Jakarta - Lim Tju Kwet alias Akwet menjadi pewaris terakhir seni kaligrafi China di Glodok. Menjelang Imlek, pesanannya meningkat, dari kertas hingga papan sembahyang.
Foto Travel
Potret Akwet, Pewaris Terakhir Seni Kaligrafi China di Glodok
Akwet berpose dengan kuas kaligrafi ukuran besar. Ia menjelaskan, terputusnya keahlian menulis kaligrafi China secara manual karena faktor politik (larangan budaya China tahun 60an) hingga pengaruh teknologi (banyak yang memesan dalam bentuk grafis digital).
Akwet menyiapkan kuas untuk membuat kaligrafi. Ia memulai menulis kaligrafi China setelah menamatkan SMA dan berlangsung hingga saat ini. Sekarang usianya 80 tahun.
Β Akwet menunjukkan salah satu contoh kaligrafi yang masih berupa dami atau contoh sebelum ditulis pada media yang dipesan. Dami tersebut untuk memastikan ukuran dan spasi.
Akwet menunjukkan kuas yang dipergunakan dari bulu domba yang dikirim langsung oleh anak-anaknya di Australia. Ia kesulitan mendapatkan bahan baku seperti kuas, tinta dan kertas yang berkualitas di dalam negeri.
Warga melintas di depan gang 'Toko Sanjaya' tempat Akwet membuka jasanya. Toko tersebut pernah dipaksa tutup pada tahun 1965 dan menjadi pengalaman pahit bagi Akwet.
Deretan kanvas dan bekas tinta di meja Akwet. Setiap pesanan kaligrafi di media kertas, dibanderol mulai dari Rp 200.000 tergantung ukuran, tingkat kesulitan dan jumlah huruf.Β
Akwet memegang papan sembahyang yang banyak dipesan menjelang perayaan Imlek. Untuk jasa membuat kaligrafi di papan sembahyang, ia membandrol harga mulai dari Rp 3 juta.












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Dulu Viral, Community Center Pamulang Kini Tak Terawat
Kinerjanya Cuma Diberi Nilai 50 oleh DPR, Apa Kata Menpar Widiyanti?