Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 12 Okt 2019 14:58 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Al Mashun, Masjid Tua Antik dan Cantik di Medan

Ica Sentya dEwi
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pintu Masuk Masjid
Pintu Masuk Masjid
detikTravel Community - Medan seperti tak ada habisnya untuk ditelusuri. Kamu yang suka wisata sejarah atau heritage tak akan melewatkan tempat yang satu ini, Masjid Al Mashun.

Pembangunan Masjid Al- Mashun dimulai pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H) oleh Sultan Ma'mun Al- Rasyid Perkasa Alam Shah, Pemimpin Kesultanan Deli pada masa itu. Secara keseluruhan, pembangunan selesai pada tanggal 10 September tahun 1909, artinya pembangunan membutuhkan waktu 3 tahun lebih.

Masjid Raya Al- Mashun meninggalkan banyak sejarah di dalamnya. Masjid ini berlokasi tak jauh dari pusat kota Medan ini terletak di Jalan Sisingamangaraja No.61 Medan Maimun.

Dilansir dari situs Kemenag, masjid yang luas bangunannya sampai 5.000 meter persegi menelan biaya pembangunan mencapai satu juta Gulden. Kemudian Masjid ini juga ini memiliki daya tampung hingga 1.500 jamaah. Masjid yang dibangun di atas lahan seluas 18.000 kini sudah memasuki usia satu abad lebih, tepatnya berumur 113 Tahun.

Menurut sejarahnya, Sultan Ma'mun Al-Rasyid memang sengaja membangun Masjid ini dengan megah, karena menurut prinsip nya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan Istananya sendiri, yakni Istana Maimun yang berjarak 200m dari Masjid. Kemudian, pembangunan Masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan Ma'mun Al- Rasyid, namun konon katanya Tjong A Fie, tokoh saudagar kaya dari etnis Tionghoa ini pun turut berkontribusi dalam pendanaan pembangunan Masjid Raya ini.

Pada mulanya, arsitek yang merancang bangunan Masjid Raya ini merupakan Van Erp arsitek asal Belanda yang sebelumnya juga merancang Istana Maimun, namun kemudian prosesnya dikerjakan oleh JA Tingdeman. Alasanya karena ketika itu Van Erp dipanggil ke pulau Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bergabung dalam proses restorasi candi Borobudur di Jawa Tengah. Kemudian JA Tingdeman merancang masjid ini dengan denah simetris segi delapan dalam corak bangunan campuran Maroko, Eropa dan Melayu serta Timur Tengah.

Bangunan masjid dibagi menjadi beberapa ruang. Ada tempat wudhu, gerbang masuk, ruang utama, dan menara. Ruang utama, tempat sholat berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat beranda yakni serambi kecil yang menempek menjorok keluar. Di bagian dalam masjid terdapat pilar utama berdiameter 0.60 m yang menjulang tinggi.

Masjid Raya Al- Mashun didominasi warna putih, sekitar bagian pintu-pintu berwarna hijau dan warna hitam pada kubahnya. Pilar-pilar yang terdapat pada setiap sisi bangunan untama mengambil corak khas Cordoba dan spanyol, terutama dengan lekung bagian atas yang berbentuk setengah lingkaran.

Untuk membangun Masjid Raya Al- Mashun banyak dekorasi yang diimpor dari mancanegara seperti marmer dari Italia, kaca patri asal China, dan lampu gantung dari Prancis. Seriap ornamen dihiasi dengan ukiran-ukiran indah bermatif floral atau geometris.Keindahan Masjid Raya Al-Mashun dan Istana Maimun menandakan tingginya peradaban Kesultanan Deli, sebagai suatu kedaulatan etnis Melayu yang sempat berjaya pada zaman lampau.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA