Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 11 Mar 2020 15:49 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Nami Island, Pulau di Korea Selatan yang Ramah Muslim

Dwi Esti Kurniasih
d'travelers
Foto 1 dari 5
detikTravel Community -

Pulau Nami di Korea Selatan menjadi semakin populer setelah booming film Winter Sonata. Pulau itu cukup ramah untuk traveler muslim.

Pulau Nami beerjarak 63 km dari Seoul, ibu kota Korea Selatan. Pulau itu digarap dengan serius sebagai destinasi wisata setelah mendapatkan atensi luar biasa dengan larisnya film Winter Sonata.

Kepopuleran Pulau Nami juga menjadi booster perkembangan wisata di sekitarnya seperti Jarasum, Geumdae-ri Hall, Interactive Art Museum, Petite France hingga Morning Calm Arboretum.

Tempat-tempat tersebut, bersama dengan Nami Island dan beberapa tujuan wisata lainnya, diintegrasikan oleh moda transportasi berupa shuttle bus dan disebut dengan Gapyeong Tourist Resort. Shuttle bus beroperasi dengan jadwal tertentu dan bisa diakses dari Gapyeong Terminal, Gapyeong Station Terminal, Mok-dong Terminal, atau Soerak Terminal.

Dengan membayar 6.000 won kita bisa menggunakan fasilitas bus seharian untuk mengelilingi seluruh tujuan wisata di Gapyeong, jadi jangan sampai kehilangan tiket bus yang bisa kita beli langsung dari driver untuk ditunjukkan tiap kita naik bus.

Jika ingin memaksimalkan jumlah obyek yang bisa dikunjungi, disarankan untuk memulai tour di keberangkatan bus paling awal yaitu pukul 9:00 dari Gapyeong Station Terminal. Namun jika tidak ingin terlalu sering singgah dan dikejar waktu untuk menikmati tujuan wisata, cukup mengunjungi Nami Island dan menghabiskan seharian di sana adalah pilihan yang tepat.

Apabila kita berangkat menggunakan shuttle bus dari Gapyeong Station Terminal, Nami Island adalah pemberhentian paling awal. Biasanya ada tour guide di bus yang menjelaskan tentang lokasi pemberhentian dan rute bus, baik dalam bahasa Korea maupun bahasa Inggris.

Shuttle bus hanya mengantarkan kita di bus stop terdekat dengan lokasi penyeberangan, untuk sampai di Nami Island kita harus mengikuti prosedur lanjutan guna mengakses feri yang berangkat tiap 10 sampai 20 menit.

Nami Island dideklarasikan merdeka secara budaya dan disebut dengan Republik Naminara. Seperti halnya masuk ke sebuah negara, untuk mencapai pulau ini pengunjung diminta mengurus visa. Walaupun pada kenyataannya visa tersebut lebih mirip tiket masuk tempat wisata karena tidak diperlukan persyaratan apapun untuk memperolehnya kecuali dengan membayar sejumlah uang.

Visa reguler dipatok seharga 13.000 won, sementara untuk pelajar maupun lansia usia 70 tahun ke atas mendapat diskon dan cukup membayar 10.000 won. Biaya visa untuk anak-anak hingga usia Sekolah Dasar adalah 7000 won, sedangkan usia 3 tahun ke bawah gratis. Harga tersebut sudah termasuk biaya penyeberangan ke pulau Nami menggunakan kapal feri.

Sebelum memasuki dermaga untuk menyeberang, pengunjung yang sudah mendapatkan visa akan melewati sebuah gerbang bertuliskan "Immigration".

Petugas "imigrasi" akan memeriksa visa dan menyobek setengah bagian kemudian mempersilakan kita masuk ke feri. Hanya perlu waktu tak lebih dari 5 menit untuk sampai di Nami Island. Setelah keluar dari feri, kita akan disambut dengan gapura bertuliskan "Welcome to Naminara Republic".

Pulau dengan area seluas 460.000 m2 ini menyediakan berbagai fasilitas menarik termasuk di dalamnya restoran halal dan prayer room yang terintegrasi dengan nursing room dan international children's library.

Tidak seperti prayer room kebanyakan yang sempit dan hanya cukup untuk beberapa orang saja, prayer room di Nami Island tak ubahnya seperti mushola di Indonesia. Ruangannya luas, bersih dan nyaman. Rest room di dekat prayer room juga dilengkapi dengan bidet, fasilitas yang sulit sekali ditemui di toilet umum lain di Korea.

Prayer room ini berada di lantai kedua di bangunan yang sama dengan nursing room, bersebelahan dengan International Children's library yang konsepnya sangat menarik. Bukan hanya menyediakan buku anak dari berbagai belahan dunia, perpustakaan tersebut juga menyuguhkan tata ruang yang sangat apik.

Demikian pula dengan nursing room di lantai pertama, warna-warni yang cerah mendominasi ruangan menjadikan tempat tersebut sangat instagramable. Beberapa fasilitas untuk permainan anak juga disediakan. Akan sangat sulit menahan diri untuk tidak berfoto di area tersebut.

Suasana yang sangat nyaman di area prayer room ini adalah privilege yang sulit didapatkan di tujuan wisata lain terutama di negeri minoritas muslim. Biasanya sekedar mencari tempat yang tepat untuk menggelar sajadah saja sulit dilakukan.

Selain itu, baik di Nami Island maupun di daerah sekitar tempat penyeberangan cukup mudah mendapatkan tempat makan yang muslim friendly. Beberapa bahkan mencantumkan dengan jelas label halal.

Kondisi tersebut sebenarnya tak lepas dari banyaknya wisatawan dari Indonesia, Malaysia dan negara mayoritas muslim lain yang berkunjung ke Korea. Situasi yang dilihat sebagai peluang bisnis oleh para pelaku usaha khususnya di Korea. Mereka berlomba menawarkan kenyamanan bagi wisatawan muslim.

Proporsi penduduk muslim dunia yang lebih dari 20% tentu pasar yang menarik bagi mereka. Meski demikian, wisatawan muslim perlu juga berhati-hati karena tidak jarang situasi ini dimanfaatkan oleh para oportunis untuk mengambil keuntungan.

Beberapa penjual makanan pinggir jalan di Korea tampak mencetak sendiri tulisan halal untuk ditempel di etalase mereka. Coba tanyakan apa yang dimaksud halal pada penjual tersebut, sebagian dari mereka bahkan tidak tahu syarat apa yang harus dipenuhi agar makanan bisa disebut halal.

Tempat makanan yang benar-benar tersertifikasi halal akan mencantumkan atau setidaknya bisa menunjukkan nomor registrasi dan nama badan yang mengeluarkan sertifikat halal untuk restoran mereka.

Jadi, meski sudah banyak kemudahan untuk menemukan tempat makan berlabel halal di Korea, tetap hati-hati ya geng!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA