Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 17 Nov 2020 12:42 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Berpetualang ke Air Terjun Tertinggi di Subang Curug Cileat

Foto 3 dari 5
Melewati hutan pegunungan menuju curug cileat
Melewati hutan pegunungan menuju curug cileat
detikTravel Community -

Subang memiliki destinasi wisata yang menyegarkan saat panas, Curug Cileat. Rute menuju air terjun tertinggi se-Subang itu bervariasi, hutan dan perbukitan. 

Berpetualang dan menikmati alam telah menjadi gaya hidup saat ini, dimulai dari mendaki hingga menjelajah hutan belukar. Bagi para petualang yang mencari hutan pegunungan dengan suasana alam yang masih asri dengan trek dan akses yang cukup menantang, Curug Cileat mungkin bisa jadi salah satu pilihan.

Curug yang dalam bahasa Sunda berartikan air terjun, sedangkan Cileat menurut warga sekitar berasal dari kata tiporeat atau terjatuh. Nama tersebut dikaitkan dengan legenda dua pangeran yang saling berlomba namun salah satu pangeran terjatuh di lokasi curug cileat saat ini. Wallahualam.

Curug Cileat terletak di Kabupaten Subang, hanya berjarak 60 kilometer dari Bandung dan dapat dicapai dengan menggunakan transportasi umum dari Terminal Ledeng dan turun di daerah Jalan Cagak. Selanjutnya, Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan ojek hingga ke Desa Cibogo.

Beberapa waktu lalu dalam rangka proyek pribadi, #melihatSubangdaridekat saya berkesempatan untuk menikmati keasrian alam Curug Cileat yang merupakan curug paling tinggi di Kabupaten Subang, sekitar 100-150 meter dengan debit air yang cukup tinggi.

Perjalanan saya lakukan dengan menggunakan motor bersama dua rekan, sekitar 45-60 menit dari pusat kota Subang hingga ke desa Cibogo, jalur terakhir yang bisa dicapai oleh kendaraan bermotor. Sesampainya kami di loket, kami diminta membayar Rp. 10.000/orang dengan biaya parkir sebesar Rp 5.000/roda dua.

Selanjutnya, kami harus menempuh jalan setapak sejauh 9 kilometer, atau sekitar 1-1,5 jam berjalan kaki dengan medan yang cukup menantang. Pada awalnya kami melewati persawahan dan pemukiman lalu setelah itu kami mulai masuk ke area hutan pegunungan.

Di awal perjalanan akan cukup melelahkan karena jalan menanjak dan di beberapa titik cukup curam, namun tidak perlu khawatir karena ada beberapa titik peristirahatan baik yang alami maupun yang memang sengaja dibuat oleh warga sekitar berupa saung. Selain itu, terdapat dua air terjun kecil dengan tinggi sekitar 15-30 meter yang dapat digunakan sebagai tempat beristirahat.

Baru lima belas menit pertama kami sudah mulai kewalahan, akhirnya kami berhenti untuk beristirahan dulu di salah satu saung. Di sana kami bertemu dengan rombongan lain yang terdiri dari seorang ayah dan tiga orang anaknya.

Kami lalu melanjutkan perjalanan dan kembali berisitirahan di air terjun pertama sambil mencuci muka. Trek dari air terjun pertama hingga kedua masih didominasi dengan tanjakan, namun setelah air terjun kedua kami bisa sedikit bernafas lega karena jalan landau meski sempit dan diapit oleh ladang.

Titik istirahat terakhir dan menurut saya cukup nyaman adalah di Paniisan Abah Danu, yakni sebuah camping ground yang dibangun bagi para pengunjung yang ingin berkemah.

Fasilitas di camping ground ini cukup lengkap. Seperti, toilet, mushola, dan tentu saja tanah datar yang cukup untuk mendirikan dua tenda. Ada juga warung penjaja makanan ringan dan kopi, namun hanya sampai sore hari saja.

Sebenarnya, ada satu area perkemahan namun belum dikelola secara baik. Poin lebih dari camping ground yang ini adalah lokasinya cukup dekat dari air terjun, hanya 5 hingga 10 menit berjalan kaki.

Kami sempat beristirahat di sini sambil memakan bekal makanan yang kami bawa dan membeli gula aren sebagai cinderamata khas Subang.

Akhirnya setelah hampir berjalan dua jam dengan istirahat, kami sampai di Curug Cileat. Saking tingginya, dari jarak 20 meter kami sudah dapat merasakan percikan air yang jatuh. M

Menariknya, meski debit airnya cukup tinggi namun di bawah air terjun terdapat kolam alami, sehingga kami bisa bermain air dan mandi.

Sayangnya, fasilitas di sekitar Curug Cileat masih belum memadai. Belum ada toilet atau ruang ganti.

Untungnya, di kawasan ini sudah ada tempat sampah sehingga diharapkan pengunjung tidak membuang sampah di sekitar area air terjun.

Kesimpulannya, jika ingin mencari petualangan di alam yang masih asri dan tidak begitu jauh dari Jakarta atau Bandung, Curug Cileat bisa jadi alternatif. Curug ini belum banyak pengunjung, jadi serasa air terjun milik pribadi.

Menarik kan?

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA