Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 17 Okt 2020 11:57 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menjajal Rawa Tertinggi di Indonesia

Riyanto Toto
d'travelers
Foto 2 dari 5
Bisa untuk piknik juga
Bisa untuk piknik juga
detikTravel Community -

Rawa Bento di Jambi berada pada ketinggian lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut dan merupakan rawa tertinggi di Indonesia

Kerinci adalah sebuah daerah yang kelilingi oleh Bukit Barisan, merupakan daerah dataran tinggi yang beriklim dingin. Daerah yang terkenal karena pesona keindahan alamnya ini tak pernah berhenti memukau para pengunjung yang menetap lama atau sekedar singgah disini.

Sebagai dataran tinggi dan daerah perbukitan wajar rasanya jika kita terus dibuat kagum dengan kekayaan alam Kerinci yang punya air terjun, bukit, danau tertinggi di asia tenggara, kebun teh terluas di indonesia dan keberagaman bahasa yang unik. Tidak hanya itu Kerinci juga memiliki salah satu Rawa tercantik dan tertinggi di Sumatera, yaitu Rawa Bento.

Minggu kemarin Tim kabar baik kerinci berkesempatan menjelajahi Rawa Bento bersama dengan pihak Bumdes Bento Jaya sebagai pengelola. Rawa Bento merupakan sebuah rawa yang berada dalam kawasan TNKS dan saat ini menjadi salah satu salah satu objek wisata yang sedang viral dikalangan masyarakat Jambi.

Rawa Bento terletak di Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Dapat ditempuh dari Kota Sungai Penuh dengan estimasi perjalanan sekitar 1,5 jam. Di perjalanan menuju tempat ini adalah hamparan kebun teh terluas di Indonesia, yaitu kebun teh Kayu Aro.

Rawa Bento berada pada ketinggian lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut dan merupakan rawa tertinggi di Indonesia yang dipenuhi air tawar dan menjadi habitat burung migran.

Tempat yang kami tuju di rawa ini adalah sebuah lahan hijau yang biasa dijadikan tujuan untuk piknik atau camping bagi pengunjung. Untuk menuju spot ini kami menggunakan perahu kayu yang berkapasitas 10 orang, ditemani oleh pihak Bumdes kami berangkat dari dermaga Bento Jaya di Desa Jernih Jaya.

Setelah menyalakan mesin, perahu kami mulai berjalan menyisir sungai Batang Sangir, yaitu sebuah sungai kecil yang aliran airnya berasal dari sungai-sungai kecil di kaki gunung tujuh. Diawal perjalanan kami disuguhi pemandangan enceng gondok, kayu apu dan Rumput Bento, yakni rumput yang menghuni sebagian besar Rawa ini.

Sesekali kami melihat tanaman enceng gondok yang hanyut atau yang merapat ketengah sungai, menurut Dozer (Ketua Bumdes Bento Jaya) hal itu sangat lumrah karena tanaman enceng gondok itu hanya melekat pada tanah rawa yang rapuh, bahkan tidak jarang eceng gondok disini menutupi seluruh bagian sungai.

Memasuki pertengahan perjalanan kami disuguhi pemandangan kerbau-kerbau milik petani yang sedang makan, lalu ada kelompok-kelompok bangau yang selalu setia di sekitarnya. Hutan lebat dan pohon-pohon besar menjadi pemandangan berikutnya sepanjang perjalanan di pertengahan ini.

Masuk semakin dalam maka sungainya akan semakin luas, pemandangan kali ini akan benar-benar menakjubkan. Hutan lebat, burung-burung migran dan udara yang sejuk, benar-benar membuat kami tak henti berdecak kagum. Beruntung sekali saat kami berangkat cuaca sedang cerah langit biru dan awan putih seolah bersepakat dengan keindahan Rawa Bento.

Menjelang sampai ke lokasi tujuan pemandangannya berubah menjadi daratan-daratan hijau kecil, namun kerbau dan bangau putih tidak pernah absen menemani sepanjang perjalanan, coba saja berteriak di dekat bangau yang sedang mencari makan, maka kita akan menyaksikan sebuah pemandangan menabjubkan, sekelompok bangau putih yang terbang di antara pucuk-pucuk pohon belantara.

Semakin mendekat kami semakin banyak bertemu pemancing di pinggir sungai. Saat itu kami diberitahu bahwa ternyata Sungai Bento memiliki banyak kandungan ikan seperti ikan semah, pareh, saluang dan belut. Maka wajar saja jika sungai ini menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama bagi nelayan yang hidup di sekitar.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit kami sampai di spot piknik yang banyak dikunjungi wisatawan itu. Sebuah dataran hijau yang cukup luas dengan latar pemandangan Gunung Kerinci yang menjulang tinggi, sangat mengesankan karena karena cuaca hari itu benar-benar bersahabat.

Menurut Dozer, selain menjadi tempat piknik, rawa ini juga merupakan salah satu tempat favorit bagi para pengamat burung. Menurut hasil penelitian dan inventarisasi yang dilakukan oleh TNKS bekerja sama dengan Kerinci Birdwatching Club dan mahasiswa, rawa ini merupakan salah satu habitat penting bagi beberapa jenis burung air migran seperti trinil semak, trinil pantai, dan berkik rawa.

Lalu selain burung-burung migran tadi masih ada sedikitnya terdapat 10 jenis burung air lain yang merupakan penghuni tetap dari Rawa Bento. Ditambah sekitar 38 jenis burung lain yang juga menghuni hutan rawa kerdil ini.

Siang itu di Rawa Bento semakin cerah, kami menggelar tikar dan tenda, lalu duduk menikmati udara rawa dan pemandangan Gunung Kerinci yang megah.



BERITA TERKAIT
BACA JUGA