Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 13 Jan 2020 14:15 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sipora, Si Cantik di Sumatera Barat

Wiwit Prasetyono
d'travelers
Foto 3 dari 5
Mata Air di Desa Goiso Oinan, Pulau Sipora, Kab. Mentawai
Mata Air di Desa Goiso Oinan, Pulau Sipora, Kab. Mentawai
detikTravel Community -

Kabupaten Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat diberkahi gugusan pulau yang cantik. Salah satunya adalah Sipora.

Jarak antara Padang dengan Tua Pejat, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Mentawai, dapat ditempuh selama 4-5 jam perjalanan laut. Waktu tempuh tersebut dicapai dengan fast ferry seharga Rp 250.000 sekali jalan. Apabila menggunakan kapal Pelni yang harganya lebih murah, waktu tempuh yang diperlukan mencapai 12 jam.

Pagi itu saya berangkat tepat pukul 07.00 dari Pelabuhan Muara di Kota Padang, dan tiba di Tua Pejat menjelang pukul 12.00. Di tengah perjalanan kapal ferry sempat berhenti selama kurang lebih 30 menit di Pelabuhan Sioban yang sama-sama terletak di Pulau Sipora, satu dari empat pulau utama di Mentawai.

Kabupaten Kepulauan Mentawai berada di dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat. Terdapat empat pulau besar diantara lebih dari 100 pulau di wilayah yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Pariaman pada tahun 1999. Empat pulau besar yang berada di Samudera Hindia tersebut diantaranya adalah Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan.

Jumlah penduduk terbesar berada di Pulau Siberut yang dibagi ke dalam 5 Kecamatan. Berikutnya menyusul Sipora (2 Kecamatan), Pagai Utara (2 Kecamatan), dan Pagai Selatan (1 Kecamatan). Ibukota Kabupaten ditetapkan di Pulau Sipora karena letaknya yang di tengah-tengah. Sekaligus, karena terdapat infrastruktur jalan yang mengubungkan Tua Pejat di bagian utara hingga Sioban di bagian selatan. Infrastruktur jalan ini kabarnya dibangun untuk akses angkutan pabrik kayu yang beroperasi sejak jaman Orde Baru. Berdasarkan catatan sejarah, para penjajah sudah masuk ke Mentawai sejak pertengahan tahun 1700-an.

Sejak berangkat dari Padang, saya tidak menyiapkan informasi sama sekali tentang situasi Sipora. Yang ada justru saya bahagia karena sebentar lagi akan berada dalam zona susah sinyal. Memang sudah diniatkan untuk istirahat sejenak dari segala urusan pekerjaan. Dengan demikian, alasan untuk slow response sangat bisa diterima oleh para kolega.

Begitu mendarat yang saya lakukan adalah berjalan kaki ke luar pelabuhan. Niat saya mau mencari tempat makan sambil tanya-tanya orang tentang destinasi atau penginapan yang tersedia di sana. Namun, setelah kurang lebih berjalan menanjak sejauh 2km, nampaknya tidak ada banyak warung yang buka.

Juga tidak terlihat adanya ramai penginapan. Saya lupa kalau saat itu adalah Hari Minggu. Toko-toko tutup, begitu juga kantor-kantor pemerintahan. Sedang provider di hape saya tidak berfungsi.

Expect the unexpected, pilihan dijatuhkan untuk cari toko yang menjual SIM card Telkomsel. Gugur sudah harapan saya untuk terapi anti-koneksi. Di sisi lain, saya bisa browsing sedikit, dan tidak lupa update Instastory. Dalam situasi serba tak pasti, saya berhenti sejenak di dekat toko seluler di sekitar Pelabuhan Tua Pejat.

Sepertinya sedang musim durian, sehingga satu buah dijajakan hanya Rp 10.000 saja. Setelah ditawar, harganya jadi Rp 8.000. Kalau beli 7 harganya Rp 50.000. Harga tersebut tentu hanya dapat satu kalau belinya di Jawa. Ukuran durian sedang, tetapi isinya manis semua. Ada yang kuning ada yang berwarna putih mentega.

Sambil menikmati durian Sipora, saya mengamati bahwa pusat keramaian Tua pejat ada di sekitar dermaga. Ada banyak toko, beberapa penginapan, masjid, gereja dan pangkalan ojek atau kendaraan menuju lokasi lain di Tua Pejat. Di tempat ojek saya menyewa motor untuk melihat-lihat Tuapejat.

Dari Pangkalan Ojek di kilometer nol, keramaian berada di sepanjang jalan menuju ke arah yang lebih tinggi. Di kanan-kiri jalan ada pemukiman, kantor pemerintahan, dan warung-warung yang tidak terlalu ramai. Jalan beton akan terus tersambung hingga bagian selatan pulau, sementara itu di km 9 terdapat kompleks Kepolisian & Rumah Dinas Bupati. Kompleks tersebut nampak luas tapi tidak banyak keramaian di sekitarnya.

Tidak jauh dari dermaga, ada Pantai Jati yang berada dekat dengan pemukiman warga. Banyak turis lokal yang bersantai di pinggir pantai, sementara di tengah lautan terlihat sampan nelayan pencari ikan. Bergerak menuju kilometer empat, terdapat Pantai Mapadegat yang situasi nya lebih tenang.

Sepanjang jalan menuju pantai ada ladang-ladang yang dikelola masyarakat Sipora. Di ujung jalan beton yang kelihatan masih baru itu, ada area luas dengan bangunan rumah panjang bergaya tradisional dan gubug-gubug tempat berjualan makanan. Pantai Mapadegat membentang di belakang gubug dengan pasir berwarna putih mengikuti liukan-liukan garis pulau.

Sore itu ombak tenang, air laut dengan berbagai lapisan warna biru yang jernih membentang mengililingi pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di pulau-pulau tersebut ada beberapa resort kelas dunia yang menawarkan penginapan dengan fasilitas olah raga air seperti surfing, single paddle board atau snorkeling.

Saya menghabiskan penghujung tahun 2019 di Sipora. Setelah survei dengan motor rental, saya memutuskan menginap di Homestay Arthur yang terletak dekat Pantai Mapadegat. Tarifnya hanya Rp 150.000/malam, tetapi disana saya bertemu peselancar dari Perancis, ahli zoologi dari Republik Ceko, dan seorang turis dari Selandia Baru.

Kami berbagi cerita tentang surfing, hewan & tanaman endemik, atau budaya lokal di pulau sekitar. Para staf homestay adalah pemuda lokal yang jago berselancar dan berbahasa Inggris. Setiap malam kami memasak bersama, dan berbagi buah-buahan lokal seperti mangga, kelapa, pisang atau nanas. Semua ibarat saudara, yang dipertemukan di Pulau Sipora.

Disamping potensi alam dan berbagai keindahan Mentawai, ada satu hal yang melekat dengan daerah ini khususnya terakit bencana. Pada tahun 2010 pernah terjadi gempa berkekuatan lebih dari 7 SR yang menyebabkan tsunami di dekat Sikakap, Pagai Utara. Belum lagi terkait prediksi megathrust di sepanjang pantai barat Sumatera hingga Jawa-Bali yang berpotensi menyebabkan gempa besar. Di beberapa tempat di Sipora saat ini sudah terdapat banyak informasi dan petunjuk evakuasi.

Di Pantai Mapadegat sendiri sedang ada proyek terkait pemasangan alat pendeteksi tsunami yang dilakukan BPPT & ITB. Terus terang memang sempat was-was ketika memutuskan akan berlibur ke Mentawai. Namun demikian, bukankah bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja? Dalam hal ini kewaspadaan kita lah yang lebih utama. Mengenali lokasi, memperhatikan setiap informasi, membangun komunikasi dengan keluarga dan orang sekitar, tentunya bisa kita lakukan untuk membangun kesiapsiagaan. Liburan aman dan nyaman tentu bisa kita wujudkan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA