Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 04 Nov 2019 15:12 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Ini Tradisi Menangkap Ikan di Raja Ampat

Liberius Pajo
d'travelers
Foto 1 dari 5
Khadija Nelayan perempuan yang ikut Balobe lema
Khadija Nelayan perempuan yang ikut Balobe lema
detikTravel Community - Balobe, tradisi menangkap ikan yang dilakukan di Raja Ampat ini begitu menarik. Kegiatan ini biasa dilakukan saat bulan gelap.

Jika di Lamalera NTT ada tradisi berburu ikan paus, maka di Teluk Mayalibit Raja Ampat, Papua Barat ada tradisi balobe ikan lema (ikan Kembung). Jadi, bagi wisatawan yang ingin menyaksikan kegiatan Balobe, berkunjunglah ke Kampung Warsambin dan Kampung Lopintol Distrik Teluk Mayalibit.

Selain menyaksikan aktivitas Balobe pada malam hari, kita juga dapat menikmati lezatnya ikan lema bakar ditemani Ubi rebus dan sagu. Pada siang harinya, kita dapat mengeksplorasi spot-spot wisata seputar Teluk Mayalibit, ada Kali Biru dengan airnya berwarna biru, Batu Kelamin, Puncak Indar dengan pemandangannya mirip Piayinemo, dan batu wajah/stone face.

Balobe adalah khazanah kearifan lokal dalam mengelola sumber daya perikanan di perairan Teluk Mayalibit. Kegiatannya sangat unik dan menarik, mudah dan hasilnya sangat memuaskan.

Tradisi ini biasa dilakukan pada saat bulan gelap. Dengan menggunakan peralatan sederhana, perahu yang diterangi lampu petro gas didayung ke tengah perairan yang berada di depan Kampung Lopintol dan Kampung Warsambin.

Cahaya lampu petro gas menarik perhatian segerombolan ikan lema dan ikan jenis lainnya untuk datang mengerumuni sumber cahaya pada bagian depan perahu yang diterangi lampu petro gas. Setelah melihat sudah banyak ikan berkumpul, perahu kemudian didayung secara perlahan menuju ke tepi perairan dangkal, segerombolan ikan lema yang asik bermain di bawah mengikuti cahaya, lalu terjebak di tepi perairan dangkal.
 
Dengan sigap, nelayan turun dari perahu lalu menangkap ikan menggunakan serok atau alat penimba ikan yang terbuat dari jaring. Ikan-ikan tersebut langsung dimasukan dalam cool box yang telah disiapkan dalam perahu.

Tradisi ini hidup di tengah masyarakat Kampung Lopintol dan Kampung Warsambin di Distrik Teluk Mayalibit. Dua kampung bertetangga yang memiliki perbedaan agama.

Lopintol sering disebut Kampung Muslim karena semua warganya beragama muslim sedangkan Warsambin dihuni oleh mayoritas masyarakat beragama Kristen Protestan. Namun masyarakat kedua kampung ini memiliki ikatan kekeluargaan dan kekerabatan yang kuat. Tak ada gaduh atau riuh perpecahan, mereka hidup rukun, damai dan saling menghormati.

"Malam ini saya ikut Balobe," kata Khadija, perempuan paru bayah kelahiran Kampung Lopintol. Ia mengaku dirinya sudah sering Balobe ikan lema sejak kecil. Hampir setiap malam ada sekitar 80 sampai 100 perahu ada di tengah perairan berburu ikan lema.

"Sejak tong kecil sudah biasa melaut, ikut balobe," ujar Khadija
Kegiatan Balobe merupakan tradisi yang diwariskan para leluhur sejak puluhan tahun lalu. Menurut Khadija harga ikan lema per ekornya Rp. 2000. Jika hasil balobe mencapai 1000 ekor ikan lema maka ia bisa mendapatkan uang 2 juta rupiah.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA