Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 11 Des 2019 14:51 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sebuah Surat Cinta dari Maluku

ANNISA AULIA
d'travelers
Foto 1 dari 5
Anak-anak yang disayang gelombang.
Anak-anak yang disayang gelombang.
detikTravel Community - Indonesia timur selalu bikin wisatawan jatuh hati. Ini sebuah surat cinta dan pesan dari Maluku.

Sedikit bercerita tentang tanah timur Indonesia, saya pernah merantau disana selama 10 bulan. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan di sana bersama pribumi di pulau Maluku.

Warga di sana sebagian pekerjaannya adalah nelayan, dan mereka sangat antusias sekali untuk selalu menjaga lautnya dari sampah plastik. Karena bagi mereka sampah plastik akan membahayakan ikan-ikan yang mereka ambil.

"Kalau ikan-ikan di laut mati karena sampah-sampah plastik, lalu apa yang akan kami tangkap di laut jika ikan-ikan sudah tidak ada?" ungkap Pace Cale sewaktu mengobrol dengan saya.

Maka dari itu pantai dan laut di Maluku masih sangat asri sekali. Gradasi biru tua lautan dengan biru muda yang jernih, kemudian bernuansa warna sebening kristal. Tempat yang amat menenangkan jiwa.

Dan anak-anak kecilnya pun selalu menghabiskan waktu di pantai dan laut. Mereka bahkan tidak mengenal gadget. Yang mereka pahami hanya perahu kayu, gelombang dan alunan ombak dalam kesehariannya. Saya dibuat takjub oleh warga di pulau Maluku.

"Apa Pace selalu membawa jala?" tanya saya lagi.

"Aku sudah sepakat untuk tidak menjala ikan di pulau ini. Hanya memancing saja," ujar Pace.

Wajah saya heran, lalu bertanya kembali.

"Memangnya kenapa, Pace?"

"Ikan memang melimpah, nak. Namun itu bukan alasan untuk serakah. Tangkap seperlunya saja," Tutur Pace Cale padaku.

Darisitulah saya kagum mendengar kesepakatan diri Pace Cale yang memiliki makna mendalam itu. Dan merubah pandangan saya tentang cara melestarikan kehidupan alam.

Pace Cale tinggal di satu desa bernama negeri Morella. Unik bukan? Ada negeri di dalam negeri. Tidak ada bosannya saya ke desa ini. Mayoritas di desa ini tinggal di tepi laut.

Tidak terbayang bagaimana indahnya hidup mereka setiap hari, kalau mau mandi saja tinggal snorkeling bersama kawan-kawannya di dalam laut sana.

Jangan diragukan lagi soal keasrian lautnya. Bahkan ikan yang sedang berbahagia dengan keluarganya di laut sana saja terlihat oleh kami.

Kebetulan Pace Cale memiliki warung makan dan menyewakan perahu papan. Untuk yang ingin snorkeling di sini, beliau hanya menyewakan pelampung dan masker snorkel saja.

Menurut saya, akan kurang rasanya jika berkunjung ke negeri Morella tanpa bertemu dengan Pace Cale. Sebab selalu terselip pelajaran hidup yang didapatkan dari beliau.

Anak-anak kecil di sini mengingatkan saya pada sebuah arti persahabatan, yang seumpama laut dan pasir. Mereka begitu disayang oleh gelombang. Bersama-sama menghadapi pecahan ombak. Bersama-sama menghadapi lelehan senja, dan saling melengkapi dari masa ke masa.

Dan sekarang saya tahu. Alam bukanlah tempat untuk dikunjungi, tapi adalah rumah. Ah, bicara soal rumah memang panjang urusannya. Tapi yang pasti, untuk memudahkan perjalanan ke Maluku ada Tiket.com yang bisa diandalkan.

Sekian artikel singkat yang saya tulis dengan sengaja ini untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia agar selalu menjaga negeri tercinta, karena akan lebih bermanfaat jika kita menikmati keindahan Indonesia sembari menjaganya pula.

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA