Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 09 Jan 2020 14:48 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pengalaman Traveling ke 7 Negara Secara Gratis

Rizal Bayu
d'travelers
Foto 1 dari 5
Intercultural Exchange, Istanbul, Turkey. Februari  2019pertama keluar negeri dengan tampilan ala kadarnya  di penghujung musim dingin.
Intercultural Exchange, Istanbul, Turkey. Februari 2019pertama keluar negeri dengan tampilan ala kadarnya di penghujung musim dingin.
detikTravel Community - Siapa bilang mahasiswa tidak bisa traveling ke luar negeri? Kamu juga bisa, bahkan gratis. Asalkan kamu tahu caranya dan mau berusaha.

Dalam dua semester pertamaku, aku berhasil mengunjungi 7 negara secara gratis. Hal ini aku dapatkan dengan cara menjadi delegasi kampus untuk ikut serta dalam beraneka ragam kegiatan internasional seperti kompetisi, konferensi atau pertukaran pelajar dan kegiatan relawan internasional.

Anggap aja ketika temen-temen baca cerita ini, aku masih nol banget gak tau apa apa. Yup mari mulai dari kapan aku masuk kampus. 2018 lalu bulan Agustus tepatnya.

Setelah melahap lusinan kertas ujian masuk di setiap kampus negri maupun swasta, kuputuskan untuk menaruh masa depanku di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Kota pelajar yang satu ini emang beda banget sih dari kota-kota lainya.

Dimana yang harusnya aku ngerasa agak was-was di tempat perantauan, tapi justru malah jadi tempatku yang paling nyaman. Pastinya juga adalah awal dari semua pencapaianku yang akan kuceritakan ke temen-temen semua.

Masa ospek pun datang. Baju putih dan pernak-pernik aneh menjadi pemandangan yang biasa ketika menjabat di hari pertama menjadi mahasiswa. Yup, harga diri dan moralitas kalian benar-benar dijatuhkan di sini.

"Kenapa terlambat. lari 3 puteran" teriak salah satu seniorku.

Dua hari masa orientasi studi pengenalan kampus tak terasa berakhir. Pulang dengan membawa sejuta pilu, tawa dan mungkin juga ada yang sedikit kecewa karena gagal modus sama adek tingkatnya.

Sebulan berlalu. Aku ngerasa kok ga ada yang waw gitu yah jadi mahasiswa, biasa aja gitu. Rutinitas kampus-kantin-kost terus berulang selama sebulan.

Sampai di bulan kedua aku melihat salah satu postingan di Instagram kampus. Ada mahasiswa yang baru aja memenangkan Paper Competition di Norwegia. Langsung jiwa penasaranku meluap.

3 hari aku dm berulang kali si admin Instagram kampus karena gak dibales-bales. Yah, wajar aja sih. Follower gak nyampe jumlah hari setahun aja berani dm akun kampus yang di akhir angkanya ada huruf "K". Entah mengapa aku kok gak sadar.

"Oh iya ya. kan di caption ada Ig si mas mas nya. hehehe" sambil ketawa sendiri di kantin. Aku langsung dm si mas-mas yang baru aja menang tersebut. Bingo.

Masnya jawab dan kasih no. WA nya ke aku. Langsung ku serbu dengan pertanyaan yang intinya gimana caranya aku juga bisa kaya dia, keluar negeri walau menjabat sebagai mahasiwa usia dini.

Singkat cerita setelah nanya sana-sini, ternyata potensiku bisa keluar negeri 99% positif. Artinya bahwa bukan sesuatu hal yang mustahil buat aku bisa ke luar negri di tahun ini juga, yaitu dengan bantuan dana kemahasiswaan yang disediakan oleh kampus.

Nah buat temen-temen yang sekarang masih kuliah, kalian juga bisa lho kepoin ke staff kemahasiswaan kampus kalian masing-masing. Tapi ternyata ada syaratnya buat aku bisa dapetin dana dari kampus.

Aku harus bisa dapetin LOA (Letter OF Aceptance) dari beberapa kegiatan Internasional, yaitu surat tanda bahwa aku telah diterima untuk mengikuti acara yang dituju. Biasanya aku ikut kompetisi bisnis, konferensi atau mungkin hanya sekedar volunteer dan camp.

Setelah LOA di tangan, langsung aku bikin proposal pengajuan dana ke kampus dan gak sampe 2 minggu uang udah di tangan. Gak pikir panjang, hari itu juga aku beli tiket pesawat, visa, dan hotel.

Karena kebetulan negara yang aku kunjungi pertama yaitu Turki, jadi gak perlu repot-repot ke kedutaan buat bikin visa. Cukup online dan transfer uang, visa dikirim lewat email 1x24 jam.

Februari tgl 2 pas liburan semester satu, aku berhasi injakan kaki di tanah Ustmani Istanbul, Turki. Bermodal daftar acara pertukaran budaya yang diadakan oleh salah satu institusi pengembangan budaya di Istanbul University, cita-citaku menghirup udara di musim dingin terwujud.

Bener-bener gak kepikiran bahwa H+4 bulan setelah ospek bisa keluar negeri. Aku bakal ceritain pas aku di Turki dengan segala keparnoan yang kulakukan. Wajar namanya juga first time going abroad.

Balik dari Turki. Aku dapet jatah transit 16 jam di Qatar. Tanpa pikir panjang, aku daftar city tour yang disediakan oleh Hamad International Airport. Wow. Dua negara dalam satu kali berangkat. Lagi-lagi aku senyum-senyum sendiri sambil jalan di depan Yellow doll.

Sebulan setelah itu, kembali lagi LOA ke-2 ku dari salah satu konferensi Internasional yang diadakan oleh PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Korea.

29 Maret 2019. Kembali diriku mendapat kesempatan untuk menginjakan kaki di negeri orang untuk ke-3 kalinya. Bagusnya, aku transit di Malaysia 9 jam. 2 Negara dalam satu perjalanan kembali kuraih dalam kesempatan ini.

Tanggal 30 Maret 2019 pukul 06:32, kuinjakan kaki di kota Busan. Salah satu kota yang terkenal dengan film drama bergenre horor 'Train to Busan'.

Pas keluar di bandara ngelihat tulisan Busan gak pikir panjang ambil foto dan langsung pasang status Instagram. Sambil edit tanbahin kata Trains To-Busan. Sontak gak sampe 5 menit replied story ku ramai. "Wah awas zal, dimakan zombie lho,"

Belum genap setengah bulan, LOA ke-3 ku mendarat di halaman pesan surelku. Ketika itu pukul 5 pagi. Ternyata dari negeri Tirai Bambu. Acara konferensi internasional yang diadakan oleh PPI Tiongkok. Acara ini diadakan di Tianjin University.

Karena penyelenggara acaranya hampir 90% dari orang Indonesia aku gak begitu tegang. Karena masih ada kesmepatan kalo aku gak paham bisa nanya pake bahasa Indonesia.

Kebetulan banget acara ni pas bulan puasa. Jadi aku sebagai orang muslim di satu sisi terbantu untuk tidak banyak makan dan mengeluarkan biaya konsumsi. Namun di satu sisi tersiksa batin karena harus melihat masakan dan kuliner yang lezat di pinggiran jalan dari Beijing menuju Tianjin.

Huh. Kapok deh aku ke China pas puasa. Ditambah aku jalan ke Great Wall siang bolong jam 12 pas matahari dia atas kepala. Hampir aja batal gara-gara liat orang jual es di pintu masuk beli karcis.

Sepulang dari China lagi-lagi keberuntungan berpihak padaku dengan penetrasi 3 surel sekaligus, yaitu business plan competition di Malaka Multimedia University, International Conference di Thailand dan Busines Case Competition di Bali. Semauanya gratis dikasih uang sama kampus.

Ke Malaysia bulan Agustus, ke Bali bulan September ke Thailand sekaligus transit di Singapore menjadi cerita halaman paling belakangku negara ke-7 yang aku kunjungi pada tahun ini dan sekaligus negara tempat aku nulis semua ceritaku yang sedang kalian baca saat ini.

Semoga kalian termotivasi dan bisa mengikuti jejak bahwa buat ke luar negeri gak harus punya uang dan gak harus orang kaya. Asalkan ada kemauan pasti ada jalan.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA