Potret Akwet, Pewaris Terakhir Seni Kaligrafi China di Glodok

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Foto Travel

Potret Akwet, Pewaris Terakhir Seni Kaligrafi China di Glodok

Ari Saputra - detikTravel
Selasa, 03 Feb 2026 20:00 WIB

Jakarta - Lim Tju Kwet alias Akwet menjadi pewaris terakhir seni kaligrafi China di Glodok. Menjelang Imlek, pesanannya meningkat, dari kertas hingga papan sembahyang.

Akwet berpose dengan kuas kaligrafi ukuran besar. Ia menjelaskan, terputusnya keahlian menulis kaligrafi China secara manual karena faktor politik (larangan budaya China tahun 60an) hingga pengaruh teknologi (banyak yang memesan dalam bentuk grafis digital).

Akwet berpose dengan kuas kaligrafi ukuran besar. Ia menjelaskan, terputusnya keahlian menulis kaligrafi China secara manual karena faktor politik (larangan budaya China tahun 60an) hingga pengaruh teknologi (banyak yang memesan dalam bentuk grafis digital).

Akwet berpose dengan kuas kaligrafi ukuran besar. Ia menjelaskan, terputusnya keahlian menulis kaligrafi China secara manual karena faktor politik (larangan budaya China tahun 60an) hingga pengaruh teknologi (banyak yang memesan dalam bentuk grafis digital).

Akwet menyiapkan kuas untuk membuat kaligrafi. Ia memulai menulis kaligrafi China setelah menamatkan SMA dan berlangsung hingga saat ini. Sekarang usianya 80 tahun.

Akwet berpose dengan kuas kaligrafi ukuran besar. Ia menjelaskan, terputusnya keahlian menulis kaligrafi China secara manual karena faktor politik (larangan budaya China tahun 60an) hingga pengaruh teknologi (banyak yang memesan dalam bentuk grafis digital).

Β Akwet menunjukkan salah satu contoh kaligrafi yang masih berupa dami atau contoh sebelum ditulis pada media yang dipesan. Dami tersebut untuk memastikan ukuran dan spasi.

Akwet berpose dengan kuas kaligrafi ukuran besar. Ia menjelaskan, terputusnya keahlian menulis kaligrafi China secara manual karena faktor politik (larangan budaya China tahun 60an) hingga pengaruh teknologi (banyak yang memesan dalam bentuk grafis digital).

Akwet menunjukkan kuas yang dipergunakan dari bulu domba yang dikirim langsung oleh anak-anaknya di Australia. Ia kesulitan mendapatkan bahan baku seperti kuas, tinta dan kertas yang berkualitas di dalam negeri.

Akwet berpose dengan kuas kaligrafi ukuran besar. Ia menjelaskan, terputusnya keahlian menulis kaligrafi China secara manual karena faktor politik (larangan budaya China tahun 60an) hingga pengaruh teknologi (banyak yang memesan dalam bentuk grafis digital).

Warga melintas di depan gang 'Toko Sanjaya' tempat Akwet membuka jasanya. Toko tersebut pernah dipaksa tutup pada tahun 1965 dan menjadi pengalaman pahit bagi Akwet.

Akwet berpose dengan kuas kaligrafi ukuran besar. Ia menjelaskan, terputusnya keahlian menulis kaligrafi China secara manual karena faktor politik (larangan budaya China tahun 60an) hingga pengaruh teknologi (banyak yang memesan dalam bentuk grafis digital).

Deretan kanvas dan bekas tinta di meja Akwet. Setiap pesanan kaligrafi di media kertas, dibanderol mulai dari Rp 200.000 tergantung ukuran, tingkat kesulitan dan jumlah huruf.Β 

Akwet berpose dengan kuas kaligrafi ukuran besar. Ia menjelaskan, terputusnya keahlian menulis kaligrafi China secara manual karena faktor politik (larangan budaya China tahun 60an) hingga pengaruh teknologi (banyak yang memesan dalam bentuk grafis digital).

Akwet memegang papan sembahyang yang banyak dipesan menjelang perayaan Imlek. Untuk jasa membuat kaligrafi di papan sembahyang, ia membandrol harga mulai dari Rp 3 juta.

Potret Akwet, Pewaris Terakhir Seni Kaligrafi China di Glodok
Potret Akwet, Pewaris Terakhir Seni Kaligrafi China di Glodok
Potret Akwet, Pewaris Terakhir Seni Kaligrafi China di Glodok
Potret Akwet, Pewaris Terakhir Seni Kaligrafi China di Glodok
Potret Akwet, Pewaris Terakhir Seni Kaligrafi China di Glodok
Potret Akwet, Pewaris Terakhir Seni Kaligrafi China di Glodok
Potret Akwet, Pewaris Terakhir Seni Kaligrafi China di Glodok
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads