Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 04 Jan 2020 15:28 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pulau Badi di Makassar yang Perlu Kamu Tahu

lisvi padlilah
d'travelers
Foto 1 dari 5
Seperti Pasar Malam: Pemandangan laut di sekeliling Pulau Badi menyerupai pasar malam
Seperti Pasar Malam: Pemandangan laut di sekeliling Pulau Badi menyerupai pasar malam
detikTravel Community - Jakarta punya Kepulauan Seribu, maka Makassar punya Pulau Bedi. Destinasi ini cocok untuk liburan singkat di Makassar. Yuk!

Bagi masyarakat urban, rutinitas dan kemacetan sering memicu stres. Liburan ingin dilakukan tapi waktu tak cukup. Jika Jakarta punya Kepulauan Seribu, Makassar ada Pulau Badi sebagai destinasi short escape. Bujet sangat ekonomis waktu pun minimalis. Super praktis.

Nanti, kalau sudah gelap, pemandangan laut seperti pasar malam dari sini, kata Daeng Akum, penduduk pulau Badi, Kepulauan Pangkajene, Sulawesi Selatan yang mengijinkanku menginap di rumahnya sambil menunjuk ke arah Barat pulau. Menunjuk lautan lepas.

Dud dud dud.... tak lama suara-suara motor diesel dari jolor dan kapal kayu yang lebih besar dari jolor mulai terdengar. Nelayan Pulau Badi mulai terlihat bertolak dari dermaga-dermaga pulau menuju laut menjelang maghrib. Tepat sebelum matahari benar-benar terbenam dan langit digantikan terangnya gugus galaksi bima sakti yang perlahan datang dan secara magis menghipnotis.

Mereka berangkat berdua, bertiga, atau lebih. Tetapi jarang yang melaut sendirian. Para nelayan pantang tidak melaut meski ombak sedang besar. Tetapi jika memang cuaca buruk, mereka harus terima dipaksa pulang lebih cepat demi tetap selamat walaupun hasil pancingan sedikit bahkan belum dapat.


Apa yang dibilang Pak Akum pun terjadi. Setelah matahari benar-benar tenggelam, dan kapal-kapal nelayan pencari cumi-cumi dan ikan sudah di laut, lampu-lampu dari kapal dan jolor (perahu kecil) mereka pun mulai menyala. Tidak monokrom hitam dan putih, tetapi warna-warni.

Kuning, hijau, merah, hingga biru Persis pasar malam tetapi terapung yang gemerlap. Kilaunya berkelap-kerlip syadu. Ditamabah deru suara motor mesin perahu, lengkap sudah suasana pasar malam. Hanya saja tidak ada tawa atau tangis anak-anak saat menaiki bianglala.

Oh ya, selama menunggu pemandangan pasar malam, menikmati senja di sana adalah yang terbaik. Anak-anak Pulau Badi tak jarang main di bibir pantai, mandi dan lari-lari. Karena kuamati, mereka pun dengan senang hati melakukan gerakan akrobatik seperti salto.

Mengajak bercengkrama dengan bahasa Makassar yang tak kupahami. Jangan lewatkan kesempatan untuk memotret senja dan pemandangan sekitarnya. Foto siluet anak-anak pun jadi semakin menarik lho.

Pesona pulau Badi bukan cuma itu. Jika sedang tidak pergantian musim (manson) sekitar Oktober sampai November yang membuat ombak bergulung-gulung lebih kencang, ada petualangan yang sayang dilewatkan. Yakni ikut mancing ikan dan cumi dengan para nelayan. Selain menyenangkan, mancing tengah malam juga menantang. Kegiatan yang umum dilakukan wisatawan saat ke pulau Badi.

Pulang dari memancing, sekitar pukul 2 dini hari hingga subuh, beberapa orang biasanya sudah menyalakan api unggun kecil di bibir pantai. Di belakang rumah warga. Sambil menghangatkan badan, mereka membakar beberapa hasil tangkapan dan saling bercerita tentang kabar kerabat maupun kawan. Suasana semakin menyenangkan.

Sayangnya, aku dan tiga teman lainnya tidak sempat merasakan bakar-bakar malam itu, karena terlalu capek dan tertidur sampai subuh. Barulah sekitar jam enam pagi, pak Akum membakarkan cumi-cumi dan ikan tangkapannya semalam sebagai sarapan. Dengan bumbu pelengkap air garam.

Tidak ada sambal, hanya beberapa potongan cabai di dalam air garam. Itu saja. Tetapi, karena memang sari laut sudah nikmat dan manis bahkan tanpa bumbu, tidak jadi soal. Kami tetap lahap menyantap.

Tepat pukul tujuh, pak Unding dan tiga orang kawannya yang menyediakan jasa transportasi dari dan ke Pulau Badi bersiap menuju pelabuhan Paotere Makassar.

Selain membawa penumpang yang akan ke Makassar, biasanya para pekerja dan pelajar, pak Unding juga mengangkut hasil tangkapan nelayan untuk dibawa ke pasar pelelangan ikan.

Jadwal kapal yang pergi ke Pulau Badi hanya ada siang antara pukul 12.00 Wita hingga 13.00 Wita, wisatawan akan sampai di pulau menjelang sore. Sekitar 45 menit saja ditempuh dengan kapal sedang milik Pak Unding atau sekitar satu jam dengan jolor, tetapi sangat tidak disarankan bagi yang tidak biasa karena goncangannya akan lebih kencang dan berptensi mengocok isi perut.

Selagi di kapal, Anda bisa tidur di geladak dengan posisi senyaman mungkin. Tarif menumpang kapal perorang hanya Rp 15.000 saja. Sedangkan jadwal ke Pelabuhan Paotere dari Pulau Badi tepat pukul 07.00 Wita.


Oh ya, saat siang hari, aktifitas terbaik yang bisa dilakukan di Pulau Badi adalah snorkeling baik di pinggir pulau atau minta diantar nelayan ke spot terbaik yang ada di sana. Sebaiknya, Anda membawa peralatan sendiri. Tetapi, jika kebetulan tidak membawa perlengkapan, nelayan dengen murah hati meminjamkan alat-alat berenang sederhananya.

Tidak mewah, tapi masih bisa berfungsi baik untuk mengamati pemandangan bawah lautnya. Kalau tidak merasa enak, cukup berikan uang sebagai tanda terimakasih.

Secara profesional, Pulau Badi memang bukan tujuan wisata. Pulau tersebut juga terhitung padat penduduk, termasuk banyak kambing, haha. Jadi, sensasi berlibur di Pulau Badi akan terasa sangat organik: menginap dan makan di rumah warga dengan harga yang terjangkau. Demikian juga untuk pemandu wisata, semua bisa jadi guide sukarelawan.

Karenanya, tidak salah juga kalau melakukan tur kampung. Berkeliling dan bersosialisasi dengan warga. Mencoba menikmati hidup sehari di pulau kecil yang tidak seriuh kota tetapi dekat saja jaraknya.
Nah, jika Jakarta punya Kepulauan Seribu, Makassar dianugerahi pulau-pulau kecil seperti Badi. Sebuah tempat untuk bisa menyingkir sejenak dari rutinintas kota yang melelahkan dan menjemukan.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA