasi selesai dilakukan dan De Tjolomadoe ini diresmikan. Kemudian menjadi de Tjolomadoe yang bisa kalian datangi saat ini.

Bagi kalian yang ingin mengunjungi De Tjolomadoe waktu terbaik adalah di sore hari yaitu jam 4. J Bagi yang suka fotografi suasana gedung De Tjolomadoe ini punya keindahannya tersendiri.

Harga tiket masuknya adalah Rp.25.000, nantinya tangan anda akan di cap sehingga bisa bebas untuk eksplor seluruh area De Tjolomadoe. Untuk Toko Sovenir terpisah gedungnya dan berada di dekat penjualan tiket. Jadi bagi yang punya jadwal liburan ke Solo jangan sampai kelewatan untuk megunjungi De Tjolomadoe.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA