Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 14 Jan 2020 14:46 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Melihat Cara Hidup Orang Mentawai yang Masih Tradisional

Wiwit Prasetyono
d'travelers
Foto 4 dari 5
Sikerei Membaur dengan Warga Siberut
Sikerei Membaur dengan Warga Siberut
detikTravel Community - Mentawai punya dereta alam yang indah. Siapa sangka, orang-orang Mentawai masih hidup dengan cara tradisional.

Setelah menyeberang dengan kapal ferry biasa antar pulau bernama KMP. Nade selama 6 jam, tibalah saya di Pelabuhan Mailepet, Siberut Selatan. Perjalan berikutnya kami lanjutkan dengan motor menuju Desa Balapak-Gotap, Saliguma, Siberut Tengah.

Jalanan beton yang baru dibangun tahun ini mungkin baru jadi sekitar 3-5 km. Nasib baik hari itu tidak hujan. Kami melanjutkan perjalanan di atas jalan tanah bakal jalur Trans Mentawai selama kurang lebih 35 menit.

Selama ini, masyarakat Siberut Tengah biasa berjalan kaki menuju Kota Kecamatan, Muara Siberut, di dekat pelabuhan. Kalau tidak jalan kaki, sarana transportasi utamanya adalah sampan atau perahu motor kecil yang disebut pong-pong.

Di Siberut koneksi internet benar-benar sulit. Jaringan Telkomsel hanya mampu digunakan untuk berkirim SMS. Untuk memenuhi kebutuhan akan koneksi, ada beberapa titik pemancar wifi yang masyarakat bisa gunakan untuk mendapatkan data internet. Di Dusun Gotap, tempat saya akan menghabiskan tahun baru, sinyal internet betul-betul tidak tersedia.

Di Dusun, aktivitas utama masyarakat adalah memenuhi kebutuhan pokok. Tidak ada pertanian budidaya disana. Informasi yang saya dapatkan, tidak ada juga profesi nelayan atau tukang yang tetap. Pekerjaan penduduk umumnya tidak menentu.

Sehari-hari masyarakat mencari sagu yang digunakan sebagai makanan pokok atau hasil hutan lainnya seperti pisang, kelapa, keladi, ubi, dan cengkeh. Selain itu juga mereka mencari kayu atau bambu yang digunakan untuk memasak.

Dalam hal memasak, sagu tidak dibuat menyerupai adonan lem atau papeda di Indonesia bagian timur. Di Mentawai, tepung sagu dimasukkan ke dalam bambu atau daun sagu dan kemudian dibakar di atas bara.

Begitu juga lauk pauknya, ikan atau ayam dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam bambu kemudian dibakar. Cara memasak lauk ini sekaligus juga merupakan proses pengawetan. Tidak jarang ketika suatu rumah tangga mendapatkan ikan, maka akan diproses ke dalam bambu dan bisa dihangatkan untuk dikonsumsi selama 10 hari ke depan.

Sesekali cara memasak lauk disana adalah dengan dibuat gulai kuning dengan santan dan parutan lengkuas. Walaupun demikian, bumbu yang digunakan terbilang sangat sederhana. Kalau ada daging babi, sapi, atau rusa pun cukup direbus saja.

Setiap waktu makan, sagu akan dicelupkan ke dalam kuah ikan atau rebusan daging dan kemudian dimakan dengan lauk yang ada. Sambal tidak begitu mendominasi makanan Mentawai. Dengan cara bersantap seperti ini, rasa asli setiap bahan makanan masih dapat kita identifikasi. Dalam bayangan saya, nutrisi dari makanan juga mungkin masih sangat terjaga.

Buktinya, dalam dua dusun yang dihuni sekitar 400-an orang ini tidak ada orang yang berperut buncit. Baik laki-laki maupun perempuan umumnya berkulit terang menawan dengan otot yang nampak kuat. Satu hal lagi, masyarakat di sini tidak mengunyah sirih. Umumnya gigi mereka bersih. Yang tua-tua banyak yang bergigi gelap karena kebiasaan merokok yang kuat.

Setiap sore di Desa Gotap masyarakat berkumpul di dekat lapangan. Laki-laki dewasa umumnya bermain bola kaki atau volley. Perempuan muda dan dewasa bermain volley, remaja bermain sepak takraw dan anak-anak bebas berlari bermain lompat tali, petak umpet, dan lain sebagainya. Warga senior umumnya hanya duduk-duduk saja, dan bersorak bersama-sama manakala gol tercipta atau bola melambung terlalu tinggi.

Berbicara kelompok tua, masyarakat sangat menghormati Sikerei atau tabib. Sikerei bertugas untuk mengobati masyarakat sekaligus menghubungkan dengan dunia gaib yang dalam kepercayaan asli Siberut dipercaya menjaga hutan, air, dan udara.

Dengan demikian, Sikerei bukanlah dukun ilmu hitam. Sikerei adalah tokoh masyarakat yang dihormati atas komitmennya yang tinggi dalam menjaga alam dan adat Mentawai. Menjadi Sikerei mempunyai konsekuensi yang berat karena berbagai pantang yang harus dijalankan.

Termasuk mengenakan pakaian tradisional dari kulit kayu dan tattoo tradisional yang dikenal dengan nama Tik-Tik Mentawai. Karena beratnya syarat tersebut, saat ini jumlah Sikerei terus menurun. Selain itu, sekarang ini juga ada Sikerei yang tidak mengenakan tattoo lengkap dan sehari-hari berbusana layaknya orang biasa. Namun demikian, pada saat mengobati, mereka harus menjalankan ritual yang sama beratnya.

Awalnya masyarakat Mentawai menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Masuknya agama-agama begitu gencar pada era Orde Baru sehingga saat ini umumnya masyarakat Siberut menganut agama Katolik, Islam, Kristen, bahkan ada juga Bahai.

Yang terakhir ini saya mengenalnya melalui kawan kuliah S2 dahulu. Sungguh terkejut saya menjumpai masyarakat di pedalaman Siberut menganut kepercayaan tersebut. Satu sisi saya melihat, betapa pada suatu masa terdapat aliran penyebaran agama-agama terhadap penduduk Siberut yang dianggap tidak beragama.

Berat bagi saya membayangkan proses dialog yang terjadi antara kepercayaan asli dengan agama-agama tersebut. Yang jelas saat ini tidak asing dijumpai bahwa dalam satu keluarga di Siberut terdapat 2-3 penganut agama.

Satu hal yang berkesan bagi saya adalah perayaan Tahun Baru. Malam hari menyambut tahun baru, masyarakat yang beragama Kristen berkumpul di gereja. Mereka melakukan misa hingga tahun bergulir dari 2019 menuju 2020.

Malam hari pada tanggal 1, masyarakat mulai berkumpul lagi di gereja sekitar jam 22.00 WIB. Kali ini hampir semua penduduk dusun keluar rumah, tidak peduli agama nya apa. Perayaan tahun baru disisi dengan sambutan-sambutan dan pentas seni dari berbagai kelompok usia.

Acara berlangsung hingga subuh. Tidak ada yang mabuk atau membuat keonaran. Semua warga silih berganti menyanyi, menari, dan menghidangkan makanan tanda suka cita akan hadirnya tahun yang baru.

"Kalau untuk makan sehari-hari kebutuhan kami sudah tercukupi. Ada sagu, keladi, pisang atau ikan di hutan. Tetangga kanan kiri juga selalu mau berbagi," ujar salah seorang warga saat berbincang.

Kebutuhan yang membutuhkan biaya tinggi bagi masyarakat Mentawai adalah transportasi dan pendidikan. Dengan situasi tidak adanya pekerjaan tetap, biaya sekolah atau asrama anak-anak Mentawai sering dibayar dengan kelapa, pisang atau hasil hutan lainnya.

Hal ini menunjukkan semangat untuk menuntut ilmu itu tetap menyala. Satu hal yang sekilas saya perhatikan, tidak ada kebutuhan yang tinggi bagi masyarakat Dusun untuk membangun rumah megah atau meningkatkan perekonomian keluarga agar menjadi kaya raya. Semua kembali kepada kebutuhan, dan kebutuhan yang utama pada dasarnya telah tersedia di alam.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA