Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 31 Jul 2020 09:35 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Di Karawang Bisa Lihat Hewan Langka Indonesia

Foto 1 dari 5
Tim
Tim
detikTravel Community -

Karawang punya Gunung Sanggabuana yang berisi satwa-satwa endemik Indonesia. Mulai dari owa jawa sampai macan kumbang hidup di hutan belantara ini.

Tim Ekspedisi Hidupan Liar Sanggabuana yang dimotori oleh Komunitas Pendaki Gunung regional Depok melakukan Sanggabuana Wildlife Expedition di jajaran pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat.

Hasilnya, tim ekspedisi yang menjelajah selama 8 hari di belantara hutan Sanggabuana ini menemukan banyak satwa langka masih berkeliaran di sana.

Gunung Sanggabuana yang mempunyai ketinggian 1.291 m dpl merupakan satu-satunya gunung yang ada di Kabupaten Karawang. Gunung di bawah pengelolaan PT Perhutani ini membentang dari Kabupaten Purwakarta, Karawang, Cianjur dan Bogor di Jawa Barat sepanjang lebih dari 25 km dengan luas sekitar 29.400 hektar.

Ekspedisi ini dimulai dari ujung jajaran pegunungan Sanggabuana di sebelah timur dari Kampung Tipar sampai ke Puncak Gunung Sanggabuana dan Gunung Rungking.

Ekspedisi yang hanya berlangsung selama 8 hari ini tentu saja tidak bisa mengcover semua area. Tapi hasil ekspedisi awal ini sudah menunjukkan keanekaragaman hayati yang ada di Sanggabuana. Perlu dilakukan pendataan ulang dengan tim yang lengkap, termasuk perlengkapannya. Seperti pemasangan kamera jebakan (trap camera), juga bantuan para ahli di bidangnya.

Dalam ekspedisi yang dilakukan pada tanggal 15-22 Juli 2020 ini, dan merupakan trip pertama, tim berhasil melakukan perjumpaan langsung, menemukan jejak, dan merekam secara visual beberapa satwa langka di Gunung Sanggabuana. Beberapa satwa langka yang berhasil diidentifikasi masih berkeliaran di Gunung Sanggabuana diantaranya adalah 4 jenis primata, spesies burung, karnivora besar, mamalia, dan kupu-kupu raja.

Empat primata yang berhasil ditemukan adalah owa jawa (Hylobates moloch), lutung jawa (Trachypitecus auratus), surili (Presbytis comata), dan kera ekor panjang (Macaca fascicularis).

Sedangkan dari keluarga burung berhasil dijumpai rangkong julang emas (Rhyticeros undulatus), elang jawa (Nisaetus bartelsi), puyuh gonggong jawa (Arborophila javanica), ayam hutan hijau (Gallus varius), raja udang (Alcedinidae) takur tohtor (Psilopogon armilaris), takur bututut (Psilopogon corvinus), kipasan bukit (Rhipidura euryura), wergan jawa (Alcippe pyrrhoptera), dan tepus pipi perak (Cyanoderma melanothorax) yang rata-rata merupakan burung endemik.

Ayam hutan dan puyuh gonggong ini tiap pagi bersuara membangunkan tim ekspedisi. Sedangkan burung rangkong tiap pagi dan sore melintas di angkasa.

Dari keluarga kucing besar tim ekspedisi berhasil mendapati banyak sekali jejak macan kumbang/macan tutul (Panthera pardus melas) berupa cakaran tanah, urine dan sisa bulu, dan tapak kakinya.

Selain jejak, di sekitar Curug Cikoleangkak tim ekspedisi juga berhasil melakukan perjumpaan langsung dengan macan kumbang ketika sedang memburu babi hutan.

Babi hutan yang dikejar macan kumbang ini, terguling dari tebing ketika melarikan diri dari pemburunya, dan hampir menabrak salah satu personil tim ekspedisi. Untuk harimau jawa, tim tidak mendapati jejaknya sama sekali. Selain itu kupu-kupu raja (Troides amphrysus) juga masih banyak dijumpai, menemani sepanjang perjalanan.

Selain beberapa satwa langka tersebut, di perjalanan tim ekspedisi juga mendapati masih banyak babi hutan, rusa, kancil atau pelanduk, dan beberapa spesies serangga dan ampibi.

Mendata flora dan fauna yang ada di Gunung Sanggabuana, tim ekspedisi juga memetakan sebaran dan daerah jelajah satwa yang ditemui. Sekaligus membuat peta mitigasi bencana dan peta potensi wisata alam yang ada di sekeliling jajaran pegunungan Sanggabuana.

Namun yang mengejutkan, tim ekspedisi mendapati puluhan hulu sungai yang ada di Sanggabuana kering pada saat pelaksanaan ekspedisi. Juga mendapati banyak sekali area hutan yang sudah mengalami deforestry dan alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang dikelola oleh masyarakat.

Dari warga masyarakat, tim juga mendapat foto seekor macan kumbang yang mati ditembak oleh warga pada pertengahan bulan Mei 2020. Jika perburuan satwa, penebangan hutan, dan alih fungsi lahan dibiarkan secara masif maka beberapa tahun kedepan, gunung yang mempunyai 157 hulu sungai dan hampir separohnya menyumbang suplai air ke waduk Jatiluhur ini bisa musnah.

Dari temuan flora-fauna yang didapat selama ekspedisi ini, tim Sanggabuna Wildlife Epedition merekomendasikan kepada para pemangku kepentingan, baik dari PT Perhutani, Pemkab Karawang, Gubernur Jawa Barat maupun Kementrian KLHK untuk mulai memperhatikan kawasan Gunung Sanggabuana.

Idealnya, pola pengelolaan kawasan ini mulai dirubah, juga status kawasannya. Jajaran pegunungan Sanggabuana yang kaya akan flora-fauna endemik yang langka ini sudah selayaknya dikelola sebagai kawasan konservasi.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA